Al-Qur’an Tentang Istri Shalihah

Manusia tidak mungkin dapat hidup sendiri tanpa adanya hubungan sosial. Manusia memiliki naluri persaudaraan dan menjalin hubungan yang harmonis tanpa membedakan warna kulit, suku, agama, adat, dan bahasa, karena secara fitrah mereka adalah makhluk sosial yang selalu hidup bermasyarakat.[1] Hidup dalam jalinan hubungan antara satu orang dengan yang lain merupakan suatu keniscayaan bagi umat manusia. Hal itu mengisyaratkan kepada manusia untuk saling mengenal dengan adanya perbedaan jenis kelamin, daerah tempat tinggal, suku, bahasa, warna kulit bahkan agama.  Perbedaan itu diadakan dengan satu tujuan agar mereka saling mengenal dan saling memahami untuk kemudian menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat.

Manusia diciptakan Tuhan memiliki berbagai jenis keperluan, baik dalam konteks pribadi maupun dalam konteks hidup bermasyarakat. Keperluan fisik, mental, emosi, rohani serta keperluan sosial akan terlaksana sepenuhnya ketika mendapatkan bantuan dari orang lain. Dari situ akan terjalin hubungan sosial satu orang dengan yang lain.

Misalnya, antara laki-laki dan perempuan, keduanya memiliki kebutuhan fitrah untuk memberikan rasa kasih sayang satu dengan yang lain. Mendambakan pasangan merupakan fitrah bagi setiap manusia, karena berpasang-pasangan merupakan ketetapan Ilahi atas segala makhluk,[2] maka alangkah indahnya ketika sebuah hubungan antara dua insan yang saling mencinta dan menyayangi bisa direkatkan dalam bingkai pernikahan. Oleh karena itu Islam mensyari’atkan dijalinnya pertemuan antara pria dan wanita dan kemudian mengarahkan pertemuan itu sehingga terlaksana perkawinan dan beralihlah kerisauan pria dan wanita menjadi ketentraman.[3]

Menurut Masdar Farid Mas’udi, secara garis besar pandangan Islam terhadap perempuan cukup jelas bahwa kedudukannya berada di bawah laki-laki. Akan tetapi hal itu tidak berlaku mutlak. Dari sudut pandang tertentu, kedudukan perempuan sejajar bahkan jauh di atas laki-laki.[4] Al-Qur’an adalah kitab suci yang kebenarannya abadi, bahkan sejak masa awal kedatangannya, Islam berusaha mengangkat harkat dan kedudukan perempuan sehingga laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dan cenderung tergantung usaha masing-masing untuk meraih kedudukan yang baik dihadapan Allah.[5] Al-Qur’an juga memberikan penghormatan khusus kepada perempuan sebagai ibu yang tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki seperti melahirkan dan menyusui bayi.[6] Meskipun demikian, dalam konteks kehidupan berumah tangga tampaknya al-Qur’an tidak berusaha mengubah total dan cenderung mengikuti tatanan sosial yang dibangun oleh tradisi dan kebudayaan yang telah ada sebelumnya, di mana laki-laki adalah pemimpin bagi istri dan keluarganya, meskipun dalam ayat-ayat lain juga dijelaskan bahwa seorang laki-laki harus memperlakukan istri dan keluarganya dengan baik.[7]

Kata الصَّالِحَاتُ “as-s}a>lih}a>t”  merupakan bentuk jamak mu’annas| dari  kata الصَّالِحُ (isim fa>’il), berasal dari akar kata صَلَـحَ –  يَصْلَحُ – صَلاحاً – وصُلُوحاً[8] yang berarti “yang baik” atau “yang bagus”.[9] Lebih lanjut dalam kamus al-Munawwir disebutkan bahwa kata tersebut juga bisa berarti الجيّد (yang baik, bagus), البارّ (yang saleh), الموافق (yang pantas, patut atau sesuai), المنفـعة (kemanfaatan), dan النعمة الموافرة (kenikmatan yang sempurna).[10] Kata tersebut merupakan lawan kata atau antonim dari kata فساد yang berarti rusak.[11]

Berasal dari kata dasar tersebut, dalam al-Qur’an terdapat 165 kata dalam berbagai variasi penggunaan dan pengulangannya sebagaimana catatan ’Abdul Ba>qi, yaitu: صَلَحَ 2 kali, أَصْلَحَ 7 kali, أَصْلَحاَ 1 kali, أَصْلَحْناَ 1 kali, أَصْلَحُوا 5 kali, تُصْلِحُوا 2 kali, يُصْلِحُ 3 kali, يُصْلِحاَ  1 kali, يُصْلِحُونَ 2 kali, أَصْلِحْ 2 kali, أَصْلِحُوا 4 kali, الصُّلْحُ 1 kali, صُلْحاً 1 kali, صَالِحَِ 8 kali, صَالِحاً 36 kali, الصَّالِحُونَ 3 kali, صَالِحَيْنِ 1 kali, الصَّالِحِيْنَ 36 kali, الصَّالِحَاتُِ 36 kali, إِصْلاَحٌٍَ 3 kali, إِصْلاَحاً 3 kali, إِصْلاَحِهاَ 2 kali, المُُصْلِحِ 1 kali, مُصْلِحُونَ 2 kali, المُصْلِحِيْنَ 2 kali.[12]

Pada umumnya kata as-s}a>lih}a>t disebutkan dalam rangkaian kalimat  الذين امنو وعملوا الصالحات “orang-orang yang beriman dan berbuat baik/shaleh”.[13] Dalam QS. al-Baqarah (2): 25 at-T}abari menafsirkan kalimat tersebut dengan: ”membenarkan keimanan dengan perbuatan yang baik”.[14] Lebih spesifik dalam QS. al-Baqarah (2): 82 ia menafsirkan dengan ”ketaatan kepada Allah, memenuhi kewajiban-kewajiban kepada Allah dan menjauhi hal-hal yang diharamkan[15] sementara pada QS. al-’As}r (103): 3 dengan ”menjauhi apa larangan dan berbuat ma’siat kepada Allah”.[16]

Dalam bahasa fiqih, disebutkan bahwa segala bentuk perbuatan baik atau amal saleh tergolong sebagai ibadah ghairu mahd}ah, yaitu ibadah yang tidak ditentukan tata cara dan syarat rukunnya. Sedangkan ibadah yang telah ditentukan tata caranya dan syarat rukunnya disebut ibadah mahd}ah. Dilihat dari jenis dan macamnya, ibadah ghairu mahd}ah lebih banyak daripada ibadah mahd}ah. Ibadah mahd}ah hanyalah sholat, puasa, zakat dan haji. Sedangkan ibadah ghairu mahd}ah tidak terhitung jenis dan macamnya, karena semua perbuatan yang baik yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai ibadah, seperti tolong menolong dalam kebaikan, menghadiri undangan, ta’ziyah, menyenangkan orang lain, berwajah ceria bila bertemu orang lain, membersihkan jalan dari berbagai rintangan, menikah, bekerja untuk memberi nafkah kepada diri dan keluarga, bahkan melakukan hubungan suami istri juga merupakan ibadah.

Mengutip pendapat Mustofa Bisri, kesalehan dalam menyembah dan mengabdi pada Allah tidak hanya dalam laku ibadah seperti shalat, puasa dan haji saja, namun juga dalam pergaulan dengan masyarakat dan sesama.[17] Hal ini menunjukkan bahwa kata “as-s}a>lih}a>t” tersebut memiliki cakupan makna yang luas, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dalam arti hubungan dengan sesama manusia. Sedangkan hubungan manusia sendiri masih dibagi dalam beberapa lingkup lagi, seperti hubungan dengan masyarakat pada umumnya, atau bisa juga dalam lingkup yang lebih sempit, yaitu hubungan dalam lingkup keluarga. Dalam keluargapun masih terjadi ambiguitas yang perlu dirinci.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.[18]

Dalam hal ini at-T}abari> menafsirkan kalimat ar-rija>lu qawwa>mu>na ‘ala an-nisa>yang disebutkan pada permulaan ayat di atas, bahwa kaum laki-laki berfungsi mendidik dan membimbing istri-istri mereka dalam melaksanakan kewajiban terhadap Allah dan para suami.[19] Menurut Ibn Kas|i>r, suami adalah qayyim atas istri dalam arti dia adalah pemimpin, pembesar, penguasa dan pendidiknya jika istri bengkok.[20] Muhammad Abduh menambahkan bahwa tugas pemimpin hanyalah mengarahkan, bukan memaksa, sehingga yang dipimpin tetap bertindak berdasarkan kehendak dan pilihannya sendiri, bukan dalam keadaan terpaksa.[21]

Meskipun dalam ungkapan yang berbeda-beda, para mufassir sepakat mengartikan kata qawwa>m sebagai pemimpin. Dalam konteks kalimat itu berarti suami adalah pemimpin atas istrinya. Dalam ayat tersebut juga dijelaskan dua alasan utama mengenai hal itu, yaitu bahwa Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Tetapi dalam ayat itu tidak dijelaskan apa kelebihan laki-laki atas perempuan.

Menurut sebagian mufassir klasik, kelebihan laki-laki tersebut bermuara pada kelebihan akal (kemampuan intelektual), keteguhan hati, kekuatan fisik, menjadi imam shalat, berjihad, pembagian warisan dan menjadi kepala Negara.[22] Sementara mewakili di antara para tokoh kontemporer, menurut Asghar Ali Engineer, keunggulan laki-laki adalah keunggulan fungsional, bukan keunggulan jenis kelamin.[23] Pada masa ayat itu diturunkan, laki-laki bertugas mencari nafkah dan perempuan di rumah menjalankan tugas domestik. Karena kesadaran sosial perempuan waktu itu masih rendah, maka tugas mencari nafkah dianggap sebagai keunggulan. Sementara menurut Amina Wadud, keunggulan laki-laki yang dijamin oleh al-Qur’an hanyalah mengenai warisan.[24]

Mengutip pandangan ‘A>isyah ‘Abd ar-Rah}ma>n bint as-Sya>t}i’ yang dikemukakan oleh Issa J. Boullata, bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang dapat berbeda dengan hak dan kewajiban laki-laki, tetapi perbedaan itu bukan berarti ketidaksetaraan. Perbedaan itu lebih merupakan perbedaan fungsional dan bersifat saling melengkapi dalam sebuah aturan sosial yang senantiasa mensyaratkan peran laki-laki maupun perempuan dengan cara berbeda. Perempuan tetap perempuan, dan laki-laki tetaplah laki-laki. Perbedaan keduanya bukan merupakan persaingan atau perlawanan, tetapi lebih bersifat komplementer dan kerjasama, perkawanan dan harmoni. Laki-laki berada satu tingkat lebih tinggi dari perempuan, menurutnya bukan hak mutlak laki-laki, tetapi merupakan hak bersyarat. Al-Qur’an memberi spesifikasi bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwa>m) bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka hak kepemimpinan menjadi hilang.[25] Bergeser dari perdebatan tersebut, al-Qur’an juga menyebutkan argumen yang menjadi landasan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dimana mereka memiliki kesempatan yang sama dan cenderung tergantung usaha masing-masing untuk meraih kedudukan yang baik di hadapan Allah.[26]

Sebagai konsekuensi dari pemahaman (penafsiran) bahwa laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga sebagaimana dikemukakan, maka para  ulama kemudian menafsirkan bahwa perempuan-perempuan yang taat (قانتات) dan memelihara diri (حافظات للغيب) sebagai sifat perempuan-perempuan saleh yang disebutkan dalam ayat ini, adalah perempuan-perempuan yang tidak hanya memelihara diri dan taat kepada Allah, tetapi juga kepada suami.[27]

Kata al-qunu>t sendiri berarti ketenangan dan konsistensi yang terus dijaga sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Baqarah (2): 238 “waqu>mu> lilla>hi qa>niti>n” berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’, juga tentang Maryam dalam QS. at-Tah}ri>m (66): 12 “wa ka>nat min al-qa>niti>n” dan dia adalah termasuk orang orang yang ta’at. Sementara kata h}a>fiz}a>t dalam konteks ini berarti menjaga hal-hal yang dirahasiakan, sebagaimana diperintahkan Allah untuk dijaga. Dalam hal ini seorang wanita hendaknya menjaga rahasia suami dan rumah tangganya yang diperintahkan Allah untuk dijaga. Ia tidak boleh menjadikan hal-hal rahasia tersebut sebagai bahan perbincangan umum.[28]

Selain itu perlu juga sedikit disinggung, bahwa secara implisit banyak sekali ayat al-Qur’an yang menunjukkan kesalehan seorang istri. Di antaranya dalam konteks istri Nabi terdapat satu ayat yang kandungannya menunjukkan kriteria istri s}a>lih}ah, yaitu pada QS. al-Tahri>m (66): 5 dimana seorang istri yang baik “s}a>lih}ah” adalah yang patuh, beriman dan berpuasa meskipun dalam QS. al-Ahza>b (33): 32 juga dijelaskan bahwa terdapat perbedaan antara istri-istri Nabi dengan wanita pada umumnya. Selain itu pada QS. al-Furqa>n (25): 74 digambarkan bahwa seorang istri dan anak keturunan diharapkan menjadi qurrata a’yun (penenang hati), pada QS. an-Nu>r (24): 31 dan QS. al-Ahza>b (33): 59 lebih lanjut dijelaskan dalam bahasa yang lugas bahwa seorang istri hendaknya menjaga kehormatan mereka dengan menutup aurat dan mengenakan jilbab.

Selain itu, salah satu cara yang digunakan al-Qur’an untuk menyampaikan gagasan tertentu adalah melalui pengisahan tentang tokoh-tokoh baik dalam bentuk individu atau secara umum dapat ditemukan dalam bentuk pengisahan yang berada pada dua kutub yang berlawanan, baik tokoh-tokoh teladan yang menjadi prototype orang-orang beriman maupun pengisahan tentang tokoh-tokoh penentang risalah Tuhan. Setidaknya ada sepuluh wanita yang disebutkan di dalam al-Qur’an (baik yang namanya disebut secara eksplisit maupun yang tidak disebut eksplisit), di antara mereka adalah A>siyah (istri Fir’aun) dalam QS. al-Qas}as} (28): 7-13 & QS. at-Tahri>m (66): 11), Maryam dalam QS. Maryam (19):16-22, QS. A<li ’Imra>n (3): 35-37; 43; 45-47, QS. at-Tahri>m (66): 12), Ibunda Musa dalam QS. al-Qas}as} (28): 7 & QS. T}a>ha> (20): 10-13, Balqis (Ratu Saba’) dalam QS. an-Naml (27): 32-34, H}awa dalam QS. al-Baqarah (2): 35, Zulaikha>’ (istri al-Aziz) dalam QS. Yu>suf (12): 23-35, Istri Abu Lahab dalam QS. al-Lahab (111): 4-5, Istri Nabi Nuh dan Istri Nabi Luth dalam QS. at-Tah}ri>m (66): 10, dan dua wanita penggembala dalam QS. al-Qas}as} (28): 23-28. Dari beberapa kisah tersebut, hanya kisah Asiyah (istri Fir’aun) berbicara dalam konteks seorang istri, sebagai perumpamaan bagi orang yang beriman.


[1] Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Lihat Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, 1994), QS. Al-Hujura>t (49): 13.

[2] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2004), hlm. 192.

[3] QS. Ar-Ru>m (30): 21.

[4] Masdar F. Mas’udi, “Perempuan diantara Lembaran Kitab Kuning” dalam Mansour Fakih (et al.), Membincang Feminisme; Diskursus Gender Perspektif Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 2000), hlm. 167.

[5] QS. An-Nah}l (16): 97.

[6] QS. Luqma>n (31): 14.

[7] QS. An-Nisa>’ (4): 19.

[8] Muh}ammad ibn Makram Ibn Manz}u>r al-Ifri>qi>, Lisa>n al-‘Arab (Kairo: Da>r al-Ma’a>rif, 1974), jilid II, hlm. 516.

[9] Adib Bisri dan Munawwir AF, Kamus al-Bisri (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), hlm. 414.

[10] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 788-789.

[11] Raghib al-As}faha>ni, Mu’jam Mufrada>t li Alfa>z} al-Qur’a>n (Da>r al-Fikr: Beirut, t.t), hlm. 292.

[12] Muh}ammad Fu’a>d ‘Abdul Ba>qi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>z} al-Qur’a>n al-Kari>m (Beirut: Da>r al-Fikr, 1981), hlm. 410-412.

[13] Redaksi tersebut dijumpai pada hampir semua ayat kecuali beberapa ayat, diantaranya dalam QS. al-Kahfi (18): 46 dan QS. Maryam (19): 76 menggunakan redaksi “wa al-ba>qiya>t as-s}a>lih}a>t”, QS. an-Nisa>’ (4): 4 dan QS. T}}a>ha> (20): 112 menggunakan redaksi “wa man ya’mal min as-s}a>lih}a>t”, QS. al-Anbiya>’ (21): 94 menggunakan redaksi “fa man ya’mal min as-s}a>lih}a>t” dan QS. an-Nisa>’ (4): 34 menggunakan redaksi “fa as-s}a>lih}a>t.”

[14] Ibn Jari>r at-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n ‘an Ta’wi>li A>yi al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Fikr, 1995), jilid I, hlm. 245.

[15] At-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n, hlm. 547.

[16] Ibn Jari>r at-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Ma’rifah, 1972), jilid XII, hlm. 187.

[17] Ahmad Mustofa Bisri, Saleh Ritual, Saleh Sosial: Esai-esai Moral (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 28.

[18] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, 1994), QS. an-Nisa>’ (4): 34. Surat ini terdiri dari 176 ayat dan merupakan surat Madaniyah terpanjang setelah surat al-Baqarah. Lihat Departemen Agama RI, al-Qur’an & Tafsirnya (PT. Dana Bhakti Wakaf, 1991), jilid II, hlm. 115. ‘Aisyah ra. istri Nabi saw. menegaskan bahwa surat an-Nisa>’ turun setelah beliau menikah dengan Nabi saw. Hal ini berarti surat ini turun setelah hijrah, karena ‘Aisyah baru bercampur dengan Nabi saw. setelah hijrah, tepatnya delapan bulan sesudah hijrah. Para ulama juga sepakat bahwa surat ini turun setelah surat A>li ‘Imra>n, sedangkan surat tersebut turun pada tahun ketiga hijrah setelah perang Uh}u>d, sehingga ada kemungkinan bahwa surat ini turun setelah perang al-Ah}za>b yang terjadi pada akhir tahun keempat atau awal tahun kelima hijrah. Dinamai dengan an-Nisa>’ karena surat ini banyak berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan wanita, sebagaimana kata an-Nisa>’ sendiri secara bahasa yang berarti “perempuan”. Surat ini juga dikenal dengan nama an-Nisa>‘ al-Kubra, sedangkan surat at-T}ala>q dikenal dengan nama an-Nisa>‘ as-S}ugra. Tujuan utama surat ini menurut al-Biqa>’i adalah menjelaskan persoalan tauhid yang telah diuraikan dalam surat A>li ‘Imra>n, serta ketentuan yang digariskan dalam surat al-Baqarah dalam rangka melaksanakan ajaran agama yang telah terhimpun dalam surat al-Fa>tih}ah, sambil mencegah agar kaum muslim tidak terjerumus dalam jurang perpecahan. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Vol. 2, hlm. 327. Ayat ini juga menjelaskan bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin, pemelihara, pembela dan pemberi nafkah, bertangguung jawab penuh terhadap kaum wanita yang menjadi istri dan keluarganya. Oleh karena itu wajib bagi setiap istri mentaati suaminya. Lihat Departemen Agama RI, al-Qur’an & Tafsirnya, jilid II, hlm. 169.

[19] Ibn Jari>r at-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Ma’rifah, 1972), jilid. IV, hlm. 59.

[20] Al-H}a>fiz{ Ibn Kas|}i>r, Tafsi>r al-Qur’a>n al-Az}i>m (Beirut: Maktabah an-Nu>r al-‘Ilmiyyah, 1991), Jilid I, hlm. 465.

[21] Muhammad ‘Abduh, Tafsir al-Mana>r (Kairo, al-Hai’ah al-Mis}riyyah al-‘A>mmah, 1972), jilid III, hlm. 55.

[22] Az-Zamakhsyari, al-Kasya>f ‘an H}aqa>’iq at-Tanzi>l wa ‘Uyu>n al-Aqa>wi>l fi Wuju>h at-Ta’wi>l (Teheran: Intasyarat Aftab, t.t), jilid. I, hlm. 523.

[23] Asghar Ali Engineer, Hak-hak perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994), hlm. 62.

[24] Amina Wadud, Wanita di dalam al-Qur’an, terj. Yaziar Radianti (Bandung: Pustaka, 1994), hlm. 93-94.

[25] Issa J. Boullata, Dekonstruksi Tradisi Gelegar Pemikiran Arab Islam, terj. Imam Khoiri (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 169-173.

[26] QS. an-Nah}l (16): 97.

[27] Yunahar Ilyas, “Kepemimpinan dalam Keluarga: Pendekatan Tafsir”, AL-INSAN, Vol. 2, 2006, hlm. 35.

[28] Muhammad Syahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Hukum Islam Kontemporer, terj. Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2007), hlm. 271.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s