Pemikiran Hadits Mahmud Abu Rayyah

A. Pendahuluan

Hadits adalah kumpulan informasi mengenai segala perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi.[1] Sedangakan Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, yang didasarkan baik pada perbuatan ataupun hanya persetujuan Nabi. Apa yang tertulis dalam hadits tidak semuanya dapat dikatakan Sunnah. Tetapi Sunnah juga tidak semuanya terekam dalam Hadits.[2] Dalam perjalanannya, konflik politik internal ummat Islam dalam beberapa masa membuat Hadits mengalami banyak distorsi bahkan lebih jauh juga mengalami pemalsuan-pemalsuan.[3]

Sejak Abad 14 H sampai sekarang sering kali disebut-sebut sebagai era kebangkitan studi hadits [pemikiran hadits] yang kedua setelah stagnan sekitar Abad 10 – 14 H. Selain menuai tanggapan positif Hal ini juga banyak ditanggapi negatif oleh beberapa pihak yang menganggap gerakan ini sebagai Aliran Inkar-Sunnah Modern. Gerakan pembaharuan ini pertama kali di lontarkan oleh Muhammad Abduh [1266-132 H / 1849-1905 M].[4]

Dalam perkembangannya banyak Tokoh pemikiran-pemikiran dalam studi hadits kontemporer yang muncul setelah masa Muhammad Abduh, diantaranya adalah Mahmud Abu Rayyah, yang pemikirannya banyak dipengaruhi dan merujuk pada pendapat Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Dalam makalah ini akan dituliskan beberapa data yang berhasil dihimpun mengenai Mahmud Abu Rayyah dan karyanya yang cukup kontroversial.

B. Biografi & Garis Besar Pemikiran

Mahmud Abu Rayyah adalah salah satu Intelektual Muslim kontroversial asal Mesir yang pemikirannya sering di kategorikan sebagai pemikiran Inkar as-Sunnah Modern yang  generasi awalnya  di motori oleh Muhammad Abduh. Pada usia muda Abu Rayyah mengikuti pendidikan pada Madrasah Ad-Da’wah wal Irsyad, lembaga dakwah yang didirikan oleh Muhammad Rasyid Ridha.[5] Abu Rayyah juga mengikuti kursus Teologi lokal.

Kajian dan penelitian Abu Rayyah terhadap sunnah diawali ketika dia menemukan Hadits-hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Menurut Abu Rayyah banyak Hadits yang tidak relevan ketika dikaji isi atau kandungan matn-nya meskipun Hadits tersebut shahih dalam periwayatannya. Diantara Hadits tersebut berbunyi : Pertama : “Bila Setan mendengar seruan untuk Shalat, maka dia lari seraya terkentut-kentut”.  Kedua : “Barangsiapa yang mengatakan: Tiadak ada Tuhan selain Allah akan masuk surga. Adapun pertanyaan para Sahabat tentang apakah pintu surga akan dibuka bagi orang yang mengucapkannya tetapi ia berzina dan berzina dan mencuri, nabi mengiyakannya.[6] Meskipun Shahih menurut sanadnya, akan tetapi secara etika Hadits tersebut sulit untuk diakui. Apakah Nabi benar-benar menggunakan kata-kata yang kurang sopan. Abu Rayyah tidak menyangkal nilai tinggi sebuah Hadits shahih. Seandainya saja perkataan Nabi, tanpa distorsi atau perubahan, dapat diperoleh dalam edisi yang andal.[7]

Bergeser dari temuan-temuannya dalam Hadits riwayat Abu Hurairah, Abu Rayyah mulai mengkritik Ulama-ulama yang melakukan studi literatur Hadits hanya berkutat pada permasalahan Fiqih empat madzhab. Menurut Abu Rayyah, para Ulama lebih tunduk kepada aturan fiqih dari sebuah hadits daripada kepada hadits itu sendiri, menjadikan taqlid dalam mempelajari fiqih itu wajib dan dengan buta mengikuti Ijma’. Selain itu Abu Rayyah juga menyesalkan bahwa para ulama masih menggunakan kritik isnad sebagai satu-satunya pendakatan kritis terhadap Hadits seperti yang lazim digunakan pada abad pertengahan. Hal ini membuktikan bahwa para Ulama Hadits tidak terlalu memperhatikan kritik tekstual atau kritik matan.

Puncaknya, Pada tahun 1958 Abu Rayyah menerbitkan buku Adhwa’ ‘ala as-Sunnah al-Muhammadiyah. Buku tersebut berisi kajian hadits yang pada beberapa Bab diantaranya membahas tentang sebagian dari Kitab-kitab Hadits yang diduga atau menurut Abu Rayyah Tidak menyampaikan kata-kata dan perbuatan Nabi Saw., namun merupakan suatu rekayasa yang dilakukan oleh orang-orang sezaman dengan Nabi dan generasi-generasi sesudahnya untuk menciptakan Hadits. Lebih jauh menurutnya Hadits Ahad tidak boleh diberlakukan pada komunitas Muslim sepanjang zaman, jika Hadits tersebut tidak dipraktikkan oleh generasi Islam terdahulu. Dalam Buku tersebut Abu Rayyah juga banyak menggunakan banyak argumen yang terkadang diambil dari disiplin ilmu modern. Selain itu Dalam bukunya, Abu Rayyah juga mengungkapkan kritik luar biasa kepada Abu Hurairah yang selanjutnya kritik Abu Rayyah ini dianggap sebagai pencelaan terhadap Abu Hurairah. Sehingga dalam perjalanannya tidak kurang dari 9 Kitab dan  artikel diterbitkan sebagai sanggahan, bantahan bahkan kecaman yang ditujukan kepada karya Abu Rayyah ini. Diantaranya oleh:

  1. Muhammad Abu Syuhbah dalam Majallat al-Azhar
  2. Muhammad as-Samahi dalam Abu Hurairah fil Mizan
  3. Musthafa as-Siba’i dkk dalam kumpulan esai Difa’ ‘an al-Hadits an-Nabawi wa-Tafnid Syubhat Khushumihi.
  4. Abdu ar-Razzaq dalam Zhulumat Abi Rayyah Imam Adhqa’ as-Sunnah al-Muhammadiyah
  5. Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi al-Yamani dalam al-Anwar al-Kasyifah li ma fi Kitab Adhwa’ ‘alas-Sunnah min az-Zalal wat-Tadhil wal-Mujazafah
  6. Musthafa as-Siba’i dalam As-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri’
  7. Muhammad Ajjaj al-Khathib dalam Abu Hurairah Rawiyat al-Islam dan As-Sunnah Qablat-Tadwin
  8. Muhammad Abu Zahrah dalam berbagai tulisan.[8]

C. Pengaruh Pemikiran

Pemikiran Abu Rayyah banyak dipengaruhi oleh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha karena Sejak muda Abu Rayyah telah mengagumi pemikiran kedua tokoh tersebut. Abu Rayyah juga mengenyam pendidikan pada lembaga yang didirikan oleh Rasyid Ridha. Gagasan Abduh tentang Taqlid jugalah yang membuat Abu Rayyah tertarik untuk mengkaji Hadits-hadits Nabi.

Abu Rayyah melakukan penelitain tanpa tunduk kepada teori-teori para Ulama dan Sarjana yang lebih senior.

Dalam menyusun Adhwa’ ala as-Sunnah al-Muhammadiyah Abu Rayyah banyak menggunakan argumen yang diambil dari disiplin modern, menganggap hadits yang bertentangan sains adalah dha’if [9] namun tidak patut dicurigai bahwa abu Rayyah terpengaruh pemikiran atau teori-teori Orientalis karena menurut pengakuannya, bahwa dia tidak mengerti bahasa lain selain bahasa Arab dan tidak pernah mendengar nama tokoh orientalis yang telah melakukan penelitian Hadits.

Secara umum Pemikiran Abu Rayyah Tidak jauh bebeda dengan Rasyid Ridha karena dia tidak merumuskan sebuah pendapat yang berbeda secara esensial. Perbedaan esensial pemikiran Rasyid Ridha dan Abu Rayyah hanya pada pendapat tentang Abu Hurairah.


[1] Lihat,  M.  Alawi al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 3-5.

[2] Sibawaihi, Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman (Yogyakarta: Jalasutra, 2007), hlm. 45.

[3] Lihat Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 2007),  hlm.12.

[4] Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), hlm. 47.

[5] G. H. A. Juynboll, Kontroversi Hadis Nabi di Mesir (Bandung: Mizaan, 1999), hlm. 59.

[6] Sibawaihi, Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman, hlm.47.

[7] G. H. A. Juynboll, Kontroversi Hadis Nabi di Mesir. hlm. 58.

[8] G. H. A. Juynboll, Kontroversi Hadis Nabi di Mesir, hlm. 60.

[9] Majalah Hermeneutik, (Kudus: STAIN Kudus, 2006), Volume 1, Nomor 1, hlm. 55.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: