Dinasti Mamluk Mesir

Dinasti Mamlu>k, salah satu dinasti yang pernah berkuasa dalam konstelasi sejarah peradaban Islam pada abad pertengahan merupakan satu tema yang menarik untuk diperbincangkan kembali. Mengingat abad pertengahan (7-11 H atau 13-17 M) merupakan masa pencarian bentuk sistem politik Islam yang bahkan mungkin juga terjadi hingga sekarang. Pengukuhan pemikiran-pemikiran di bidang sosial dan politik yang lahir sejak masa dinasti-dinasti besar seperti dinasti ‘Umayyah, ‘Abba>siyah dan kesultanan-kesultanan lainnya di dunia Islam baik barat dan timur juga terjadi pada masa ini.

Masa pemerintahan dinasti Mamlu>k sendiri bertahan cukup lama, yaitu sekitar 267 tahun (1250-1517 M). Nilai utama yang diperoleh dari perjalanan sejarah dinasti “budak” di Mesir yang berliku-liku tersebut adalah penegasan terhadap makna persamaan di antara manusia, persamaan kedudukan dan hak bagi semua yang mampu memimpin.  Pada masa masa berdirinya dinasti Mamlu>k, secara universal di dunia Islam dan non-Islam telah diterapkan perbudakan dan permanfaatan tenaga tentara bayaran, namun sejarah dinasti Mamlu>k memiliki keunikan tersendiri. Mereka dibeli dalam jumlah bayaran yang besar dari beberapa kawasan untuk dibebaskan, dididik secara professional untuk menjadi pasukan kesultanan, dan keturunan mereka tidak lagi berstatus budak. Selain itu, dinasti Mamlu>k juga memiliki berbagai sejarah yang unik mulai dari masa perbentukan, kejayaan hingga keruntuhunnya. Tulisan singkat ini berupaya memotret peradaban dinasti Mamlu>k secara umum termasuk sumbangannya terhadap peradaban Islam.

Kelahiran Dinasti Mamlu>k Mesir

Kata “mamlu>k” adalah bentuk tunggal dari kata “mama>lik” yang berarti budak. Dinasti Mamlu>k sendiri memang didirikan oleh para budak. Pada awalnya mereka adalah orang-orang yang direkrut oleh penguasa dinasti Ayyu>biyah sebagai budak, kemudian dididik dan dijadikan tentaranya. Mereka ditempatkan pada kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Oleh penguasa Ayyu>biyah yang terakhir, yaitu al-Ma>lik as-S}a>lih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Pada masa penguasa ini, mereka mendapat hak-hak istimewa, baik dalam karier ketentaraan maupun dalam imbalan-imbalan material. Mereka terdiri dari dua kelompok yaitu Mamlu>k Bah}ri> dan Mamlu>k Buruj atau Burji> yang datang kemudian. Dinamakan Mamlu>k Bah}ri> karena tempat tinggal mereka di Pulau ar-Raud}ah yang terletak di laut (Arab, bah}r) bentangan delta sungai Nil. Sementara dinamakan Mamlu>k Burji> karena mereka menempati benteng-benteng (Arab, burj) di Kairo. Kaum Bah}ri> berasal dari Qipchaq, Rusia Selatan, yang berdarah campuran antara Mongol dan Kurdi, sedangkan Burji> adalah orang-orang Circassia dari Caucasus. Dalam pada itu, peta pemerintahan dinasti Mamlu>k dalam perjalanannya kemudian banyak dikatakan oleh para sejarawan sebagai bentuk penguasaan yang carut marut karena terbagi menjadi dua kekuasaan besar.[1]

Cikal bakal dinasti ini berawal dari seorang mantan budak bernama Syajar ad-Durr, yang kemudian dijadikan sebagai istri oleh al-Ma>lik as-S}a>lih} (1249 M) sebagai penguasa dinasti Ayyu>biyah. Setelah al-Ma>lik as-S}a>lih} wafat, berbagai informasi mengatakan bahwa Syajar ad-Durr kemudian menyandang gelar “sult}a>nah” atau berkedudukan sebagai sultan perempuan selama hampir delapan puluh hari. Pada masa itu ia juga tercatat sebagai satu-satunya penguasa wanita muslim di kawasan Afrika Utara dan Asia Barat, namanya juga diabadikan dalam kepingan mata uang dan disebutkan pada setiap sholat Jum’at. Ia memutuskan untuk menikah lagi dengan Izzuddi>n Aybak, Sultan Mamlu>k pertama (1250-1257 M) yang kemudian justru terbunuh oleh Syajar al-Durr sendiri.[2] Hal ini merupakan awal fondasi kekuasaan dinasti Mamlu>k.

