Kehidupan Rumah Tangga dalam Islam, Egaliter…?

Gambaran perempuan dalam masyarakat muslim abad 20 berbaur antara suram dan cerah. Beberapa kajian mengindikasikan bahwa perempuan dalam dunia Islam masih didominasi oleh gambaran status inferior yang diakibatkan oleh doktrin Islam yang mapan secara sosial. Beberapa negara sudah menerapkan reoformasi hukum namun agak setengah-setengah karena adanya pertentangan yang kuat dari kekuatan konservatif dalam negara tersebut yang secara gigih mempertahankan doktrin Islam yang mapan tentang wanita. Masuk dalam kategori ini  negara seperti Mesir, Suriah, Yordania, Pakistan dan Indonesia.[1]

Meskipun telah ada upaya pemberdayaan perempuan sejak pemerintahan orde baru, menggunakan konsep women in development yang mengadopsi gender and development (gender dan pembangunan) sebagai paradigma pembangunan yang didasarkan pada suatu pandangan mengenai pentingnya keterlibatan perempuan dan laki-laki secara bersama-sama dalam seluruh proses dan tahapan pembangunan, di Indonesia, ketidakadilan dan ketidaksetaraan masih dirasakan oleh kaum perempuan.[2] Hampir di semua wilayah, terutama di pedesaan, adat istiadat tradisional, kepercayaan tabu dan tekanan sosial masih menindas kaum perempuan. Anak-anak perempuan biasanya ditarik dari bangku pendidikan lebih awal, sering dipaksa kawin muda, bahkan ketika menjadi istri atau ibu, kaum perempuan banyak diperlakukan sebagai obyek.

Ideologi yang mengatur norma relasi gender antara suami sebagai pemimpin keluarga dan istri yang selalu dipimpin, secara legal politis diadopsi oleh pemerintah Republik Indonesia dengan UU Perkawinan 1974. Undang-undang perkawinan (UUP) tersebut adalah UUP No. 1 tahun 1974 (UUP) pasal 31 ayat 3 yang berbunyi: “suami adalah kepala rumah tangga dan istri ibu rumah tangga” dan dipertegas pada pasal 34 pada undang-undang yang sama. “suami wajib melindungi istri dan istri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya.”

Terjemah sosial dari peraturan tersebut adalah bahwa istri wajib mengikuti kehendak suami. Pandangan lain yang muncul pada akhirnya adalah bahwa semua peran domestik tanpa tawar menawar merupakan tanggungan istri. Istri berkedudukan sebagai konco wingking, pendamping dan pendukung suami. Peran dan posisi perempuan tereduksi hanya dicukupkan menyandang status istri dan ibu, belum sampai dipandang sebagai manusia utuh yang memiliki otonomi.[3] Budaya lokal dibeberapa daerah di Indonesia, memposisikan suami sebagai kepala keluarga, yang berarti ia memiliki hak atas semua keputusan dengan kepemilikan kehendak seolah-olah tanpa batas.

Beberapa persoalan tersebut menunjukkan bahwa sementara pada level teoritis, reformasi yang dimaksudkan untuk menambah atau meningkatkan status wanita, namun pada taraf pelaksanaannya mereka ditentang secara gigih oleh kekuatan konservatif dengan mempertahankan pembatasan-pembatasan terhadap wanita. Upaya reformasi tersebut belum mampu mengikis budaya patriarkhi yang menyelimuti seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Bagi kelompok feminis, budaya patriarkhi merupakan akar dari seluruh kecenderungan misoginis yang di antaranya terwujud dalam berbagai perilaku diskriminatif terhadap perempuan. Paham patriarkhi membawa kepada timbulnya interpretasi ajaran agama yang memihak kepada kepentingan kaum laki-laki. Persoalan-pesoalan perempuan dalam fiqih boleh dikatakan tidak pernah ditulis berdasarkan pengalaman dan penghayatan keagamaan kaum perempuan itu sendiri, sehingga tidak mengherankan jika fiqih menjadi male bias. Sistem yang dibangun berdasarkan sistem patriarkhi biasanya mengandung upaya pengekangan kebebasan perempuan dalam rumah tangga. Akibatnya kaum perempuan menjadi tidak mandiri dan sangat tergantung pada kaum laki-laki baik secara ekonomis maupun psikologis.

Kompleksitas ajaran Islam dapat dilihat dari tujuan umumnya, yaitu sebagai rah}matan li al-’a>lami>n, terutama dalam mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang ideal. Sebagai salah satu upaya ke arah tersebut, pernikahan merupakan dasar pembentuk dan pembangun masyarakat. Dari sanalah akan muncul generasi-generasi dengan berbagai karakter yang beragam, yang dalam teori sosial, keragaman ini sebagai wujud kedinamisan sebuah tatanan sosial. Sayangnya tradisi bahwa wanita hanya sebagai pelayan suami, pengasuh anak, dan kerja di dapur, dan mengesampingkan peran perempuan sebagai pelayan masyarakat masih dianut sebagian kalangan masyarakat muslim. Ironisnya lagi, hal tersebut dianggap sebagai ajaran Islam tanpa melihat latar belakang kultur sosial dari sejarah bangsa Arab masa lampau.[4]

Wajar seandainya tradisi semacam ini tetap ada karena adanya anggapan bahwa apa yang telah dihasilkan pada masa Nabi saw, tentang hak-hak perempuan merupakan final usaha pembebasan posisi perempuan.[5] Konsekuensinya, jika para perempuan pada zaman Nabi saw, tidak ada yang bekerja di luar rumah atau tidak ada yang memiliki jabatan politik, hal itu dipahami sebagai bentuk larangan bagi perempuan untuk beraktifitas di ranah politik. Mereka yang masih memegang teguh tradisi jahiliah ini beralasan bahwa peran seorang wanita (ibu) adalah mendidik anak.

Masyarakat yang dibangun Nabi saw, adalah bentuk masyarakat Islam pertama (buah pertama), bukan satu-satunya dan bukan juga yang terakhir, karena Nabi saw, berinteraksi dalam koridor batas-batas hukum Allah. Nabi saw, juga terlibat menentukan definisi sebagian masalah yang termasuk dalam batas-batas hukum Allah dan masalah-masalah yang cocok dengan keadaan masyarakat ketika beliau hidup berinteraksi dengan mereka.[6] Menurut A.M. Saefuddin, dalam berbagai konteks, setidaknya seorang perempuan memliki lima peran dan kewajiban yang harus dipenuhinya. Yaitu: kewajiban terhadap agama (wa>jibat di>niyyah), kewajiban terhadap pribadinya (wa>jibat syakhs}iyyah), kewajiban terhadap rumah tangganya (wa>jibat baitiyyah), kewajiban terhadap masyarakatnya (wa>jibat ijtima>‘iyyah) dan kewajiban terhadap negaranya (wa>jibat wat}aniyyah)[7] sehingga banyak tokoh-tokoh kontemporer yang berpandangan bahwa wanita juga berkesempatan untuk terlibat dalam berbagai peran dalam kehidupan. Misalnya peranannya dalam wilayah politik termasuk manifestasinya sebagai pemimpin, bahkan juga menjadi imam shalat bagi laki-laki.[8]

Islam, dalam hal ini dalam kerangka kehidupan rumah tangga, menunjukkan perhatian yang luar biasa mengenai adanya hak-hak dan kewajiban yang dihimpun atas laki laki dan perempuan (suami dan istri). Hubungan tersebut didirikan dengan asas keseimbangan dan timbal balik di antara keduanya dengan harapan adanya keluarga dengan ketenangan cinta, rahmat dan keberlangsungan didalamnya.[9] Dalam menegakkan kehidupan rumah tangga yang sehat, diperlukan adanya hubungan timbal balik sehingga sebuah keluarga diliputi oleh suasana cinta dan harmonis.

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.[10]

Seorang istri dituntut untuk memberikan hak suaminya sebagaimana seorang suami juga memenuhi hak istrinya. Dalam ayat di atas ditegaskan mengenai keharusan melakukan pergaulan yang baik dalam keluarga. Menurut al-Qurt}ubi>, mu’a>syarah bil-ma’ru>f dalam ayat tersebut menggunakan khita>b lil ja>mi atau tidak ditujukan kepada laki-laki saja sebagaimana dipahami pada umumnya di mana laki-laki adalah pemimpin dengan kelebihannya dan wanita dengan kelemahannya, akan tetapi kepada keduanya untuk mempergauli pasangannya dengan baik.[11] Dalam kalimat tersebut juga terdapat makna musya>rakah dan musa>wah (kebersamaan dan kesetaraan)[12] sehingga dapat dipahami bahwa terdapat kewajiban bagi masing-masing pasangan untuk saling membahagiakan pasangannya. Kebersamaan dan kesetaraan tersebut dituangkan dalam segala aspek kehidupan.

Kehidupan rumah tangga juga dibangun atas prinsip kepercayaan, penghargaaan dan penghormatan di antara keduanya. Sehingga pemahaman pergaulan yang baik di sini adalah penggunaan etika, sopan santun dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah saw, memberikan keteladanan dalam pergaulannya dengan istri-istrinya dengan bercanda, membuat istri-istrinya tertawa, berdiskusi dengan mereka bahkan terkadang juga membantu atau mengerjakan sebagian pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan oleh istri-istrinya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Menceritakan kepada kami Muhammad ibn Yahya, menceritakan kepada kami Muhammad ibn Yu>suf, menceritakan kepada kami Sufya>n dari Hisya>m ibn ‘Urwah dari Ayahnya dari ‘A>’isyah berkata: Rasulullah berkata saw, berkata: yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.[13]

حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ قَالَتْ كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

Menceritakan kepada kami A>dam, menceritakan kepada kami Syu’bah, menceritakan kepada kami al-H}akam dari Ibra>hi>m dari al-Aswad berkata: aku bertanya kepada ‘A>isyah apa yang dikerjakan Nabi saw, dirumahnya? ‘A>isyah berkata: beliau mengerjakan pekerjakan yang biasa dilakukan keluarganya dan ketika tiba waktu shalat beliau keluar untuk melaksanakan shalat.[14]

Melalui dua riwayat di atas, dapat dipahami bahwa pergaulan yang baik dalam kehidupan rumah tangga dapat juga diartikan sebagai kerjasama dan pembagian peranan antara suami dan istri. Masing-masing suami istri merupakan pelaku aktif terhadap peranan-peranannya dalam rumah tangga. Masing-masing memiliki dirinya sendiri namun merupakan kesatuan yang melengkapi satu sama lain.

Seorang laki-laki tidak dapat hidup jauh dari seorang istri, begitu juga sebaliknya karena masing-masing adalah tempat mendapatkan ketenangan hati. Di antara konsekuensi pergaulan yang baik sebagaimana dimaksud di atas, adalah kewajiban saling menjaga kesucian dengan adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan biologis. Tuntutan tersebut merupakan salah satu alasan penting sehingga disyari’atkannya adanya pernikahan. Melalui pernikahan masing-masing dapat menjaga kesucian dirinya dari perbuatan yang dilarang dalam Islam. Selain itu pernikahan adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan keturunan. Hanya perempuanlah yang dibekali dengan organ-organ reproduksi sehingga wajar jika Islam menaruh pehatian besar pada perempuan untuk melahirkan anak karena hal itu merupakan proses yang transendental dan suci.[15]

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.[16]

Oleh karena itu tidak di perkenankan salah satu di antara pasangan menolak hak pasangannya untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan biologis, kecuali terdapat hal-hal yang dapat mencegahnya secara syar’i seperti haid, nifas, puasa wajib, ihram ataupun sakit. Hubungan seksual adalah ibadah ketika disalurkan pada tempat yang dihalalkan. Ketidakseriusan pasangan memenuhi kebutuhan ini pada pasangannya adalah hal yang dapat merusak keberlangsungan rumah tangga karena insting seksual merupakan insting paling kuat atau di antara yang paling kuat dalam perilaku manusia,[17] sehingga dalam konstruk fiqih banyak ulama’ yang merumuskan bahwa seorang suami tidak diperkenankan meninggalkan istrinya ataupun sebaliknya lebih dari empat bulan. Selain beberapa hal tersebut, saling mendapatkan warisan merupakan hak bersama yang diperoleh sebagai konsekuensi adanya pernikahan. Hak tersebut dapat diperoleh ketika salah satu di antaranya meninggal setelah terjadinya akad nikah bahkan sebelum terjadinya dukhul (hubungan seksual) sekalipun.[18]

Pada dasarnya Islam adalah agama yang menekankan spirit keadilan dan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Relasi gender (perbedaan laki-laki dan perempuan yang kodrati) dalam masyarakat yang cenderung kurang adil merupakan kenyataan yang menyimpang dari spirit Islam yang menekankan pada keadilan. Secara umum nampaknya al-Qur’an mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah perbedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan yang lain. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung terciptanya hubungan yang harmonis yang diisyaratkan dalam QS. ar-Ru>m (30): 21 sebagai cikal bakal terwujudnya komunitas ideal dalam suatu negeri yang damai penuh ampunan Tuhan sebagaimana diisyaratkan dalam QS. As-Saba’ (34): 15.


[1] Atho Mudzhar, “Status Wanita dalam Islam dan Masyarakat Muslim, Sebuah Pendekatan Sosiologis” dalam Hasan Hanafi (dkk.), Islam dan Humanisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 119.

[2] Siti Musdah Mulia, Islam & Inspirasi Kesetaraan Gender (Yogyakarta: Kibar Press, 2006), hlm. 41-42.

[3] Neng Dara Afifah. “Perkawinan dan Agama-agama, Teropong Ulang terhadap Tujuan, Fungsi dan Aturan Perkawinan”,  Musawa, 2 September 2004, hlm. 137-138.

[4] Siti Musdah Mulia, Islam & Inspirasi Kesetaraan Gender, hlm. 12.

[5] Muhammad Syahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Hukum Islam Kontemporer, terj. Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2007), hlm. 227.

[6] Muhammad Syahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika, hlm. 229.

[7] A.M. Saefuddin “Kiprah dan Perjuangan Perempuan Shalihat” dalam Mansour Fakih (et al.), Membincang Feminisme: Diskursus Gender Perspektif Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 2000), hlm. 70.

[8] Muhammad al-Habsyi, Muslimah masa Kini, Fatwa-fatwa Seputar Kegiatan Wanita di Luar Rumah, terj. Aang SM (Bandung: Mujahid Press, 2004), hlm. 76.

[9] Sami>rah Jami>l Miski, Maka>nat al-Mar’ah fi al-Usrah wa Dawruha at-Tarbawi fi Manz{u>r al-Isla>m (Da>r al-Kutub al-Ilmiya>t: Beirut, 2006), cet. I, hlm. 76-77.

[10] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, 1994), QS. an-Nisa>’ (4): 19.

[11] ‘Abdullah Muh}ammad ibn Ah}mad al-Ans}a>ri> al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’ li Ah}ka>m al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Fikr, 1994), jilid. III, hlm. 85.

[12] Ah}mad Mus}t}afa al-Mara>gi>, Tafsi>r al-Mara>gi> (tt: Matba’ah Mus}afa al-Ba>bi al-H}alibi, 1974), jilid 4, hlm. 213.

[13] Abi> ‘Isa Muha}ammad ibn Su>rah at-Turmuz|i, al-Ja>mi’ as-S}ahi>h} wa Huwa Sunan at-Turmuz|i, Hadits No. 3890 (Beirut: Da>r al-Fikr, 1993), hlm. 667.

[14] Muh>ammad Isma’i>l al-Bukha>ri>, S}ah}i>h> al-Bukha>ri>, Hadits No. 676 (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007),  hlm. 133.

[15] Siti Ruhaini Dzuhayatin, “Gender dalam Perspektif Islam” dalam Mansour Fakih (et al.), Membincang Feminisme; Diskursus Gender Perspektif Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 2000), hlm. 241.

[16] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, QS. al-Mu’minu>n (23): 5-6.

[17] Sami>rah Jami>l Miski, Maka>nat al-Mar’ah fi al-Usrah, hlm. 106-107.

[18] Muhammad Syahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika, hlm. 240.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: