Konversi Agama Dalam al-Qur’an

Pendahuluan

Seiring berjalannya waktu, upaya untuk meletakkan teks keagamaan [al-Qur’an] sebagai objek kajian ilmiah tampaknya bukan hal yang tidak mungkin dan mustahil dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari maraknya kajian-kajian keagamaan dengan sumber langsung dari teks-teks keagamaan yang di eksplorasi dengan metode dan pendekatan dengan berbagai disiplin ilmu kekinian. Beberapa diantaranya adalah Hermeneutika, yang awalnya digunakan sebagai metode analisis bible dengan pendekatan bahasa. Namun dalam perjalanannya hermeneutika juga digunakan sebagai metode analisis al-Qur’an. Psikologi secara umum di pahami sebagai cabang dari filsafat,[1] yang secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan emosi. Namun dalam perjalanannya objek kajian psikologi bergeser kedalam wilayah agama sehingga muncul psikologi agama sebagai cabang dari psikologi itu sendiri. Sedangkan perhatian bagi psikologi agama meliputi: bentuk-bentuk institusional agama, arti personal terhadap bentuk institusional dan hubungan agama dengan struktur kepribadian.[2] Dalam tulisan ini akan sedikit dibahas mengenai konversi agama [perpindahan agama/pertaubatan] yang menurut Dr. Jalaludin dalam psikologi agama dikategorikan dalam bab tingkah laku keagamaan yang menyimpang.

Pengertian

Konversi Agama [religious conversion] secara umum dapat diartikan dengan berubah agama atau masuk agama. Secara etimologi konversi berasal dari kata conversio yang berarti: taubat, pindah, berubah (agama). Sedangkan secara terminologi konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan sebelumnya (Max Heirich).[3]

Konversi agama memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:

  1. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
  2. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
  3. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain tetapi juga perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
  4. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itu pun disebabkan faktor petunjuk dari yang Maha Kuasa.

Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama

Beberapa ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi. William James dalam bukunya “The varietes of religious experience” dan Max Heirich dalam bukunya “change of heart” banyak menguraikan faktor yang mendorong terjadinya konversi agama tersebut.

Dalam buku tersebut diuraikan pendapat para ahli yang terlibat dalam berbagai disiplin ilmu. Masing-masing mengemukakan pendapat bahwa konversi agama disebabkan faktor yang cenderung di dominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni.

  1. Para ahli agama mengatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supranatural berperanan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.
  2. Para ahli sosiologi berpendapat yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial.
  3. Para ahli psikologi berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern. Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologis kehidupan batin seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang terang dan tenteram.

Dalam uraian William james yang meneliti pengalaman berbagai tokoh yang mengalami konversi agam menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul presepsi baru, dalam suatu bentuk ide yang bersemi secara mantap.
  2. Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak tanpa suatu proses.

Berdasarkan gejala tersebut maka dengan meminjam istilah yang digunakan starbuck ia membagi konversi agama menjadi dua tipe yaitu :

Tipe Volitional

Konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi secara berproses sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang demikian itu sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran.

Tipe Self-Surrender [Perubahan Drastis]

Konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi sevcara mrndadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan ini pun dapat terjdi dari kondisi yang tidak taat menjadi lebih taat, dari tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya. Pada konversi tipekedua ini William James mengakui adanya petunjuk dari Yang Maha Kuasa terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri seseorang sehingga ia menerima kondisis yang baru dengan pencerahan jiwa sepenuh-penuhnya. Jadi ada semacam petunjuk [hidayah] dari Tuhan.

Proses Konversi Agama

Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Segala bentuk kehidupan batin yang semula mempunyai pola sendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya secara spontan ditinggalkan sama sekali. Muncul gejala baru berupa perasaan serba tidak lengkap dan tidak sempurna, perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.

Perasaan yang berlawanan itu menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga untuk mengatasi kesulitan tersebut harus dicari jalan penyalurannya. Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya bila yang bersangkutan telah mampu mamilih pandangan hidup yang baru dalam kehidupan selanjutnya.

Sebagai hasil dari pemilihannya terhadap pandangan hidup itu maka seseorang tersebut bersedia dan mampu untuk memaktikan diri kepada tuntutan-tuntutan dari peraturan-peraturan dalam pandangan hidup yang dipilihnya. Makin kuat keyakinannya terhadap kebenaran pandangan hidup itu akan semakin tinggi pula nilai bakti yag diberikannya.

Konversi Agama [Taubat] dalam al-Qur’an

Kata taubah dalam bentuk توبة (Taubat) dalam al-Qur’an hanya terulang sebanyak 6 kali.[4] Banyak bentuk-bentuk lain kata taubah dalam al-Qur’an namun karena keterbatasan tidak mampu kami sampaikan dalam makalah ini.

Makna taubat sebenarnya adalah penyesalan diri terhadap segala perilaku jahat yang telah dilakuan dimasa lalu. Menjauhkan diri dari segala tindakan maksiat dan melenyapkan semua dorongan nafsu ammarah yang dapat mengarahkan seseorang kepada tindakan kejahatan. Dalam al-Qur’an disebutkan :

Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa’ : 17)

Dengan demikian, orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu. dan orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak. Orang yang melakukan kejahatan Karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau Karena dorongan hawa nafsu.

Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu Telah kami sediakan siksa yang pedih. (An-Nisa’ : 18)

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (At-Taubah : 104)

Taubat juga bermakna kembali ke asal. Yaitu dengan taubat membuat jiwa seseorang kembali sesuai dengan kodrat asalnya yang fitri. Dengan kata lain, seseorang dapat mengendalikan stabilitas akal dan nafsunya sehingga tidak mudah menyerahkan dirinya pada keinginan nafsunya. Hal ini bukan berarti bahwa seorang harus sama sekali meninggalkan kehidupan duniawi, namun ia tidak boleh terlena sehingga menyerahkan diri dan menggantungkannya pada hal-hal yang bersifat duniawi. Seseorang dituntut untuk membebaskan dirinya dari segala sesuatu yang dapat menjadikannya terbelenggu dan tidak dapat menjalankan aktifitas idealnya secara bebas dan fitri.

Dalam tradisi tasawwuf, taubah dikategorikan dalam tiga tingkatan. Pertama, taubat bagi kalangan awwam yakni taubat pada tingkatan yang paling dasar. Dimana seseorang melakukan taubat dituntut untuk memenuhi persyaratan yang paling minimal. Yaitu menyesali segala perilaku kesalahan yang telah dilakukan, dengan sepenuh hati, serta meninggalkan perilaku kesalahan tersebut untuk selamanya. Lebih dari itu, juga harus diikuti dengan keyakinan untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika perilaku kesalahan tersebut berhubungan dengan sesama manusia, maka dia harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Dan apabila berkaitan dengan harta benda, ia harus mengembalikannya. Dengan kata lain, taubat pada tingkatan pertama berarti kembali dari kemaksiatan atau kejahatan menuju kebaikan.

Pada tingkatan kedua, taubat kembali dari yang baik menuju yang lebih baik. Seseorang yang bertaubat pada tingkatan ini dituntut untuk kembali dari perbuatan yang lebih baik menuju yang terbaik. Dalam dirinya ada semangat untuk senantiasa meningkatkan kadar kebaikan dan ketaatannya untuk menjadi lebih baik lagi dan lebih taat lagi.

Adapun taubat yang ketiga yaitu kembali dari yang terbaik menuju kepada Allah. Pada tingkatan ini seorang yang bertaubat akan berbuat yang terbaik dengan tanpa motivasi apapun kecuali karena Allah dan untuk Allah. Seorang yang pada tingkatan ini secara otomatis adalah orang yang mencapai derajat wara’.[5]


[1] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 7.

[2] Materi yang disampaikan dalam kuliah Psikologi Agama.

[3] Jalaludin, Psikologi Agama, hlm. 245-246.

[4] Muhammad Abdul Baqi, Mu’jam Mufahras li-alfadz al-Qur’an (Beirut: Dar al-Fikr, 1981), hlm. 157.

[5] Hasyim Muhammad, Dialog antara Tasawwuf dan Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 29-31.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s