Yusuf al-Qardlawi


Biografi Yūsuf al-Qardāwī

Yūsuf al-Qardāwī dilahirkan di sebuah kampung kecil yang bernama Saft Turab. Salah satu perkampungan di Mesir yang terdapat di Provinsi Garbiyah dengan ibu kotanya Tanta. Dari Kairo, kampung tersebut berjarak sekitar 150 kilo meter atau untuk menempuhnya membutuhkan waktu  sekitar 3 sampai 4 jam. Ia dilahirkan pada 9 September 1926 dari pasangan suami istri yang sangat sederhana tetapi taat beragama. Ia tidak berkesempatan mengenal ayah kandungnya dengan baik, karena tepat usianya baru mencapai dua tahun, ayah yang dicintainya telah dipanggil sang Khaliq, pemilik kehidupan dan kematian. Setelah ayah kandungnya meninggal dunia, ia diasuh dan dibesarkan oleh ibu kandung, kakek dan pamannya. Akan tetapi pada saat ia duduk di tahun keempat Ibtida’iyyah al-Azhar, ibunya pun dipanggil yang Maha Kuasa. Beruntung, ibu yang dicintainya masih sempat menyaksikan putra tunggalnya ini telah hafal seluruh al-Qur’an dengan fasih, karena pada usia Sembilan tahun sepuluh bulan, ia talah hafal al-Qur’an di bawah bimbingan seorang Kutāb yang bernama Syaikh Hamid. Setelah ayah, ibu dan kakeknya meninggal dunia, ia diasuh dan dibimbing oleh pamannya.

Pendidikan formalnya dimulai pada salah satu lembaga pendidikan al-Azhar yang dekat dengan kampungnya, yang hanya menerima calon siswanya yang sudah hafal al-Qur’an. Di lembaga pendidikan inilah al-Qardāwī kecil mulai bergelut dengan kedalaman khazanah Islam di bawah bimbingan para gurunya. Semenjak duduk di tingkat keempat Ibtida’iyyah selalu dijuluki “Ya Allamah” atau syaikh oleh para gurunya. Selain itu, dalam rentang waktu Ibtida’iyyah sampai Sanawiyah yang diselesaikannya di Al-Azhar, ia mengalami berbagai peristiwa yang kelak sangat mempengaruhi jalan hidupnya. Salah satu peristiwa istimewa yang dialaminya di tingkat Ibtida’iyyah adalah pada saat pertama kali ia mendengarkan ceramah al-Bana. Ketika mendengarkan ceramahnya, intiusi Al-Qardāwī kecil mulai dapat merasakan kehadiran seorang laki-laki ‘alim yang telah menggadaikan seluruh kehidupannya hanya untuk kepentingan Islam dan umatnya. Saat itu Al-Qardāwī kecil yang pernah bercita-cita untuk menjadi Syaikh al-Azhar, dapat menangkap seluruh isi ceramah yang disampaikan Syaikh al-Bana tanpa terlewat satu bagian pun. Ia pun mulai memiliki kesadaran dan pemahaman akan pentingnya dakwah yang dilakukan secara berjama’ah, maka untuk upaya inilah ia mulai bergabung bersama Ikhwan al-Muslimin.

Pada masa kecilnya, di dalam jiwa Qardawi terdapat dua orang ulama yang paling banyak memberikan warna dalam hidupnya, yaitu Syaikh Al-Battah (salah seorang ulama alumni Al-Azhar di kampungnya) dan Ustaz Al-Bana. Bagi Al-Qardāwī, Syaikh al-Battah adalah orang yang pertama kali mengenalkannya kepada dunia fikih, terutama mazhab Maliki, sekaligus membawanya ke Al-Azhar. Sedangkan Syaikh al-Bana adalah orang yang telah mengajarkannya cara hidup berjamaah, terutama dalam melaksanakan tugas-tugas berdakwah. Mengenai pengaruh al-Bana dalam dunia pemikiran dan spiritualnya, beliau pernah mengatakan: “Dan di antara orang-orang yang paling banyak memberikan pengaruh besar dalam dunia pemikiran dan spiritual kami adalah Syaikh asy-Syāhid al-Bana.

