Seni Pewayangan

A. Pendahuluan

Wayang merupakan salah satu bentuk seni budaya klasik tradisional bangsa Indonesia yang telah berkembang selama berabad-abad. Hal ini terbukti dengan adanya prasasti peninggalan Raja Balitung pada tahun 907 dengan kisah Bima Kumara dan Ramayana. Dinamika seorang dalang beserta upah yang diterimanya disebutkan dalam beberapa teks kuno[1]. Sampai saat ini pentas pewayangan tetap berkembang diberbagai lingkungan masyarakat baik perkotaan apalagi pedesaan. Pergelaran wayang senantiasa mengandung nilai hidup serta kehidupan luhur yang dalam setiap akhir cerita atau lakonnya selalu memenangkan kebaikan dan mengalahkan kejahatan.

Hal itu mengandung suatu ajaran bahwa perbuatan baiklah yang akan unggul, sedangkan perbuatan jahat akan selalu menerima kekalahannya[2]. Begitu besar peran pertunjukan wayang dalam kehidupan orang Jawa, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa wayang merupakan salah satu identitas utama manusia Jawa. Wayang mampu menyajikan kata-kata mutiara dan petuah-petuah religius yang mampu menggetarkan jiwa manusia yang mendengarnya[3]. Seni pewayangan merupakan salah satu cermin kehidupan manusia. Perwatakan manusia yang berbeda-beda digambarkan oleh wayang baik yang sedang dijejer, disimping maupun dikothak.

Pertumbuhan dan perkembangan cerita wayang berjalan melalui jalur lisan dan tulisan. Melalui jalur lisan wayang disebaran oleh para dalang dan orang-orang tua yang sudah banyak tahu tentang ceritanya. Saat ini kegiatan itu masih berlangsung secara turun-temurun, sedangkan melalui jalur tulisan muncullah aneka SeratPakem Ringgit Purwa. Di Surakarta, Ranggawarsita mengarang Pustaka Raja Purwa. Buku itu merupakan sumber cerita wayang yang berkembang disekitar Keraton Surakarta Hdiningrat dan menjadi pegangan dalam Keraton beserta pengikutnya. Mangkunegara VII mengumpulkan serat dengan judul Serat Pedhalangan Ringgit Purwa memuat 187 lakon dalam bentuk pakem balungan. Ada tiga jenis lakon atau cerita wayang yaitu : lakon pokok, lakon carangan dan lakon sempalan. Lakon pokok adalah lakon wayang yang masih mengikuti cerita klasik seperti BarataYuda dan Ramayana. Lakon carangan adalah lakon yang masih mengambil unsure-unsur dalam lakon pokok, tetapi sudah diberi bentuk baru, cerita serta penyajian baru. Lakon sepmpalan adalah lakon wayang yang sama sekali lepas dari cerita pokok. Lakon sempalan sering mendapat kritikan yang sangat pedas karena ide-idenya cenderung mengejutkan, liberal, dan non-konvensional.

B. Konsep Pembelajaran Masyarakat Jawa

Kebudayaan Jawa menjelaskan konsep tentang satria pinandhita. Artinya adalah seorang satria yang berwatak pendeta. Maksudnya di dalam hidupnya sebagai satria dengan segala sifat tabiat itikad dan tekad kesatrianya dilaksanakan dengan kebijaksanaan pendeta yang penuh kearifan melaksanakan keutamaan hidup sebagai sarana manusia meraih keutamaan dunia akhirat[4]. Perkataan ksatria adalah adalah nama kasta kedua dalam masyarakat Hindu-Jawa setelah kasta Brahmana. Yang termasuk kasta ksatria adalah kaum raja-raja, kaum ningrat, kaum yang berdarah biru, dan orang-orang yang diangkat keatas (sinengkakaken ing aluhur) dimasukkan dalam kasta ksatria karena jasanya. Masalah keprajuritan diterangkan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Tripama.

Ajaran tentang Satria Jawa yang terkenal adalah Serat Tripama (Tiga Suri Teladan) karangan Sri Mangkunegara IV, sebuah kitab kecil berisi 7 bait tembang. Dhandhanggula, memberikan contoh (teladan) sifat 3 orang ksatria Jawa dalam pewayangan, yaitu : Suwanda, Kumbakarna dan Karna. Masyarakat Jawa memberikan tempat yang amat terhormat kepada orang yang mengajarkan ilmu kepadanya. Di Zaman dahulu disebut : pendeta, brahmana, ajar, resi, wiku dan dwija, kemudian disebut guru, yaitu guru ilmu, bukan guru sekolah. Guru pun terhitung pemimpin non-formal. Makin besar perguruannya, makin besar pengaruh seorang guru kepada masyarakat.

Guru wajib dihormati, bahkan wajib disembah, karena gurulah yang : “Menunjukkan hidup yang sempurna hingga akhir hayat, yang memberi petunjuk tentang kebaikan dan dialah yang memberi nasihat sewaktu orang bersusah hati. Orang durhaka kepada guru adalah dosa paling besar maka berbuat baiklah, mohonlah siang dan malam akan cinta kasihnya. Jangan cinta kasihnya sampai berkurang”[5].

Ranggawarsita, pujangga keratin Surakarta menyebutkan bahwa yang pantas menjadi guru adalah : 1) keturunan orang yang luhur yang masih menjabat, 2) Ulama yang paham senantiasa menjalankan tapa, 3) Ahli bertapa yang masih senantiasa menjalankan tapa, 4) Orang ahli yang mahir dan menjadi orang baik-baik, 5) Orang pandai yang masih terus berusaha menambah kepandaiannya, 6) Orang yang bersifat perwira, yaitu prajurit yang masih masyhur kewiraannya[6].

Sebagai contoh dalam pewayangan dapat dikemukakan Sang Arjuna yang memiliki sifat satria pinandhita, bahkan dia pernah bertapa sebagai Begawan Mintaraga, disebut Ciptoning di Pegunungan Indrakila. Dia bertapa dengan membawa perlengkapan perang, baju zirah dan panah. Demikianlah karena ia memohon kepada dewa. Pandawa menang perang karena Sang Arjuna mencita-citakan memberi kesenangan dan kesejahteraan kepada dunia. Cerita Begawan Ciptoning dan Begawan Mintaraga dengan tokoh sentral (protagonis) Arjuna masih sukar dihubungkan dengan tokoh atau raja tertentu. Cerita Begawan Ciptoning merupakan cita-cita umum untuk menjadi manusia yang luhur batinnya ; Ciptoning, pikirannya hening. Mintaraga juga berarti badan yang berdoa, maksudnya agar sebagai pengayom selalu berdoa atau bertapa memohon kepada Tuhan untuk kemakmuran Negara dan kebahagiaan seluruh rakyatnya.

Raja atau semua manusia hidup ditengah-tengah masyarakat, dapat momong, momot, memangkat dalam memayu hayuning bawana, yaitu penuh toleransi, bersifat mampu dan sanggup menampung, menjunjung tinggi serta menghormati sesame untuk ketentraman negara dan rakyatnya[7]. Lakon Begawan Ciptoning dengan tokoh utama Arjuna dipandang sebagai manusia biasa, tetapi insane kamil “sempurna dalam segala bidang, yang sedang berjuang mati-matian untuk mencapai kesempurnaan hidup. Manusia sempurna telah menghayati dan mengerti awal dan akhir kehidupan atau wikan sangkan paran, mulih mula mulanira dan manunggal ‘ bersatu. Manusia telah kembalidan bersatu dengan penciptanya atau manunggaling kawula Gusti.

C. Islam dan Seni Pewayangan di Jawa

Persamaan-persamaan esensial dalam moralitas dan pandangan hidup. Penyerapan mitologi hindu dari India oleh budaya daerah jawa telah memunculkan sosok nilai yang benar-benar masuk kedalam persepsi orang Jawa tentang kehidupan. Tidak ada penolakan terhadap wayang sebagai manifestasi kultural budaya Jawa. Dalam budaya Jawa, melalui tokoh-tokoh wayang, menampilkan sosok pergulatan rohani antara kebaikan dan keburukan, antara kebenaran dan kebatilan. Pertempuran dan konflik kepentingan yang terjadi antara para tokoh wayang, sebenarnya adalah pencerminan dari pergulatan antara kesadaran melawan kerakusan, penguasaan diri melawan hawa nafsu berlebihan, ketegasan sikap membela yang lemah melawan keangkaramurkaan.

Islam memperlakukan seni sebagai bagian dari penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Seni adalah wahana perbadatan, yang dalam Islam tidak dapat dibatasi hanya pada aspek ritual dan liturgisnya saja. Beribadah adalah menjalani kehidupan secara keseluruhan dalam acuan kerangka keimanan dan moral yang ditentukan oleh Allah[8].

D. Penutup

Wayang sebagai produk budaya bangsa Indonesia sebelum jaman Hindu merupakan visualisasi perwatakan serta perilaku individual maupun sosial bangsa di Indonesia. Sejalan dengan masuknya agama Islam di Indonesia kesempurnaan wayang turut berkembang dalam segala aspeknya, terutama dalam bidang seni pendidikan budi pekerti luhur yang bernuansa local genius. Dalam bidang pendidikan budi pekerti luhur, wayang nampak sebagai penggambaran sifat atau perilaku yang sangat mendasar pada para tokoh yang diteladankan. Sifat-sifat tersebut sangat relevan dengan filsafat hidup bangsa Indonesia yang sekarang sedang giat membangun.

Nilai pendidikan budi pekerti luhur banyak terpantul pada sifat tokoh-tokoh raja dalam pewayangan. Misalnya prabu Yudhistira raja Amarta, Prabu Kresna raja Dwarawati dan Prabu Arjuna Sasrabahu raja Maespati. Mereka dilukiskan sebagai raja yang mempunyai welas asih, berbudi bawa laksana, ambeg adil paramarta dan memayu hayuning bawana. Kemanusiaan yang adil dan beradab ini adalah suatu pandangan, falsafah atau sikap hidup. Konsep harmonitas total, yaitu harmonitas kosmologis, baik makro kosmologis, pada jalur horisontal atau vertical. Suatu konsep dikenal melalui kata kuncinya, kata kunci yang terpenting dalam rangka konsep harmonitas, adalah kawula gusti, yang pada tingkatan dan dataran social menjadi antara rakyat dan pemimpin, masing-masing dengan kewajiban dan haknya.

Pembinaan wayang dan pengembangan budaya bagi masyarakat Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya merupakan usaha pemantapan jati diri. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pertunjukan seni pewayangan perlu diajarkan dan dikenalkan kepada generasi muda sejak dini. Hal itu berkaitan dengan pendidikan budi pekerti  dan pembinaan mental spiritual bangsa, sehingga pada masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara akan semakin kokoh dengan berlandaskan nilai akar budaya. Seiring dengan itu akan tercapai pula suasana yang harmonis antara nilai-nilai budaya tradisional yang tetap dapat mengikuti arus perubahan di era globalisasi.


[1] Zoetmulder, Kalangwan : Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang (Jakarta: Djambatan, 1985), hlm. 262.

[2] S. Haryanto, Pratiwimba Adiluhung Sejarah dan Perkembangan Wayang (Jakarta: Djambatan, 1992), hlm. 2.

[3] Sri Mulyono, Wayang dan Filsafat Nusantara, Jakarta : Haji Masagung, 1987. hlm. 12

[4] Karkono Partokusumo, Falsafah Kepemimpinan dan Satria Jawa (Jakarta: Bina Rena Pariwara, 1998), hlm. 24.

[5] Paku Buwana IV, Serat Wulangreh (Kediri: Tresna, 1982), hlm. 72-73.

[6] Simuh, Mistik Islam Kejawen Ranggawarsita: Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati (Jakarta: UI Press, 1988), hlm. 131.

[7] Sri Mulyono, Wayang dan Filsafat Nusantara… hlm. 85.

[8] Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan (Depok: Desantara, 2001), hlm. 164.

2 thoughts on “Seni Pewayangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s