Sebuah Pengantar Madzhahibut Tafsir

Pendahuluan

Al-Qur’an adalah wahyu Allah, petunjuk dalam bahasa simbol dan berisikan pesan-pesan yang bersifat universal, absolut dan mutlak kebenarannya. Al-Qur’an diturunkan sebagai bentuk dialektika dan respons terhadap kondisi dan situasi sosial, politik dan religius bangsa Arab pada masa itu[1], hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an tidak turun dalam ruang dan waktu kosong tanpa konteks. Nabi Muhammad saw. bukan hanya sebagai penerima pertama al-Qur’an, tetapi  juga sebagai penafsir pertama dimana kondisi dan situasi realitasnya telah jauh berbeda dengan realitas sekarang. Berdasarkan pemahaman tersebut maka adalah sebuah keniscayaan bahwa al-Qur’an selalu dapat dinterpretasikan sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam perjalanan sejarah, proses pemahaman terhadap al-Qur’an [tafsir], selain sebagai produk juga sebagai proses dimana antara teks, penafsir dan realitas selalu berhubungan. Hal ini dapat dilihat dari metode, corak, karakteristik dan kecenderungan produk tafsir yang selalu berkembang. Bahkan lebih jauh ditinjau dari aspek paradigma epistimologi-nya tafsir-pun mengalami pergeseran. Berangkat dari adanya keberagaman pluralitas corak dan kecenderungan penafsiran tersebut maka lahir istilah “Madzahib at-Tafsir” [madzhab/aliran-aliran penafsiran].

Sesuai dengan judul yang disampaikan, tulisan ini hanya merupakan pengantar. Didalamnya secara singkat membahas pengertian, kemunculan, objek kajian, signifikansi dan sebagainya yang berkaitan dengan kulit luar Ilmu Madzahibut Tafsir sebelum dilanjutkan kepada pembahasan lebih mendalam. Karena keterbatasan literatur dan sumber pustaka  maka makalah ini lebih merupakan hasil baca buku Madzahibut Tafsir karya Dr. Abdul Mustaqim disamping beberapa buku terkait yang dapat ditemukan oleh penulis.

Pengertian

Secara etimologis, istilah madzahibut tafsir, merupakan bentuk susunan idhafah dari kata “madzahib” dan “at-Tafsir”. Kata madzahib adalah bentuk jamak (plural) dari madzhab, yang berarti : aliran pemikiran, pendapat, teori. Sedangkan at-Tafsir secara garis besar adalah hasil pemahaman manusia terhadap al-Qur’an, dengan menggunakan metode atau pendekatan tertentu yang dipilih oleh seorang mufassir[2]. Adalah sebuah keniscayaan bahwa dalam menafsirkan al-Qur’an ketika seorang mufassir menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda dengan mufassir lain maka akan melahirkan produk tafsir yang berbeda juga. Sebagai contoh, melakukan penafsiran dengan pendekatan filsafat maka akan lahir produk yang bercorak filosofis. Demikian juga ketika upaya penafsiran terhadap ayat al-Qur’an tersebut menggunakan pendekatan fiqih atau sufistik, maka akan menghasilkan tafsir yang kental dengan aroma fiqih dan sufistik.

Mengenai pemetaan terhadap kajian madzahibut tafsir ini banyak terjadi perbedaan sehingga beberapa diantara pemetaan dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Berdasarkan periodesasi atau kronologi waktu (klasik, pertengahan, kontemporer)
  2. Berdasarkan kecenderungan : (sunni, mu’tazili dan syi’i)
  3. Berdasarkan perspektif dan pendekatan yang dipakai : tafsir sufi, tafsir falsafi, tafsir fiqhi, tafsir ‘ilmi, tafsir adabi ijtima’i dll.
  4. Berdasarkan perkembangan pemikiran manusia (mitis, ideologis, ilmiah)

Kemunculan Madzahibut Tafsir

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa secara garis besar Madzahibut Tafsir lahir dari adanya keberagaman diversity yang ditemukan dalam produk-produk penafsiran maka kemudian para ulama’ mengelompokkan corak-corak dan kecenderungan penafsiran tersebut dalam madzhab-madzhab seperti yang terjadi pada kajian fiqih.

Istilah Madzahibut Tafsir pertama kali digunakan oleh Ignaz Goldziher dalam bukunya, Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung yang diterjemahkan oleh oleh Ali Hasan Abd al-Qadir, menjadi Madzahibu al-Tafsir al-Islami (1955),  kemudian diedit oleh Abdul Halim al-Najjar. Sejak saat itu, muncul banyak karya dalam bidang madzahibut tafsir  atau sejarah tafsir oleh sarjana-sarajana muslim sendiri, seperti Muhammad Husain al-Dzahabi dengan karyanya al-Tafsir wal Mufassirun (1961),  Abu Yaqzan ‘Atiyya al-Jaburi dengan kitabnya Dirasah fi al-Tafsir wa Rijalih (1971) dan Abdul ‘Azhim Ahmad al-Gubasyi dengan karyanya Tarikh  al-Tafsir wa Manahij al-Mufassirin (1977) dan lain sebagainya.

Selanjutnya secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa paling tidak ada dua faktor yang melatar belakangi lahirnya madzhahibut tafsir yaitu :

Faktor internal (al-‘awamil ad-dakhiliyyah)

  1. Kondisi objektif teks yang memungkinkan untuk dibaca secara beragam
  2. Kondisi objektif dari kata-kata “kalimat” dalam al-Qur’an yang memungkinkan ditafsirkan beragam
  3. Adanya ambiguitas makna dalam al-Qur’an, yang disebabkan adanya kata-kata musytarak (bermakna ganda).

Faktor eksternal (al-‘awamil al-kharijiyyah)

  1. Kondisi subjektif mufassir “sosio-kultural-politik”, “perspektif-keahlian-keilmuan”
  2. Persinggungan dengan peradaban dunia luar “Yunani-Persia-Romawi”
  3. Politik & Teologis “relasi kekuasaan”

Objek kajian & Metode

Menurut Abdul Mustaqim, madzahibut tafsir dapat dikatakan sebagai sejarah tafsir yang memiliki kriteria ilmiah sehingga mampu digolongkan sebagai disiplin ilmu “ilmu sejarah madzhab-madzhab tafsir.” Oleh karena dikatakan sebagai disiplin ilmu maka madzahibut tafsir harus memiliki objek kajian yang jelas. Dilihat dari objek material-nya madzahibut tafsir mengacu pada data-data sejarah yang berupa produk-produk tafsir-tafsir dan sejarah penulisnya yang sudah muncul sejak zaman Nabi saw. hingga sekarang. Sedangkan dilihat dari objek formal-nya maka, yang menjadi titik tekan dari kajian madzahibut tafsir yakni kecenderungan, corak, aliran-aliran, pendekatan-pendekatan penafsiran yang muncul sejak al-Qur’an itu ditafsirkan dan dikonsumsi oleh para mufassir dan umat Islam.

Berkaitan dengan metode yang dapat digunakan dalam kajian madzahibut tafsir, paling tidak ada dua metode yaitu : Pendekatan Sejarah yang dapat memetakan madzhab tafsir yang berkembang selama ini dengan melacak akar historis, mencoba membuat kategori berdasarkan kronologi waktu maupun kecenderungan dan karakteristik dari masing-masing aliran tafsir yang muncul. Pendekatan Filosofis yang menitik beratkan aspek substansi pemikirannya dan struktur fundamental dari produk-produk penafsiran yang ada. Selain itu banyak metode lain yang dapat digunakan seperti pendekatan jender, fenomenologi, sosiologi, antropologi dll.

Signifikansi

  1. Membuka wawasan dan menumbuhkan sikap toleran terhadap berbagai corak penafsiran al-Qur’an
  2. Mengembangkan dan menyandarkan adanya pluralitas dalam penafsiran al-Qur’an
  3. Menghindari sikap taqdis al-afkar

Kategorisasi

Kajian mengenai sejarah tafsir telah terjadi sejak masa Imam Suyuthi melalui karyanya, Thabaqat al-Mufassirin namun kajian-kajian tersebut tidak begitu dilestarikan oleh intelektual muslim. Dalam hal ini akan disampaikan beberapa model beberapa kategorisasi yang pernah dilakukan, baik oleh intelektual muslim atau non-muslim dalam  sejarah kajian madzhahibut tafsir.

Model Ignaz Goldziher

Dalam bukunya, Ignaz Goldziher[3] Memetakan madzhab atau kecenderungan dalam penafsiran dalam 5 bagian yaitu :

  1. At-Tafsir bil Ma’tsur
  2. At-Tafsir fi Dhau’i al-‘Aqidah [Perspektif Teologi Rasional]
  3. At-Tafsir fi Dhau’i at-Tasawwuf al-Islami [Perspektif Tasawwuf]
  4. At-Tafsir fi Dhau’i Firaq ad-Diniyyah [Perspektif Sekte Keagamaan]
  5. At-Tafsir fi Dhau’i at-Tamaddun al-Islami [Era Kebangkitan Islam / Modernis]

Namun model pemetaan seperti ini bukan pemetaan berdasarkan kronologi waktunya melainkan lebih merupakan usaha menguaraikan beberapa kecenderungan dalam menafsirkan al-Qur’an sejak awal sejarah penafsiran, hingga masa Muhammad Abduh. Selain tidak memberikan periode yang tegas dan jelas mengenai produk-produk tafsir yang berkembang juga menafikan adanya banyak karya-karya tafsir seperti Ibn Katsir, al-Alusi, an-Nasafi, Jalalain dll.

Model J. J. G Jansen

Dalam bukunya[4], J. J. G Jansen mencoba memberikan pemetaan yang lebih spesifik terhadap karya-karya tafsir yang berkembang di Mesir. Jansen memetakan kategori perkembangan tafsir di Mesir dalam 3 bagian yaitu :

  1. Tafsir ‘Ilmi
  2. Tafsir Linguistik & Filologis
  3. Tafsir Praktis

Dan lagi-lagi pemetaan tersebut juga merupakan pemetaan berdasarkan kronologi waktunya, melainkan pada kecenderungan penafsiran [ittijahatut tafsir] ditambah wilayah kajian yang lingkupnya terbatas di Mesir saja.

Model Muhammad Husain adz-Dzahabi

Dalam kitabnya[5], Pemetaan adz-Dzahabi berdasarkan kronologi waktu. Adz-Dzahabi memetakan periodesasi tafsir dalam 4 periode yaitu :

  1. Tafsir pada masa Nabi Muhammad
  2. Tafsir pada masa Shahabat
  3. Tafsir pada masa Tabi’in
  4. Tafsir pada masa Kodifikasi

Model Amina Wadud

Berbeda dengan dilakukan oleh tokoh-tokoh lain, dalam melakukan kategorisasi tafsir Amina Wadud justru melihat dari perspektif gerakan feminisme yang memfokuskan pada isu-isu jender. Dalam hal ini Amina Wadud memetakan dalam 3 corak yaitu :

  1. Tafsir Tradisional
  2. Tafsir Reaktif
  3. Tafsir Holistik

Selain beberapa tokoh dan upaya pemikirannya diatas, paling tidak ada 2 dua pemetaan lagi yang dapat penulis temukan berkaitan dengan madzahibut tafsir yaitu :

Pemetaan Tafsir berdasarkan Paradigma Epistimologi sekaligus pemetaan periodik meskipun tidak dalam pengertian periode secara rigid[6]. Dalam hal ini Dr. Abdul Mustaqim memetakan karakteristik tafsir dalam 3 bagian yaitu :

  1. Tafsir Era Formatif dengan Nalar Mitis
  2. Tafsir Era Afirmatif dengan Nalar Ideologis
  3. Tafsir Era Reformatif dengan Nalar Kritis

Selain itu dalam mirip dengan yang dilakukan oleh J.J.G. Jansen, Dr. Syahiron Syamsuddin memetakan Tipologi dan Proyeksi Pemikiran Tafsir namun spesifik hanya pada era kontemporer sekarang ini. dalam makalahnya, Dr. Syahiron memetakan tipologi tafsir kontemporer dalam 3 karakteristik yaitu:

  1. Quasi-objektivis tradisionalis
  2. Quasi-objektivis modernis
  3. Subjektivis.

[1] Sahiron Syamsuddin, Tipologi dan Proyeksi Pemikiran Tafsir Kontemporer : Studi atas Ide Dasar Hermeneutika, Makalah disampaikan pada ISC [Islamic Short Course] RBJ- diselenggarakan Masjid UIN Sunan Kalijaga. Selasa, 2 September 2008

[2] Lihat Abdul Mustaqim, Madzahibut Tafsir (Yogyakarta: Nun Pustaka, 2003), hlm. 1-2.

[3] Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Lihat, Ignaz Goldziher, Mazhab Tafsir “Dari Aliran Klasik Hingga Modern”, terj. M. Alaika Salamullah dkk., (Yogyakarta: Elsaq Press, 2006), cet III.

[4] Juga telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Lihat, J. J. G. Jansen, Diskursus Tafsir al-Qur’an Modern, terj. Hairussalim dkk., (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007).

[5] Lihat, Muhammad Husain al-Dzahabi, Al-Tafsir wa al-Mufassirun. Jilid I & II. 1976.

[6] Lihat, Abdul Mustaqim, Pergeseran Epistimologi Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008).

One thought on “Sebuah Pengantar Madzhahibut Tafsir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s