Dari sana dapat dipahami bahwa kelahiran dinasti Mamlu>k tidak terlepas dari dinasti Ayyu>biyah di Mesir yang berkuasa tahun 1169 M sampai akhir abad ke-15 M menggantikan dinasti Fa>t}imiyah. Pendiri dinasti ini adalah S}ala>h}uddi>n. Ia menghapuskan sisa-sisa kekuatan Fa>t}imiyah di Mesir yang bercorak Syi’ah dan mengembalikannya ke faham sunni atau ahl as-sunnah wa al-ja>ma’ah. Reputasi S}ala>h}uddi>n bersinar setelah berhasil melawan tentara Salib dengan mempersatukan pasukan Turki, Kurdi dan Arab. Kota Yerussalem pada tahun 1187 M kembali ke pangkuan Islam dari tangan tentara Salib yang telah menguasainya selama 80 tahun. Perselisihan intern keluarga Ayyu>biyah setelah beliau wafat menyebabkan dinasti besar ini terpecah. Walaupun kekuasaan Ayyu>biyah berlangsung lama tapi tidak semua wilayah bisa ditaklukkan. Di Mesir mereka mampu berkuasa hingga tahun 1252 M hingga kemudian dikalahkan oleh pasukan cikal bakal dinasti Mamlu>k Bah}ri> dan ‘Izzuddi>n Aybak yang dinobatkan sebagai sultan yang pertama pada tahun 1250 M.[3]

Dalam catatan sejarah, Mesir sendiri termasuk salah satu penyimpan berbagai peninggalan peradaban eksotik dunia. Dimulai sejak zaman Pharaonic 3200 SM, kemudian periode Hellenistic yang dimulai ketika Iskandar Agung berhasil mengalahkan Persia 332 SM. Dilanjutkan era Romawi 30 SM dan dekade peradaban Islam yang diprakarsai oleh ‘Amr bin al-‘As} tahun 640 M. Catatan-catatan sejarah yang lain juga mengantarkan Mesir sebagai salah satu kawasan yang sempat dihinggapi oleh beberapa dinasti kenamaan. Sebut saja dinasti T}a>lu>niyah yang didirikan oleh Ah}mad bin T}a>lu>n pada tahun 868-905 M. Kemudian dinasti Ikhs}i>diyah 935-969 M, Fa>t}imiyah 969-1171 M, Ayyu>biyah 1171-1250 M, Mamlu>k 1250-1517 M, Turki ‘Us|ma>ni> 1517-1805 M sampai akhirnya Napoleon Bonaparte berhasil menduduki Mesir pada tahun 1797 yang dikenal dengan ekspedisi Prancis, dan dilanjutkan oleh pemerintahan Muhammad Ali Pasha 1805-1953 M yang akrab disebut sebagai Bapak Mesir modern. Dari situ dapat dikatakan, bahwa Mesir merupakan salah satu pusat peradaban Islam yang mampu bertahan dan terhindar dari keterputusan peradaban. Berbeda halnya dengan pusat kota lain, misalnya Baghdad yang pernah hancur ditangan Mongol, dan Andalusia (Spanyol) yang hancur ditangan Imperium Barat yang diprakarsai oleh Ratu Issabell dan Raja Ferdinand.[4]

Konstelasi Politik Dinasti Mamlu>k

Keberhasilan dinasti Mamlu>k pertama yang terlihat dalam sejarah adalah keberhasilan tokoh-tokoh Mamlu>k mengambil alih kekuasaan pemerintahan Sultan al-Ma>lik al-S}a>lih Najmuddi>n Ayyu>b dengan cara menyingkirkan Pangeran Tauran Syah, yang sudah ditetapkan sebagai putra mahkota Sultan al-Ma>lik as-S}a>lih. Keputusan beberapa tokoh senior Mamlu>k untuk mengambil alih kekuasaan dari keturunan dinasti Ayyu>b merupakan keputusan yang sangat luar biasa sekaligus gambaran kearifan mereka tentang segala hal yang berkaitan dalam bidang pemerintahan. Menjadi luar biasa dalam hal ini adalah karena latar belakang mereka sebagai budak dan orang asing di negeri itu. Setelah Sultan al-Ma>lik as-S}a>lih meninggal dunia, tokoh-tokoh militer Mamlu>k, dalam hal ini Mamlu>k Bah}riyah tidak langsung mengambil alih kekuasaan, tetapi mereka bersepakat untuk menyerahkan jabatan sultan itu kepada Syajarah ad-Dur, janda Sultan al-Ma>lik al-S}a>lih sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Tetapi karena kepemimpinan Syajarah ad-Dur tidak mendapat legitimasi (pengakuan) dari kekhalifahan ‘Abba>siyyah di Bagdad dengan alasan karena ia perempuan, maka terpaksa tokoh-tokoh Mamlu>k mengusulkan seorang sultan laki-laki yaitu ‘Izz ad-Di>n Aybak. Awalnya penobatan Aybak sebagai sultan hanya mendapatkan legitimasi sebagai khalifah saja sementara Syajarah ad-Dur tetap sebagai penentu segala kebijakan dalam pemeritahan. Namun dalam kenyataannya ‘Izz ad-Di>n Aybak dapat memanfaatkan jabatan sultan tersebut dan mampu memonopoli pemerintahan tanpa mengikutsertakan Syajarah ad-Dur yang telah dinikahinya. Dengan sikap monopoli ‘Izz ad-Di>n Aybak dalam menjalankan roda pemerintahan di Mesir, maka berakhirlah pemerintahan Ayyu>biyah di Mesir untuk seterusnya dilanjutkan oleh para Mamlu>k.

Bentuk pemerintahan oligarki militer adalah suatu bentuk pemerintahan yang menerapkan kepemimpinan berdasarkan kekuatan dan pengaruh, bukan melalui garis keturunan. Sistim pemerintahan oligarki militer ini merupakan kreatifitas tokoh-tokoh militer Mamlu>k yang belum pernah berlaku sebelumnya dalam perkembangan politik di pemerintahan Islam. Jika dibandingkan dengan sistim pemerintahan yang dijalankan sebelumnya, yaitu Sistim Monarki dan Sistim Aristokrasi atau pemerintahan para bangsawan, maka sistim pemerintahan Oligarki Militer dapat dikatakan lebih demokratis. Sistim Oligarki Militer lebih mementingkan kecakapan, kecerdasan, dan keahlian dalam peperangan. Sultan yang lemah bisa saja disingkirkan atau diturunkan dari kursi jabatannya oleh seorang Mamlu>k yang lebih kuat dan memiliki pengaruh besar di tengah-tengah masyarakat. Kelebihan lain dari sistim oligarki militer ini adalah tidak adanya istilah senioritas yang berhak atas juniornya untuk menduduki jabatan sultan, melainkan lebih berdasarkan keahlian dan kepiawaian seorang Mamlu>k tersebut.[5]

Pada masa-masa selanjutnya, az}-Z}ahir Rukn ad-Di>n Baybars al-Bunduqdari, selanjutnya disebut Baybars telah membuat suatu peristiwa besar selama pemerintahannya, yaitu dengan melakukan bai’at terhadap al-Mans}u>r (1226-1242) dari bani ‘Abbas sebagai khalifah. Dalam hal ini secara tidak langsung dinasti Mamlu>k di Mesir menghidupkan kembali kekhalifahan ‘Abba>siyyah yang sudah hancur tahun 656 H atau 1258 M di tangan Bangsa Tartar oleh Holago dan bala tentaranya. Usaha menghidupkan kembali kekhalifahan ‘Abba>siyyah di Mesir ini merupakan sebuah kebijakan besar sepanjang sejarah umat Islam, meskipun penobatan itu hanya bersifat politis. Karena sosok khalifah merupakan simbol persatuan. Dengan kecerdasan politiknya, Baybars juga meminta legalitas dari khalifah atas kekuasaannya. Sehingga dengan demikian ia bisa menduduki kursi kesultanan dengan cara terhormat. Setelah dua tahun kehancuran Bagdad, Baybars segera merencanakan untuk mengembalikan khilafah ‘Abba>siyyah. Pada tahun 659 H/1261 M, Baybars mengundang salah seorang keturunan ‘Abba>siyyah yang berhasil lolos dari serangan bangsa Mongol, kemudian Baybars dengan para pembesarnya seperti para Qadhi, pemuka agama serta para Amir bermusyawarah untuk memastikan keabsahan nasab keturunan al-Mustans}i>r, sebagai keturunan ‘Abba>siyyah. Ketika sudah dipastikan keabsahannya, maka segeralah mereka membai’at keturunan ‘Abba>siyyah itu untuk dijadikan khalifah resmi bagi umat Islam dengan gelar al-Mustanshir. Lebih dari hanya sekedar menghidupkan kekhalifahan, Sultan Baybars juga menjatahkan khalifah satu atabak al-‘aska>r dengan kekuatan 1000 prajurit, as-Syarabbi> dengan 500 prajurit, al-Khazindar 200 prajurit, Ustad ad-Da>r (ustadar) dengan 500 prajurit, ad-Dawadar 500 orang. Khalifah juga dibelikan Mamlu>k (budak) sebanyak 100 orang yang difungsikan sebagai jamadar dan silahdar. Setiap orang diberi tiga kuda dan tiga unta. Sultan juga menetapkan tenaga administratif untuk khalifah, seperti kutta>b al-insya>’ (para penulis atau pengarang), sekretaris pribadi khalifah, para ulama, pembantu-pembantu, orang-orang bijak dan tabib-tabib, serta tempat tinggal yang disiagakan dengan kuda, baik yang untuk ditunggangi maupun untuk mengangkut perbekalan dan senjata.[6]

Pada masa kekuasaan Baybars, perubahan demi perubahan mulai dilakukannya dalam segala bidang baik dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam ketentaraan. Ia membangun pemerintahan dengan baik sehingga kesultanan menjadi kuat. Barisan elit militernya didudukkan sebagai elit politis. Jabatan-jabatan penting dipegang oleh anggota militer yang berprestasi. Untuk mendapatkan simpatik dari rakyat Mesir, sebagiamana dinasti Ayyu>biyah, Baybars menghidupkan kembali Mazhab Suni. Baybars juga merupakan sultan Mesir pertama mengangkat empat orang hakim yang mewakili empat madzhab dan mengatur keberangkatan haji secara sistematis dan permanen. Ia juga dikenal sebagai sultan yang saleh dalam soal agama dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Beberapa undang-undang untuk menjunjung tinggi akhlak mulia juga dikeluarkan Baybars, seperti perintah larangan jual beli minuman keras (khamr), menutup tempat-tempat ma’siat dan banyak memenjarakan orang-orang yang berbuat kema’siatan. Di bidang diplomasi Baybars menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang bersahabat yang tidak membahayakan kekuasaanya. Ia memperbaharui hubungan Mesir dengan Constantinopel serta membuka hubungan Mesir dan Cicilia. Selain itu, ia juga menjalin ikatan perdamaian dengan Barke (Baraka), keponakan Hulago Khan yang telah masuk Islam dan berkuasa di Golden Horde atau Kipchak Khanate (wilayah di bagian barat Kerajaan Mongol).[7]

Jika Sultan Baybars telah berhasil menancapkan pundi-pundi pemerintahan dengan kokoh, maka pada masa sultan an-Nas}i>r Nas}i>r-ad-Di>n Muh}ammad ibn Qalawun dapat dianggap sebagai masa-masa menikmati kemakmuran dalam berbagai bidang. Sehingga sultan an-Nas}i>r menjadi sultan yang sangat disenangi oleh masyarakatnya. Sultan an-Nas}i>r sendiri memegang tampuk pemerintahan tiga kali, dengan mengalami dua kali turun tahta. Pertama kali Ia digulingkan oleh panglima angkatan bersenjatanya (atabak) yang bernama al-‘Adi>l Zayn ad-Di>n Kitbugha (1295-1297 M) dan kemudian disusul oleh pemerintahan Sultan al-Mansu>r Husam ad-Di>n Lajin (1297-1299 M) karena usia sultan an-Nas}i>r masih muda yaitu sembilan tahun. Oleh karena al-Mansu>r Lajin tidak memperoleh popularitas di antara para Mamlu>k dan Rakyat, lalu sultan an-Nas}i>r dinobatkan kembali. Sultan an-Nas}i>r kembali turun tahta ketika tokoh yang menjabat sebagai wakil sultan yaitu al-Muz}affar Rukn ad-Di>n Baybars II al-Jashankir (1309-1310 M) berambisi untuk menjadi sultan, akan tetapi atas dukungan Mamlu>k-Mamlu>k di Syam dan masyarakat, akhirnya sultan an-Nas}i>r menjadi sultan hingga akhir hayatnya setelah berkuasa selama 31 tahun berturut-turut. Beberapa sejarawan menyatakan bahwa an-Nas}i>r adalah salah satu sultan dinasti Mamlu>k yang cukup populer karena menjadi sultan yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat baik dalam maupun di luar kesultanannya. Dialah yang telah melindungi Mesir dari jamahan bangsa Mongol, sehingga Mesir selamat dari kehancuran, seperti apa yang telah terjadi pada wilayah-wilayah yang pernah dikuasai oleh tentara Mongol.[8]

Kebijakan-kebijakan politik sultan an-Nas}i>r yang secara nyata memihak masyarakat di antaranya adalah bahwa dia menekan harga barang-barang sehingga tidak menyulitkan masyarakat miskin, banyak menghapus pajak yang sebelumnya menjadi kewajiban sebagian besar penduduk, kemudian menggantinya dengan memungut pajak dari orang-orang yang mempunyai kelebihan harta. Barangkali dari beberapa kebijakan politiknya di atas ia menjadi sangat disenangi oleh seluruh lapisan masyarakat terutama lapisan masyarakat menengah ke bawah. Kota Kairo pada masa sultan an-Nas}i>r ini menjadi ibukota bagi sebuah dinasti yang meliputi Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman. Atas keberhasilan sultan an-Nas}i>r, tahta tetap berada di tangan putra-putra dan cucu-cucunya. Terlihat bahwa sistem suksesi di masa Mamlu>k Bahri umumnya adalah dengan cara turun temurun dari satu jalur silsilah keluarga. Oleh karena itu tepat jika dikatakan bahwa periode ini disebut era Dinasti Qalawun. Namun demikian, sistem suksesi lain, yakni oligarki, tetap menjadi harapan para amir Mamlu>k yang berambisi menjadi sultan.[9]

Beberapa Sumbangan Dinasti Mamlu>k

Ilmu Pengetahuan

Di bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Karena itu, ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan ilmu agama.[10] Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar seperti Syams ad-Di>n Ah}mad Ibn Muh}ammad Ibn Khallika>n dengan karyanya Wafa>yat al-A’ya>n wa Abna>’ az-Zama>n, Abu> al-Mah}a>sin Ibn at-Taghribardi> dengan karyanya an-Nuju>m az-Z}a>hirah fi> Mulu>k Mis}r wa al-Qa>hirah dan Abu> al-Fida>’ dengan Mukhtas}ar Ta>ri>kh al-Basyar. Di bidang astronomi dikenal nama Na>s}ir ad-Di>n at-T}u>si>. Di bidang matematika Abu> al-Faraj al-’Ibri>. Dalam bidang kedokteran Abu> H}asan ‘Ali> ibn an-Nafi>s (w. 1288/1289 M) penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia dengan karyanya Syarh} Tasyri>h} al-Qa>nu>n, ‘Abdul Mun’i>m ad-Dimya>t}i> seorang dokter hewan dengan karyanya Fad}l al-Khayl, dan ar-Ra>zi> seorang perintis psikoterapi. Dalam bidang opthalmologi dikenal nama S}ala>h}uddi>n ibn Yu>suf. Sedangkan dalam bidang ilmu ‘ulu>m ad-di>n (keagamaan) terdapat beberapa nama seperti Taqi>y ad-Di>n Ah}mad Ibn Taimiyyah (1263-1328 M) dengan berbagai karyanya, Jala>l ad-Di>n as-Suyu>t}i> dengan misalnya al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, al-Muz|i>r fi> ‘Ulu>m al-Lughah, H{usn al-Muh}a>d}arah fi> Akhba>r al-Mis}r wa al-Qa>hirah dan ratusan karyanya yang lain, Ibn H}ajar al-‘Asqala>ni> (1372-1449 M) dengan karya-karyanya yang lebih concern dalam bidang hadis. Beberapa nama lain Abu> Bakr ibn al-Munz}ir al-Bayt}ar dengan karyanya Ka>mil S}ia>’atayn: al-Bayt}arah wa az-Zarqat}ah, Muwaffaq ad-Di>n Abu> al-‘Abba>s Ah}mad Ibn Abi> Us}abi’ah (1203-1270 M) dengan karyanya ‘Uyu<n al-Anba>’ fi> T}abaqa>t al-At}ibba>’, Taqi>y ad-Di>n Ah}mad al-Maqri>zi> (1364-1442 M) dengan al-Mawa>’iz} wa al-I’tiba>r fi> Z|ikr al-Khit}at} wa al-As|ar, Syaraf ad-Di>n al-Bu>s}i>ri> (1213-1296 M) dengan karya yang sangat populer bahkan bahkan kepopulerannya juga sampai ke Indonesia, yaitu al-Burdah dan Muh}ammad Ibn Da>niyal al-Khuza>’i> al-Maus}ili> (w. 1310 M) dengan karyanya T}ayf al-Khaya>l fi Ma’rifah az}-Z}ill.[11]

Merpati Pos, alat komunikasi Dinasti Mamlu>k

Guna mencegah invasi pasukan tentara Mongol di bawah komando Hulagu Khan pada abad ke-13 M, para insinyur Mamlu>k membangun menara pengawas di sepanjang rute pos Irak hingga Mesir. Di atas menara pengawas itu selama 24 jam penuh para penjaga telah menyiapkan tanda-tanda bahaya. Jika bahaya mengancam di siang hari, maka petugas akan membakar kayu basah yang dapat mengepulkan asap hitam. Sedangkan di malam hari, petugas akan membakar kayu kering. Upaya itu ternyata tak sepenuhnya berhasil. Tentara Mongol mampu menembus Baghdad dan memporak-porandakan metropolis intelektual itu. Meski begitu, peringatan awal yang ditempatkan di sepanjang rute pos itu juga berhasil mencegah masuknya tentara Mongol ke Kairo. Hanya dalam waktu delapan jam, berita pasukan Mongol akan menyerbu Kairo sudah diperoleh pasukan tentara Muslim. Itu berarti sama dengan waktu yang diperlukan untuk menerima telegram dari Baghdad ke Kairo di era modern. Berkat informasi berantai dari menara pengawas itu, pasukan Mamlu>k mampu memukul mundur tentara Mongol yang akan menginvasi Kairo.[12]

Layanan pos melalui jalur darat pada era kekuasaan dinasti Mamlu>k sempat terhenti ketika pasukan Tentara Salib memblokir rute pos. Sejak saat itu, dinasti Mamlu>k mulai menggunakan merpati pos. Dengan menggunakan burung merpati sebagai pengantar pesan, pasukan Tentara Salib tidak mampu mencegah masuknya pesan dari Kairo ke Irak. Dikatakan juga bahwa merpati pos mampu mengantarkan surat dari Kairo ke Baghdad dalam waktu dua hari. Pada tahun 1300 M dinasti Mamlu>k memiliki tak kurang dari 1.900 merpati pos. Burung merpati itu sudah sangat terlatih dan teruji mampu mengirimkan pesan ke tempat tujuan. Penggunaan merpati untuk mengirimkan pesan sendiri kali pertama diterapkan peradaban Mesir kuno pada tahun 2900 SM. Pada masa kekuasaan Dinasti Mamlu>k, merpati pos juga berfungsi untuk mengirimkan pesanan – pos parsel. Alkisah, penguasa Mamlu>k sangat puas dengan kiriman buah cherry dari Lebanon yang dikirimkan ke Kairo dengan burung merpati. Setiap burung merpati membawa satu biji buah cherry yang dibungkus dengan kain sutera. Pada masa itu sepasang burung merpati pos harganya mencapai 1.000 keping emas. Layanan merpati pos ala Dinasti Mamlu>k itu tercatat sebagai sistem komunikasi yang tercepat di abad pertengahan.[13] Hingga akhirnya, Samuel Morse menemukan telegraf pada tahun 1844 M dan Guglielmo Marconi menciptakan radio.

Arsitektur

Dinasti Mamlu>k juga banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Bangunan-bangunan lain yang didirikan pada masa ini diantaranya adalah rumah sakit, museum, perpustakaan, villa, kubah dan menara masjid. Dalam hal ini peninggalan yang paling mengesankan adalah bangunan-bangunan arsitektural dan artistik. Bahkan disematkan oleh para sejarawan, di era ini pulalah arsitektur Muslim mencapai ekspresi yang paling kaya ornamen. Terbukti pada sejumlah masjid, madrasah, museum yang didirikan oleh Qollawun, an-Na>s}ir, dan al-H}asan. Awalnya, ciri khas yang mendominasi adalah model-model arsitektur periode Nu>rriyah dan Ayyu>biyah. Kemudian mendapat pengaruh baru dari Suriah-Mesopotamia pada abad 13 M, tepatnya ketika Mesir menjadi tempat berlindung para pengrajin dan ahli seni dari Mosul, Bagdad dan Damaskus pasca invasi Mongol.[14]

Beberapa bukti otentik yang dapat dijumpai hingga saat ini misalnya Masjid al-H}asan (1348-1351 M) yang berada persis dibelakang benteng S}alahuddin. Di dalamnya terdapat empat madrasah yang dahulunya digunakan untuk pengajaran empat madzhab fiqh. Kurang lebih 300 meter kearah utara dari sana, tepatnya berada dikawasan Sayyidah ‘A>isyah terdapat juga Masjid Muhammad Ali Pasha yang juga berdampingan dengan Masjid Rifa’i. Masjid Rifa’i sendiri dibangun sekitar enam abad kemudian, tepatnya 1869 M. Di dalamnya terdapat makam Raja Faruq, raja terakhir Mesir yang direvolusi 1952 dan juga makam Syah Iran yang digulingkan 1979 M. Karena memiliki kemegahan yang hampir serupa, masyarakat sering menyebutnya dengan “masjid kembar”.

Beragam bebatuan yang berasal dari Romawi dan Byzantium menjadi ciri istimewa arsitektur periode ini. Hal lain yang mengagumkan adalah pengembangan stalaktif-pendentif (bahasa Arab: muqornas) dan rancangan kubah yang mampu menahan cahaya, termasuk juga untuk penerangan, semakin terlihat megah dengan segala dekorasinya. Dan hal tersebut cukup tercermin dari bangunan Masjid Muayyad, yang terletak di jalan Ahmad Mahir berdampingan dengan Bab Zuwayla, dan dikenal dengan Masjid Merah (Red Mosque). Masjid ini dibangun oleh Sultan Mu’ayyad 1415-1420 M. Pada pintu masuknya terdapat hiasan warna merah ditambah permata, diatasnya terdapat hiasan pahatan dan lengkungan skalaktit. Dan di bagian dalam masjid terdapat makam Sultan Mu’ayyad dan putranya, yang ditutupi batu marmer warna-warni berbentuk pola geometri. Kebiasaan menghubungkan bangunan makam sang pendiri masjid, bermula pada tahun 1085 M oleh Badr al-Jamali. Bangunan makam yang menyatu dengan masjid di bukit Muqattam hasil rancangan Badr itulah yang kemudian menjadi semakin menjamur.[15]

Sedikit berbalik arah menuju jalanan Bab al-Futuh dan Bab Nasr, maka kita akan dapatkan Masjid Barquq sebagai salah satu peninggalan Mama>lik. Konon, disinilah dahulunya Ibnu Khaldu>n melakukan proses belajar mengajar semasa hidupnya di Mesir. Masjid Barquq didirikan 1386 M, sekaligus dengan madrasahnya. Ibnu Khaldu>n banyak berkisah tentang Qollawun, bahwa dia dianggap sebagai Sultan yang banyak melakukan renovasi dalam skala besar. Ia telah membangun rumah sakit yang tersambung dengan masjid dan sekolah yang terletak dijalanan sempit nan eksotik, tepatnya berdekatan dengan Masjid Barquq. Disitu pulalah Qollawun membangun sebuah komplek kuburan bangsawan yang besar dan indah dengan mozaik dan jejak-jejak arabesque yang cantik. Dan yang paling terkenal dari peninggalannya adalah, rumah sakit muslim pertama yang masih ada hingga saat ini. Ia terinspirasi membangun mustasyfa ini ketika Qollawun berbaring sakit di Rumah Sakit Nuri di Damaskus, sehingga ia bertekad untuk segera membangunnya di Kairo. Dalam catatan Maqrizi, Rumah Sakit ini meliputi beberapa ruang khusus pasien dengan penyakit yang berbeda-beda, misalnya, radang mata, disentri, demam dsb. Dan dilengkapi laboratorium, apotik, kamar operasi, dapur dan ruang penyimpanan. Hampir setiap tahunnya mendapatkan subsidi dari pemerintah sebesar satu juta dirham. Sultan sendiri diyakini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, sehingga jubahnya yang berada di museum tersebut disentuh dan dipegang-pegang oleh beberapa masyarakat yang meyakini kuasa penyembuhannya.

Beralih pada peninggalan periode Mamlu>k Burj, misalnya masjid Qayt-bay, Sabil Kutab al-Ghawri dan Masjid Barsbay. Dibawah kekuasaan Mamlu>k Burj, seni tatah semakin banyak diminati, sebagaimana terlihat jelas pada pintu dan mimbar masjid Qayt-bay. Bahwa kerajinan mosaik serta ukiran gading dan pelapisan gaya koptik yang banyak menghiasi masjid ini sejatinya sudah banyak dikenali sejak masa pra Islam. Masjid Qayt-bay terletak di pedalaman kawasan Duwaiqoh atau biasa disebut dengan kawasan pekuburan Duwea. Lebih dekat ketika kita melakukan perjalanan melewati ruas utama Sholah Salim, tepatnya berada di depan gedung Masyikhah al-Azhar, bilangan Darrasah. Masjid ini dihiasi oleh dua warna yang sesuai merah dan putih, kubahnya juga lain dari pada yang lain berhiaskan motif dedaunan dan bunga. Namun, yang paling terkenal peninggalannya adalah, benteng pertahanan yang didirikan di kawasan Alexandria. Sebelum berdirinya benteng tersebut, telah kokoh berdiri disitu sebuah mercusuar yang termasuk keajaiban dunia, dibangun pada tahun 280 M, dan mengalami kehancuran total ketika gempa dasyat melanda kawasan tersebut.[16]

Masjid Baybars juga terletak dikawasan Duwea. Mungkin banyak yang menganggap bahwa kawasan ini hanya terdiri dari pekuburan masyarakat semata. Namun, jika kita telisik lebih lanjut ternyata banyak peninggalan-peninggalan dinasti terdahulu yang berdiri kokoh disana. Masjid ini nampak lain dari masjid Qayt-bay. Arsitekturnya terpengaruh model-model masjid Ibnu Thulun, Hakim Bi Amrillah dan al-Azhar, yaitu bagian tengah yang dibiarkan langsung menengadah ke awan dan tanpa diberi atap. Khas seperti ini juga tercerminkan dalam bangunan-bangunan masjid di Mekah dan Madinah. Tidak hanya masjid saja, namun Baybars membangun madrasah dan beberapa bagian pemakaman yang bersambungan sekaligus dengan masjid. Warna merah putih juga menjadi ciri khas masjid ini.[17]

Penutup

Sebagaimana sekilas diketengahkan, sejarah panjang dinasti Mamlu>k merupakan salah satu bukti bentuk sistem bergulirnya pemerintahan dalam peradaban Islam yang kompleks dalam arti tidak terkungkung pada sistem pemerintahan berbasis keturunan, bahkan tidak juga dominasi agamawan atau aristokrat dimana kalangan budak mampu mengisi sejarah peradaban Islam dengan berbagai sumbangan serta sisi positif dan negatifnya.


[1] Secara keseluruhan, raja atau sultan dinasti Mamlu>k berjumlah 47 orang. Masing-masing 24 orang dari Mamlu>k Bah}ri> tidak termasuk Syajarah ad-Dur dan dari keluarga Bani ‘Abba>s yang pernah dibai’at. 23 orang dari Mamlu>k Burji> yang dua diantaranya berasal dari Yunani. Dikutip dari http://en.wikipdia.org/diakses 20 Mei, 2011.

Bahri Dynasty

Burji Dynasty

No

Nama

Tahun

Nama

Tahun

1 Syajar ad-Durr 1250 az}-Z}a>hir Saif ad-Di>n Barquq 1st 1382
2 Muizz ‘Izz ad-Di>n Aybak 1250 as-S}a>lih} S}alah} Zein ad-Di>n Hajji II 2nd 1389
3 al-Mansu>r Nur ad-Di>n ‘Ali> 1257 az}-Z}ahir Saif ad-Di>n Barquq 2nd 1390
4 al-Muz}affar Saif ad-Di>n Qutuz 1259 an-Na>s}ir Na>s}ir ad-Di>n Faraj 1st 1399
5 az}-Z}ahir Rukn ad-Di>n Baybars al-Bunduqdari 1260 al-Mansu>r AzzadDi>n Abd al-‘Azi>z 1405
6 Sa’i>d Nasir ad-Di>n Barakah Khan 1277 an-Na>s}ir Na>s}ir ad-Di>n Faraj 2nd 1405
7 al-‘Adi>l Badr ad-Di>n Solamish 1280 al-‘A>dil al-Musta’i>n 1412
8 al-Mansu>r Saif ad-Di>n Qalawun al-Alfi 1280 al-Mu’ayyad Sayf ad-Di>n Syaikh 1412
9 al-Asyraf S}alah} ad-Di>n Khali>l 1290 al-Muz}affar Ah}mad 1421
10 an-Nas}i>r Nas}i>r-ad-Di>n Muh}ammad ibn Qalawun 1st 1294 az-Z}a>hir Saif ad-Di>n Tatar 1421
11 al-‘Adi>l Zayn ad-Di>n Kitbugha 1295 as-S}a>lih} Nasir ad-Di>n Muh}ammad 1421
12 al-Mansu>r Husam ad-Di>n Lajin 1297 al-Asyraf Sayf ad-Di>n Barsbay 1422
13 an-Nas}i>r Nas}i>r-ad-Di>n Muh}ammad ibn Qalawun 2nd 1299 al-‘Azi>z Jama>l ad-Di>n Yu>suf 1438
14 al-Muz}affar Rukn ad-Di>n Baybars II al-Jashankir 1309 az-Z}a>hir Sayf ad-Di>n Jaqmaq 1438
15 an-Nas}i>r Nas}i>r-ad-Di>n Muh}ammad ibn Qalawun 3rd 1310 al-Mansu>r Fah}r ad-Di>n ‘Us|ma>n 1453
16 al-Mansu>r Saif-ad-Di>n Abu> Bakr 1340 al-Asyra>f Sayf ad-Di>n Enal 1453
17 al-Asyraf Ala’a ad-Di>n Kujuk 1341 al-Mu’ayyad Syiha>b ad-Di>n Ah}mad 1461
18 an-Nas}i>r Syihab ad-Di>n Ah}mad 1342 az-Z}a>hir Sayf ad-Di>n Khushkadam 1461
19 as-S}a>lih} ‘Ima>d ad-Di>n ‘Isma>’i>l 1342 az-Z}a>hir Sayf ad-Di>n Belbay 1467
20 al-Ka>mil Saif ad-Di>n Syaban 1345 az-Z}a>hir Temurbougha 1468
21 al-Muz}affar Zein-ad-Di>n Hajji 1346 al-Asyra>f Sayf ad-Di>n Qaitbay 1468
22 an-Nas}i>r Badr-ad-Di>n Abu al-Ma’a>li> al-H}asan 1st 1347 an-Na>s}ir Muh}ammad 1496
23 as-S}a>lih} S}alah} ad-Di>n Ibn Muh}ammad 1351 az-Z}a>hir Qanshaw 1498
24 an-Nas}i>r Badr-ad-Di>n Abu al-Ma’a>li> al-H}asan 2nd 1354 al-Asyra>f Janbulat 1500
25 al-Mansu>r S}alah} ad-Di>n Moh}amed Ibn Hajji 1361 al-‘A>dil Sayf ad-Di>n Tuman bay I 1501
26 al-Asyra>f Zein ad-Di>n Abu> al-Ma’a>li ibn Syaban 1363 al-Asyra>f Qansuh al-Ghawri 1501
27 al-Mansu>r ‘Ala ad-Di>n ‘Ali> Ibn al-Asyra>f Syaban 1376 al-Asyra>f Tuman bay II 1517
28 as-S}a>lih} S}alah} Zein ad-Di>n Hajji II 1st 1382

[2] E. Geoffroy, The Encyclopedia of Islam (Leiden: Brill, 1997), Vol. IX, hlm. 913.

[3] E. Geoffroy, The Encyclopedia of Islam…, hlm. 920.

[4] Brockelmann,  E. J. Brill’s First Encyclopaedia of Islam 1913-1936 (Leiden: Brill, 1987), Vol. VII, hlm. 573.

[5] Brockelmann,  E. J. Brill’s First Encyclopaedia…, hlm. 580.

[6] Philip K. Hitti, History of The Arabs: Rujukan Induk dan paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam, terj. R. Cecep Lukman (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 88.

[7] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 549.

[8] Peter M. Holt, Early Mamlu>k Diplomacy [1260-1290]: Treaties of Baybars and Qalawun with Christian Rulers (Leiden: Brill, 1990), hlm. 241.

[9] Reuven Amitai-Preiss, Mongols and Mamlu>ks: the Mamlu>k – Ilkhanid War 1260 – 1281 (Cambridge University Press, 1984), hlm. 20.

[10] Peter M. Holt, Early Mamlu>k Diplomacy…, hlm. 320.

[11] Philip K. Hitti, History of The Arabs, hlm. 88.

[12] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam…, hlm. 549.

[13] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam…, hlm. 549.

[14] Philip K. Hitti, History of The Arabs, hlm. 97.

[15] Yulianto Sumalyo, Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006), hlm. 300.

[16] Yulianto Sumalyo, Arsitektur Mesjid …, hlm. 300.

[17] Yulianto Sumalyo, Arsitektur Mesjid …, hlm. 305.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: