Pemikiran Tafsir ‘A’isyah Abdurrahman Bintusy-Syathi’

Pengantar

Sebagaimana diketahui bersama, al-Qur’an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, selain di baca al-Qur’an juga harus dikaji, di hayati dan di amalkan. Al-Qur’an merupakan maha karya, sehingga tidak terhitung lagi karya tafsir sejak masa awal islam hingga saat ini yang pernah di susun untuk memahami kandungannya.

Dalam peta ilmu-ilmu keislaman, ilmu tafsir termasuk ilmu yang belum matang sehingga selalu terbuka untuk dikembangkan. Sejarah perkembangan tafsir al-Qur’an secara garis besar dapat dibedakan menjadi tafsir pra-modern dan tafsir modern. Dengan bergulir dan berkembangnya zaman, muncul tafsir-tafsir baru beserta pemikirannya yang mencoba mengkritisi metode dan prinsip tafsir yang di gunakan oleh ulama’-ulama klasik bahkan tidak sedikit yang memunculkan konsep-konsep baru yang sesuai dengan zaman.

Dalam makalah ini akan sedikit dibahas tentang pemikiran ‘A’isyah Abdurrahman Bintusy-syathi’ yang merupakan salah satu dari sedikit tokoh mufassirah wanita kontemporer yang pernah ada beserta kontribusinya terhadap kajian tafsir atas al-Qur’an.

Biografi

‘A’isyah Abdurrahman (wafat Desember 1998)[1], kemudian dikenal dengan nama Bintusy-Syathi’sebagai nama pena ketika menulis[2]. Dilahirkan di Dumyat sebelah barat delta sungai Nil ditengah keluarga muslim yang taat dan shaleh. Menyelesaikan seluruh jenjang pendidikannya di Universitas Fuad I Kairo sehingga memperoleh gelar guru besar studi tafsir dan sastra al-Qur’an. Tahun 1970 memperoleh gelar Profesor di Universitas Ain Syams Mesir, menjadi professor tamu pada universitas Umm Durman Sudan, Universitas Qarawiyyin Maroko.

Karyanya-karyanya yang telah dipublikasikan meliputi studinya mengenai Abu A’la al-Ma’ari, Al-Khansa, Biografi Ibunda Nabi saw, istri-istri, anak-anak perempuannya, serta cucu dan buyut perempuannya. Sedangkan karyanya dalam bidang tafsir adalah Al-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-KarimVolume I (1962) dan Volume kedua (1969)[3]. namun seperti diakuinya hampir secara keseluruhan metode dalam menafsirkan al-Qur’an yang digunakan oleh Bintusy-Syathi’ adalah metode yang diperoleh dari guru besarnya dan kemudian belakangan menjadi suaminya Amin al-Khuli (wafat yahun 1966).

Konsep mengenai tafsir

Telah disebutkan sebelumnya bahwa metode yang digunakan Bintusy-syathi’ diperoleh dari guru dan suaminya, namun perlu disampaikan beberapa konsepnya  konsepnya bahwa :

  1. Seperti yang dikemukakan oleh ulama’ klasik bahwa al-Qur’am menjelaskan dirinya sendiri dengan dirinya sendiri [tafsir ayat dengan ayat].
  2. Al-Qur’an harus di pelajari dan dipahami dalam keseluruhannya sebagai suatu kesatuan dengan karakteristik-karakteristik ungkapan dan gaya bahasa yang khas.
  3. Penerimaan atas keterangan sejarah mengenai kandungan al-Qur’an tanpa menghilangkan keabadiannya.
  4. Proses dedukatif digunakan untuk menemukan makna fenomena linguistik dan gaya al-Qur’an yang tersatukan secara kronologis sebagai bagian-bagian suatu keseluruhan telah terbukti sebagai petunjuk paling memadai untuk membawa kita pada makna Qur’ani fenomena-fenomena tersebut, dan bahwa fenomena-fenomena itu secara keseluruhan bersifat konsisten.
  5. Asbab an-Nuzul bukan sebagai sebab atau tujuan turunnya wahyu akan tetapi merupakan kondisi-kondisi eksternal dari pewahyuan. Penekanan diletakkan pada universalitas makna bukan pada kekhususan kondisi tersebut.

Metode penafsiran

Dalam pengantar terjemahan tafsir Bintusy-syathi’ Volume I edisi bahasa Indonesia-nya, Issa J. Boullata menyebutkan bahwa Bintusy-syathi’ mengikhtisarkan prinsip-prinsip metode seperti yang di tulis al-Khuli dalam Manahij Tajdid (Kairo : Dar Al-Ma’arif, 1961) kedalam empat prinsip :

  1. Memperlakukan apa yang ingin dipahami dari al-Qur’an secara objektif, hal ini di mulai dengan mengumpulkan semua surat dan ayat mengenai topik yang ingin dipelajari.
  2. Untuk memahami gagasan tertentu yang terkandung di dalam al-Qur’an menurut konteksnya, ayat-ayat disekitar gagasan itu harus disusun menurut tatanan kronologis pewahyuannya, hingga keterangan-keterangan mengenai wahyu dan tempat dapat diketahui. Riwayat-riwayat tradisional mengenai “peristiwa pewahyuan” dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan hanya sejauh dalam pengertian bahwa peristiwa-peristiwa itu merupakan keterangan-keterangan kontekstual yang berkaitan dengan pewahyuan suatu ayat, sebab peristiwa-peristiwa itu bukanlah tujuan atau sebab sine qua non (syarat mtlak) kenapa pewahyuan terjadi. Pentingnya pewahyuan terletak pada generalisasi kata-kata yang digunakan, bukan pada kekhususan peristiwa pewahyuannya.
  3. Karena bahasa arab adalah bahasa yang digunakan dalam al-Qur’an, maka untuk memahami kata-kata yang dimuat dalam kitab suci itu harus dicari arti linguistic aslinya yang memiliki rasa kearaban kata tersebut dalam berbagai penggunaan material dan figuratifnya. Dengan demikian, makna al-Qur’an diusut melalui pengumpulan seluruh bentuk kata di dalam al-Qur’an, dan mempelajari konteks spesifik itu dalam ayat-ayat dan surat-surat tertentu serta konteks umumnya dalam al-Qur’an.
  4. untuk memahami pernyataan-pernyataan yang sulit, naskah yang ada dalam susunan al-Qur’an itu di pelajari untuk mengetahui kemungkinan maksudnya. Baik bentuk lahir teks maupun semangat teks itu harus diperhatikan. Apa yang dikatakan oleh para mufassir, dengan demikian, diuji kaitannya dengan naskah yang sedang dipelajari, dan hanya yang sejalab dengan naskah yang diterima. Seluruh penafsiran yang bersifat sectarian daan Israiliyyat (materi-materi yahudi dan Kristen) yang mengacaukan, yang biasanya dipaksakan masuk kedalam tafsir al-Qur’an, harus disingkirkan. Dengan cara yang sama penggunaan tata-bahasa dan retorika dalam al-Qur’an harus dipandang sebagai criteria yang dengannya kaidah-kaidah para ahli tata bahasa dan retorika harus dinilai, bukan sebaliknya; sebab bagi kebanyakan ahli, bahasa aarab merupakan hasil capaian dan bukan bersifat alamiah[4].

Sedangkan dalam Buku Studi Tafsir Kontemporer pada Judul : Mengenal pemikiran Bintusy-syathi’ yang di tulis oleh Muhammad Yusron, Metode dan prinsip yang digunakan oleh Bintusy-syathi’ adalah :

  1. Sebagian ayat al-Qur’an menafsirkan sebagian ayat yang lain.
  2. Metode munasabah, yaitu mengaitkan kata atau ayat dengan kata atau ayat yang ada didekatnya.
  3. Ibrah atau ketentuan sesuatu masalah berdasar atas bunyi umumnya lafadz atau teks, bukan karena adanya sebab khusus.
  4. Keyakinan bahwa kata-kata arab dalam al-Qur’an tidak ada sinonim. Satu kata hanya mempunyai satu makna. Karena akan menghilangkan efektifitas, ketepatan, keindahan dan esensinya[5].

Aplikasi

  1. Kata kerja dalam deskripsi-deskripsi al-Qur’an disekitar peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari kiamat, baik dalam bentuk pasif (majhul) ataupun lainnya, tindakan pada katakata kerja tersebut dinisbahkan bukan kepada pelaku aktualnya, dengan menggunakan bentuk-bentuk VII dan VIII (Muthawa’ah) dan dengan penyifatan metonimik (isnad majazi)[6].
  2. Penggunaan wawu dalam sumpah untuk menarik perhatian[7].
  3. Persoalan Asbab al-Nuzul. Seperti Muhammad Abduh, Bintusy-syathi’ sengaja menghindari pembicaraan atas perbedaan pendapat di kalangan ahli tafsir.  Asbab al-Nuzul tidak lebih dari hanya sekedar suatu kejadian yang berhubungan dengan teks al-Qur’an.

[1] Sahiron Syamsuddin, An Examination of Bint al-Shathi’ Method of Interpreting the Qur’an (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1999), hlm. iii.

[2] Muhammad Yusron, Studi Kitab Tafsir Kontemporer, hlm. 24.

[3] Ibid

[4] ‘A’isyah Abdurrahman, Tafsir Bintusy-syathi’ terj. Mudzakir Abdussalam (Bandung : Mizan, 1996), hlm. 12.

[5] Muhammad Yusron, Studi Kitab Tafsir Kontemporer, hlm. 25.

[6] A’isyah Abdurrahman, Tafsir Bintusy-syathi’, hlm. 22.

[7] Muhammad Yusron, Studi Kitab Tafsir Kontemporer, hlm. 44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s