Dari sekitar perjalanan hidup Al-Qardāwī, minimal ada dua hal yang menjadi main stream aktivitas hidupnya. Pertama adalah aktivitasnya sebagai seorang intelektual dalam bidang fikih (faqih) dan kedua adalah aktivitasnya yang sangat signifikan dalam sahwah dan harakah Islamiyah. Bagi Qardawi, ilmu yang diraihnya di Al-Azhar adalah bekalnya dalam menggali khazanah Islam, sedangkan yang didapatkannya di lapangan bersama Ikhwan adalah bekal utamanya dalam menjalani dunia pergerakan Islam (harakah) dan sahwah Islamiyah.

Aktivitas Qardawi sebagai seorang faqih tidak terlepas dari tempat ia dibesarkan, di Mesir. Di kampung halaman tempat lahir dan dibesarkannya Qardawi, terdapat beberapa mazhab fikih dan aliran-aliran tarikat yang dianut masyarakat secara turun temurun. Tradisi ketaatan mereka terhadap mazhab tertentu secara ekstrim, telah menyebabkan mereka hidup statis dan monoton yang sering sekali berubah menjadi sikap fanatic yang tidak dapat dibenarkan oleh Islam, sehingga dalam beribadah mereka tidak lagi mengikuti al-Qur’an dan Sunnah atau qaul yang argumentative dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal tersebut disebabkan karena kepatuhan terhadap individu dan bukan pada kekuatan hujjah yang digunakan.

Kondisi inilah yang membesarkan Qardawi. Akan tetapi ia masih beruntung. Karena meskipun hidup di tengah-tengah masyarakat mazhab centris, ia masih dapat tercerahkan dan memiliki arus berbeda dengan masyarakt di sekitarnya. Tentu saja sikap Qardawi ini tidak dapat dilepaskan dari peranan dan bantuan para gurunya. Semenjak duduk di Sanawiyah, Qardawi lebih banyak belajar agar dapat hidup berdampingan dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda. Pada tingkat ini pulalah ia mulai belajar untuk mengikuti hujjah dan bukan mengikuti figur, karena ia mengetahui (sesuai perkataan Imam Malik), bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kebenaran, meskipun pada perjalanannya, secara tidak sengaja ia melakukan kesalahan. Semua orang (meskipun ulama besar atau imam mazhab), pendapatnya dapat diterima ataupun ditolak, kecuali Rasulullah saw. Oleh sebab itu, semenjak duduk di tingkat ibtidaiyyah, jika ia mendapatkan gurunya tidak memiliki argument yang jelas dari al-Qur’an dan sunnah, ia tidak segan-segan mengkritik dan membantah pendapat gurunya. Melihat sikap kritis Qardawi kecil ini, ada gurunya yang sangat bangga tetapi ada pula yang merasa jengkel, sehingga ia pernah diusir dari kelas karenanya.

Sikap seperti ini telah dibuktikan oleh Qardawi di tengah-tengah masyarakat, yaitu pada saat ia diminta untuk mengajar ilmu-ilmu agama di sebuah masjid jami’ di kampungnya. Saat itu ia mengajarkan ilmu fikih tetapi yang diajarkannya bukanlah qaul-qaul mazhab Syafi’i yang dianut oleh mayoritas penduduk. Ia mengajarkan langsung dari sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah sahihah ditambah dengan fatwa para sahabat. Ia sendiri mengakui bahwa metode pengajaran yang diterapkannya ini diambilnya dari metode yang digunakan oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnahnya.

Tentu saja upaya-upaya Qardawi tersebut mendapatkan penentangan yang kuat dari masyarakat yang selama ini hanya hidup dalam Syafi’iyyah cyrcle. Resistensi masyarakat dan para ulama tua di kampungnya ini mencapai puncaknya dengan sebuah ‘pengadilan’ yang mereka adakan secara khusus untuk menerima pertanggungjawaban Qardawi. Pengadilan tersebut berubah menjadi sebuah forum polemik seru antara Qardawi muda dengan para ulama mazhab di kampungnya. Pada perdebatan tersebut, ia berhasil meyakinkan para ulama dan masyarakatnya, bahwa ia bukanlah orang yang membenci mazhab, bahkan ia adalah salah seorang pengagum para imam mazhab dengan kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Ia menganjurkan seandainya kita akan mengambil sebuah qaul dari mazhab tertentu, maka ia harus diambil langsung dari qaul pendirinya yang ditulis dalam buku induknya. Karena jika suatu mazhab semakin dekat kepada sumber-sumber utamanya, maka pengikutnya akan semakin toleran, tetapi jika mereka semakin jauh dari sumber aslinya, justru inilah ia yang selalu menimbulkan fanatisme buta,meskipun mereka mengetahui bahwa pendapat tersebut tidak memiliki hujjah yang kuat.

Sikapnya dalam memperlakukan fiqh tersebut berlanjut sampai masa tua. Oleh sebab itu tidak heran jika pada saat itu mulai mebcapai kematangan dalam dunia fikih, ia memilih metode fikihnyadengan semangat moderasi (wasatiyyah), toleransi (tasamuh), lintas mazhab dan selalu menghendaki kemudahan bagi umat (taisir), serta mengakses penggalian hukum secara langsung dari sumbernya yang asli yaitu al-Qur’an dan Sunnah sahihah. Dengan metode inilah Qardawi menjelajahi dunia fikih, dari tema-tema yang paling kecil seperti masalah lalat yang hinggap pada air, sampai masalah yang paling besar seperti Bagaimana Islam menata sebuah Negara? Atau dari tema yang paling klasik sampai yang paling kontemporer seperti masalah demokrasi, HAM, peranan wanita dalam masyarakat dan pluralism.

Menurut Luthfi Assyaukani, di dalam ijtihad fikihnya, Qardawi telah berhasil membuat sebuah formulasi baru dalam memperlakukan fikih, terutama ketika ia berhadapan dengan persoalan-persoalan kontemporer. Di  antara formula yang dibangunnya adalah mengenai perlunya dibangun sebuah fikih baru (fiqh tajdid) yang akan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan baru umat. Adapun fikih baru yang berusaha dibangunnya antara lain adalah sebuah fikih terdiri dari: 1. Keseimbangan (fiqh al-muwazanah), 2. Fikih realitas (fiqh al-waqi’), 3. Fikih prioritas (fiqh al-aulawiyyat), 4. Fikih al-Maqasid asy-Syari’ah, dan 5. Fikih perubahan (fiqh at-tagyir).

Karya-Karya Intelektual Yūsuf al-Qardāwī

Salah satu kelebihan Qardawi adalah di samping ilmu pengetahuannya sangat luas atau menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan, juga menghasilkan karya-karya tulis dalam berbagai bidang ilmu yang dikuasainya yang mencapai ratusan judul buku, dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk ke dalam Bahasa Indonesia.

Karya-karya Qardawi dalam bidang Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah

1. As-Sabr fi al-Qur’an
2. Al-‘Aql wa al-‘Ilm fi al-Qur’an al-Karim
3. Kaifa Nata’amal ma’a al-Qur’an al-‘Azim
4. Tafsir Surah ar-Ra’d
5. Al-Madkhal li Dirasah as-Sunnah an-Nabawiyyah

Karya-karya Qardawi dalam bidang Fiqh

1. Al-Halāl wa al-Harām fī al-Islām,
2. Al-Sunnah Masdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadārah,
3. Dirāsah fī Fiqh Maqāsid asy-Syarī’ah baina al-Maqāsid al-Kulliyyah wa al Nusūs al-Juz’iyyah,
4. as-Siyāsah al-Syar’iyyah
5. Taysīr al-Fiqhi li al-Muslimīn al-Mu’āsir fi Dau’i al-Qur’ān wa as-Sunnah,
6. Hadyu al-Islām fatāwī Mu’āsirah,
7. ’Awāmil as Sā’ah wa al Murūnah fī Asy Syarī’ah al Islāmiyyah
8. Al-Madkhal li Dirasah Asy-Syari’ah al-Islamiyyah
9. Kaifa Nata’amal ma’a al-Qur’an al-Azim
10. As-Siyasah Asy-Syar’iyyah fi Dau’ Nusus asy-Syari’ah wa Maqasidiha
11. Syari’ah al-Islam Salihah li Tatbiq fi Kulli Zaman wa Makan
12. Fi Fiqh al-Awlawiyyat
13. Fi Fiqh al-Aqliyyat
14. Fi Fiqh ad-Daulah al-Islam
15. Fiqh az-Zakat
16. Fatawa Mu’asirah (3 juz)
17. Mi’atu su’al ‘an al-hajj wa al-umrah wa al-udhiyyah
18. Nahw Fiqh Muyassar Mu’asir
19. Fiqh at-Taharah
20. Fiqh as-Siyam
21. Fiqh al-Gina’ wa al-Musiqi
22. Fiqh al-Lahw wa at-Tarwih
23. Al-Ijtihad fi asy-Syari’ah al-Islamiyyah
24. Madkhal li Dirasah asy-Syari’ah al-Islamiyyah
25. Min Fiqh ad-Daulah fi al-Islam
26. Al-Fatwa baina al-Indibat wa at-Tasayyub
27. Al-Fiqh al-Islamy baina al-Asalah wa at-Tajdid
28. Al-Ijtihad al-Mu’asir baina al-Indibat wa al-infirat
29. Fi Fiqh al-‘Aqaliyyat asy-Syari’ah al-Islamiyyah
30. Diyat al-Mar’at

Karya-karya Qardawi dalam Bidang Ekonomi Islam

1. Fiqh az-Zakah
2. Musykilat al-Faqr wa Kaifa ‘Alajaha al-Islam
3. Bay’ al-Murabahah li al-Amir bi asy-Syira’
4. Fawaid al-Banuk Hiya ar-Riba al-Haram
5. Daur al-Qayyim wa al-Akhlaq fi al-Iqtisad al-Islami
6. Daur az-Zakah fi ‘Alaj al-Musykilat al-Iqtisadiyyah

Karya-karya Qardawi dalam bidang Etika menurut al-Qur’an dan Sunnah

1. Al-Hayat ar-Rabbaniyyah
2. An-Niyyah wa al-Ikhlas
3. At-Tawakkal
4. At-Taubah ila Allah

Karya-karya Qardawi dalam bidang Dakwah dan Tarbiyyah

1. Saqafah ad-Da’iyah
2. At-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Madrasah Hasan al-Banna
3. Al-Ikhwan al-Muslimun 70 ‘Am fi ad-Da’wah at-Tarbiyah wa al-Jihad
4. Ar-Rasul wa al-‘Ilm
5. Al-Waqt fi Hayat al-Muslim
6. Risalah al-Azhar baina al-Ams wa al-Yaum wa al-Gad

Karya-karya Qardawi dalam bidang As-Sahwah wa al-Harahah al-Islamiyyah

1. As-Sahwah al-Islamiyyah wa Humum al-Watan al-‘Arabi wa al-Islami
2. Fi Fiqh al-Awlawiyyat; Dirasah Jadidah fi Dau’I al-Qur’an wa as-Sunnah
3. Malamih al-Mujtami’ al-Muslim al-Lazi Nunsyiduhu
4. As-Saqafah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah baina al-Asalah wa al-Mu’asirah
5. Gair al-Muslimin fi al-Mujtami’ al-Islami
6. Syari’att al-Islam Salihat li at-Tatbiq fi Kulli Zaman wa Makan
7. As-Sahwah al-Islamiyyah baina al-Juhud wa at-Tatarruf

Karya-karya Qardawi dalam bidang Keislaman secara Umum

  1. 1. Al-Iman wa al-Hayat
  2. 2. Al-‘Ibadah fi al-Islam
  3. 3. Al-Khasais al-‘Amah li al-Islam
  4. 4. Al-Islam Hadarah al-Gad
  5. An-Nas wa al-Haqq

Karya-karya Qardawi dalam bidang Politik, di antaranya:

1. Nahnu wa al-Garb: As’ilah Syaikah wa Ajwibah Hasimah
2. Ad-Din wa as-Siyasah
3. Al-Ummah al-Islamiyyah Haqiqat la Wahm
4. Liqa’at wa Muhawirat Haula Qadaya al-Islam wa al-‘Asr ( 2 Juz)
5. Qadaya Mu’asirah ‘ala Basat al-Bahs
6. Usul al-‘Amal al-Khair fi al-Islam
7. Al-Hurriyyah ad-Diniyyah wa at-Ta’addudiyyah fi Nazr al-Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s