Klasifikasi Hadis Perspektif Sunni & Syi’ah

Pendahuluan

Sebagaimana ditulis Hasyim al-Musawi, sepeninggal Nabi saw, Syi’ah lahir dalam pergumulan panjang golongan yang mengatasnamakan pengikut-pengikut setia ‘Ali> ra, dan Ahlul Bait. Dalam perkembangannya, golongan ini menjadi sebuah eksistensi politik, intelektual dan doktrinal yang turut memainkan peranan dan pengaruhnya dalam sejarah kebudayaan dan kehidupan umat Islam hingga sekarang.[1]

Dalam wilayah teologis, salah satu yang membedakan antara Sunni dan Syi’ah adalah bahwa dalam tradisi Syi’ah, setelah wafatnya Nabi saw, h}ujjah keagamaan tidak berhenti melainkan secara estafet diteruskan kepada para imam. Perbedaan teologis tersebut juga berimplikasi terhadap sumber-sumber ajaran, dimana meskipun kedua golongan tersebut sama-sama mengakui bahwa al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam, namun terhadap sumber ajaran kedua (sunnah) nuansa sektarian mendukung kepentingan-kepentingan kelompok masing-masing terlihat dalam kitab-kitab kompilasi hadis yang digunakan, terlebih setelah masa pembukuan hadis (tadwi>n).[2]

Jika dalam Sunni dikenal S}ah}ih}ain atau Kutub at-Tis’ah S}ah}ih} Bukhari> & Muslim, Sunan an-Nasa>’i>, Abu> Da>wud, at-Turmuz|i>, Ibn Ma>jah & ad-Da>rimi>, Muwat}t}a’ Ma>lik dan Musnad Ah}mad ibn Hanbal ” sebagai rujukan utama, Syi’ah dikenal dengan Kutub al-Arba’ah­-nya yaitu “al-Ka>fi> fi>’Ilm ad-Di>n” yang ditulis oleh Abu> Ja’far Muh}ammad bin Ya’qu>b bin Ish}a>q al-Kulaini ar-Ra>zi> (w. 328 H/ 939 M), “Man La> Yah}d}uruh al-Faqi>h” ditulis Abu> Ja’far Muh}ammad bin ‘Ali> bin Babawih al-Qummi> (w. 381 H), “Tahz|i>b al-Ah}ka>m fi> Syarh} al-Muqni’a” dan “al-Istibs}a>r fi> ma> Ikhtalaf al-Akhba>r” ditulis Abu> Ja’far Muh}ammad bin al-H}asan bin ‘Ali> bin al-H}asan at-Tu>si> (w. 460 H).[3] Perbedaan tersebut secara otomatis juga berimplikasi terhadap penilaian, klasifikasi dan aturan main yang dirumuskan untuk melihat kualitas informasi-informasi didalamnya. Secara sederhana tulisan ini berupaya mengungkap klasifikasi hadis dalam dua tradisi tersebut, berikut “harapan” untuk menemukan implikasinya dalam ajaran Islam.

Hadis, Konteks Sunni dan Syi’ah

Dalam tradisi sunni pada umumnya, hadis adalah ucapan, perbuatan, ketetapan juga sifat-sifat atau segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw, atau bagi kalangan us}u>l al-fiqh lebih pada kaitannya dengan syari’at Islam. Demikian dapat dipahami bahwa term hadis identik dengan istilah sunnah, khabar dan as|ar meskipun secara teknis memiliki perbedaan dalam penggunaannya.[4]

Berbeda dengan Sunni, dalam tradisi Syi’ah, hadis atau khabar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada yang ma’s}u>m (Nabi saw dan Imam dua belas)[5] baik ucapan tindakan dan sesuatu yang ditetapkannya. Dalam hal ini segala informasi yang tidak disandarkan kepada ma’s}u>m tidak dapat disebut sebagai hadis, seperti informasi yang disandarkan kepada para s}aha>bat atau ta>bi’i>n yang disebut sebagai as|ar. Mirip dalam tradisi Sunni, dalam tradisi Syi’ah dikenal khabar mutawa>tir atau sebuah khabar yang dianggap memiliki manfaat, diriwayatkan oleh banyak periwayat (sepuluh, dua puluh, empat puluh dan tujuh puluh) dan dipastikan kebenarannya. Berdasarkan aspek content atau isi dari sebuah khabar dipetakan antara mutawa>tir lafz}i> dan ma’nawi>.

khabar atau riwayat yang tidak dalam kategori mutawa>tir tersebut disebut sebagai khabar a>h}a>d atau wa>hid. Dalam pengertian khabar a>h}a>d tersebut jika tidak lebih dari tiga riwayat disebut khabar mustafi>d}, jika tidak lebih dari dua riwayat disebut khabar ‘azi>z, begitu juga dengan khabar yang hanya diriwayatkan oleh satu orang disebut sebagai khabar ghari>b.[6]

Sebagaimana dikutip oleh Shifatur Rahmah terkait dengan penerapannya dalam ajaran, secara umum  tradisi Syi’ah memetakan content khabar dalam tiga bagian, yaitu:[7]

  1. Khabar dan riwayat yang mengandung petunjuk pembersihan jiwa, akhlak, nasehat cara-cara pengobatan penyakit hati, persoalan kesehatan, manfaat buah-buahan, tumbuhan, air, batu mulia, do’a, zikir, keutamaan ayat-ayat al-Qur’an serta segala sesuatu yang disunnahkan, baik dalam pembicaraan, perbuatan maupun sikap. Dalam hal ini teks-teks khabar dalam tradisi Syi’ah dapat dijadikan landasan ibadah tanpa perlu melakukan kritik atau verivikasi terhadap kualitas sanad dan matan, kecuali terdapat indikasi yang menunjukkan kepalsuannya.
  2. Khabar yang mengandung hukum syara’ parsial, takli>fi> atau wad}’i> semisal tata cara t}aharah, wudlu, shalat, zakat, jihad, t}alaq, warisan h}udu>d dan sebagainya. Dalam hal ini dalam tradisi Syi’ah, khabar dan riwayat tersebut tidak boleh langsung dijalankan, namun melalui proses perumusan dan pertimbangan seorang mujtahid.
  3. Khabar dan riwayat yang mengandung pokok-pokok aqidah semisal tentang tauh}i>d, nubuwwah, ima>mah barzakh, sira>t}, mi>za>n, hisa>b dan sebagainya. Dalam tradisi Syi’ah, jika khabar dan riwayat sesuai dengan rasionalitas dan memiliki urgensi, ia dapat dijalankan tanpa melakukan kritik atau verivikasi.

Klasifikasi Perspektif Sunni

Dalam tradisi Sunni, secara umum hadis dapat dilihat dan dipetakan berdasarkan tiga aspek sebagaimana berikut:

Berdasarkan Kuantitas Periwayat

  1. Mutawa>tir: Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh banyak rawi, dan secara umum dinilai tidak memungkinkan melakukan konspirasi untuk berdusta mulai awal hingga akhir sanad. Dalam pengertian ini, terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah atau banyaknya periwayat empat, sembilan, sepuluh, sebelas, dua puluh, empat puluh, tujuh puluh dst. Kategori mutawatir ini kemudian dipetakan menjadi mutawa>tir lafz}i> (satu lafaz} & makna) dan ma’nawi> (berbeda lafaz}, satu makna).[8]
  2. Masyhu>r: Sebagaimana istilah yang digunakan, hadis masyhu>r adalah hadis yang secara kuantitas tergolong populer namun belum memenuhi kualifikasi hadis mutawa>tir.[9] Tentang jumlah periwayat juga terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan tiga periwayat dalam setiap tingkatan. Dalam perkembangannya, pengertian ini juga dinilai rancu melihat perbedaan tingkat popularitas sebuah hadis dikalangan ahli hadis, ulama’ atau masyarakat, ahli fiqih (fuqaha>’), ahli us}u>l al-fiqh, ahli bahasa dan sebagainya.
  3. A>h}a>d: Sebuah hadis yang secara kuantitas rawi atau periwayatnya tidak memenuhi kuantitas hadis mutawa>tir dan masyhu>r sebagaimana dijelaskan diatas. Dalam hal ini ada juga yang mengkategorikan hadis a>h}a>d menjadi tiga bagian yaitu hadis masyhu>r, ‘azi>z (dua periwayat) dan ghari>b (satu periwayat dalam semua tingkatan).[10]

Berdasarkan Penerimaan atau Penolakan (maqbu>l atau mardu>d)

  1. S}ah}i>h}: Sebuah hadis dengan ketersambungan sanad hingga Nabi saw, tidak memiliki syaz| (kejanggalan), ‘illah (cacat) dan diriwayatkan oleh orang-orang yang adil serta d}a>bit. dalam pengertian ini, dikenal pemetaan s}ah}i>h} liz|atih (memenuhi kualifikasi secara intern) dan lighairih (berdasarkan faktor ekstern).[11]
  2. H}asan: Sebuah hadis yang sanadnya bersambung, tidak rancu atau memiliki cacat, diriwayatkan oleh periwayat yang adil, hanya saja sang periwayat dinilai rendah daya hafalnya. Sebagaimana hadis s}ah}i>h, dalam kategori ini juga dikenal pemetaan h}asan liz|atih dan lighairih.[12]
  3. D}a’i>f: Sebuah hadis yang tidak memenuhi kualifikasi hadis s}ah}i>h ataupun juga h}asan sebagaimana dijelaskan di atas. Semisal akibat terputusnya sanad di antara periwayat atau terdeteksinya periwayat yang tidak dikenal dan sebagainya. Dalam pengertian lemah dan ditolaknya sebuah hadis, pada umumnya dipetakan dalam dua kategori, yaitu karena aspek tidak bersambungnya sanad semisal mursal (riwayat tabi’i>n yang di-marfu>’kan atau secara langsung disandarkan pada Nabi saw.), munqat}i’ (seseorang dalam sebuah sanad yang tidak disebutkan namanya), mu’d}al (dua rawi gugur secara berurutan dalam sebuah sanad), mudallas (penyamaran dari sisi sanad maupun guru) dan mu’allal (mengandung cacat). Dan sebab-sebab lain semisal mud}a’af (diperdebatkan kuat & lemahnya), mud}t}arrib (satu level kualitas namun bertentangan dan berindikasi na>sikh mansu>kh), maqlu>b (terjadi perubahan dalam sanad maupun matan), matru>k (periwayat dikenal sebagai pendusta, pelupa, banyak menghayal dsb.), mat}ru>h} (periwayat yang riwayatnya tidak dihiraukan), maud}u>(hadis palsu atau direkayasa demi kepentingan tertentu) dan sebagainya.[13]

Berdasarkan Person yang Menyampaikan

Berdasarkan disandarkannya sebuah hadis, dikenal istilah hadis marfu>, mauqu>f dan maqt}u>’. Secara berurutan disebut hadis marfu> karena memuat informasi ucapan dan perbuatan yang disandarkan kepada Nabi saw, begitu juga dengan hadis mauqu>f yang disandarkan kepada sahabat dan maqt}u>’ yang disandarkan kepada tabi’i>n baik sanadnya bersambung ataupun tidak.[14]

Klasifikasi Perspektif Syi’ah

Pada awalnya penilaian khabar a>h}a>d hanya dipetakan berdasarkan penerimaan atau penolakannya (maqbu>l & mardu>d). Dalam perkembangannya, pada abad ke tujuh Hijriah melalui perdebatan yang panjang akhirnya pemetaan tersebut dirumuskan menjadi h}asan, s}ah}i>h}, muwas|s|aq dan d}a’i>f. Sekilas penjelasan sebagaimana berikut:

  1. S}ah}i>h}: Sebuah hadis yang sanadnya bersambung  kepada imam ma’s}u>m serta adil dalam semua tingkatan. Dalam kategori ini kemudian dipetakan kembali dalam tiga bagian a’la> (disepakati berkeduduan s}ah}i>h} berdasarkan kaidah yang berlaku, disaksikan oleh dua orang adil), awsat} (disepakati berkedudukan s}ah}i>h) dan adna> (disepakati berkedudukan s}ah}i>h} berdasarkan ijtiha>d).[15]
  2. H}asan: Sebuah hadis yang tidak sesuai dengan nas}s} (rekomendasi) namun sanadnya bersambung  kepada Ima>m al-Mamdu>h} (Imam yang terpuji) karena keadilannya dalam semua tingkatan.[16]
  3. Muwas|s|aq: Sebuah hadis yang sesuai dengan nas}s} namun diriwayatkan oleh seseorang yang bukan dari kalangan Syi’ah. Hadis tersebut disebut hadis qawiyy (kuat) periwayat tersebut dinilai s|iqah, meskipun aqidah periwayat tersebut dianggap fasa>d (rusak).[17]
  4. D}a’i>f: Sebuah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria di atas. Dalam pengertian ini dikenal juga pemetaan semisal mursal, munqat}i’, mu’d}al, mud}a’af, mud}t}arrib, matru>k, mat}ru>h}, mudallas, mu’allal dan sebagainya sebagaimana dalam tradisi Sunni. Namun dalam tradisi Syi’ah, hadis mauqu>f (disandarkan pada s}ah}abat)[18] dan maqt}u> (disandarkan pada ta>bi’i>n) termasuk hadis yang ditolak karena tidak melalui transmisi yang ma’s}u>m.[19]

Implikasi atas Ajaran Islam

Dalam upaya menguak implikasi terhadap ajaran Islam atas adanya fenomena perbedaan klasifikasi hadis dalam tradisi Sunni-Syi’ah sebagaimana sekilas diuraikan diatas, terdapat beberapa persoalan lain yang perlu dipecahkan semisal standar dalam melakukan penilaian terhadap periwayat (rija>l al-hadi>s| atau jarh} & ta’di>l) atau kaidah-kaidah yang digunakan dalam merumuskan suatu aturan hukum (us}u>l al-fiqh}) yang berbeda dalam kedua tradisi tersebut. Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat fenomena tersebut secara objektif.

Dalam hal ini kiranya menarik untuk mengutip beberapa teks (hadis), hanya sebagai perbandingan tentang nikah mut’ah sebagai satu tema yang cukup sering diperdebatkan dalam dua tradisi tersebut.

Mut’ah Sunni

‘Ali> telah menceritakan kepada kami, Sufya>n telah menceritakan kepada kami bahwa ’Amr berkata: “Dari al-H}asan bin Muh}ammad dari Ja>bir bin ‘Abdillah dan Salamah bin al-Auka’, mereka berdua berkata”: “Kami berada di lembah Jaysy, Rasulullah saw, mendatangi kami dan berkata”: “Diizinkan kepada kalian untuk bermut’ah, maka bermut’ahlah.” Ibn Abi> Z|i’b berkata: “Iya>s bin Salamah bin al-Auka’ telah menceritakan kepada kami dari bapaknya, dari Rasulullah saw,”: “Wahai para laki-laki dan perempuan bersepakatlah, bergaullah diantara kalian tiga malam, jika kalian saling menyukai maka lanjutkan atau kalian dapat saling meninggalkan, maka aku tidak tahu apakah sesuatu secara khusus bagi kita atau manusia pada umumnya.Abu> ‘Abdullah berkata: “‘Ali> menjelaskan dari Nabi saw, bahwa hal itu telah di-mansu>kh.”[20]

Telah menceritakan kepada kami Ma>lik bin Isma>’i>l, menceritakan kepada kami ibn ‘Uyainah bahwasannya ia mendengar az-Zuhri> berkata: “Telah mengabarkan kepadaku al-H}asan bin Muh}ammad bin ‘Ali> dan saudaranya ‘Abdullah bin Muh}ammad dari ayah mereka, bahwa sesungguhnya ‘Ali> ra, berkata kepada ibn ‘Abba>s: “Bahwasannya Nabi saw, melarang mut’ah dan daging keledai peliharaan pada perang Khaibar.[21]

Sebagaimana terlihat dalam dua hadis yang dikutip dari S}ah}i>h} al-Bukha>ri diatas pada awalnya nikah mut’ah pernah diperbolehkan namun kemudian dilarang oleh Nabi saw. Melihat teks pertama, dalam transmisi sanad terlihat nama al-H}asan bin Muh}ammad (al-H}asan putra ‘Ali> bin Abi>> T}a>lib), begitu juga dengan teks ke-dua dimana H}asan juga meriwayatkan bahwa ‘Ali bin Abi>> T}a>lib pernah mengatakan kepada Ibn ‘Abba>s bahwa mut’ah dilarang oleh Rasulullah pasca perang Khaibar, sementara dalam tradisi Syi’ah, ‘Ali> dan H}asan adalah yang ma’su>>m. Terlepas dari bagaimana otentisitas dan klasifikasi kualitas hadis tersebut dalam tradisi Sunni, yang menarik adalah kedua teks tersebut tidak ditemukan dalam literatur tradisi Syi’ah semisal dalam al-Furu>’ min al-Ka>fi>-nya al-Kulaini.

Mut’ah Syi’ah

Sejumlah sahabat kami, dari Sahli bin Ziya>d dan ‘Ali> bin Ibra>hi>m dari bapaknya dari ibn Abi> Najra>n dari ‘A>s}im bin H}umaid dari Bas}i>r berkata: “Aku bertanya kepada Abu> Ja’far tentang mut’ah, ia berkata bahwa telah turun QS. an-Nisa> (4): 24 (Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar).”[22]

‘Ali> dari bapaknya dari ibn Abi> ‘Umair bin Uz|ainah dari Zura>rah berkata: “‘Abdullah bin ‘Umair al-Lais|i> datang kepada Abu> Ja’far dan berkata kepadanya”: “Apa yang engkau katakan tentang mut’ah,” Abu> Ja’far berkata: “Allah menghalalkannya dalam Kitab dan melalui lisan Nabi-Nya, mut’ah halal hingga hari kiamat.” Ibn ‘Umair berkata: “Wahai Abu> Ja’far, sepertimu berkata tentang hal ini, ‘Umar telah mengharamkan dan melarang hal itu (mut’ah).” Abu> Ja’far berkata: “Aku melindungimu dengan nama Allah atas yang diharamkan ‘Umar. Engkau atas ucapan sahabatmu, dan aku atas ucapan Rasulullah saw, maka seterusnya aku memutuskan kepadamu bahwa kebenaran adalah yang diucapkan Rasulullah saw, dan yang batil adalah ucapan sahabatmu.”[23]

Khabar dengan tema mut’ah dalam al-Furu>’ min al-Ka>fi>-nya al-Kulaini> sebagaimana dikutip diatas, selain disandarkan kepada Abu> Ja’far (termasuk ma’su>m), khabar tersebut juga menjadikan QS. an-Nisa>’ (4): 24 sebagai legitimasi atas bolehnya nikah mut’ah. Terlepas dari otentisitas dan klasifikasi kualitas hadis tersebut dalam tradisi Syi’ah, nampak tidak ada teks (khabar) yang menunjukkan adanya pembatalan mut’ah sebagaimana dalam tradisi Sunni.

Penutup

Sekilas pembacaan terhadap dua tradisi Islam (Sunni-Syi’ah) melalui keterbatasan sumber dan informasi yang diperoleh, berkaitan dengan persoalan otentisitas, verivikasi dan klasifikasi masing-masing tradisi terhadap hadis yang diyakini sebagai sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, dapat ditarik sebuah pemahaman sederhana bahwa pertentangan kepentingan-kepentingan politik yang kemudian juga bergeser pada wilayah teologis mampu mempengaruhi sistem yang dipakai termasuk dalam merumuskan ajaran.


[1] Hasyim al-Musawi, Mazhab Syiah; Asal-usul dan Keyakinannya terj. Ilyas Hasan (Jakarta: Lentera, 1996), hlm. 19.

[2] Tentang sejarah pembukuan (tadwi>n) hadis dalam tradisi syi’ah lihat selengkapnya misalnya dalam ‘Ali> Ah}mad as-Sa>lu>s, Ma’a al-Is|na ‘Asyariyyah fi> al-Us}u>l wa al-Furu>’ (Mesir: Maktabah Da>r al-Qur’a>n, 2003), hlm. 671.

[3] I.K.A Howard, “al-Kutub al-Arba’ah; Empat Kitab Hadis Utama Mazhab Ahlul Bait” dalam Jurnal al-Huda, Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, Vol. II, No. 4, 2001, hlm. 10.

[4] ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H}adi>s} ‘Ulu>muhu wa Mus}t}alah}uh (Beirut: Da>r al-Fikr, 1989), hlm. 17-27.

[5] Secara berurutan ‘Ali> bin Abi> T}a>lib (w. 40 H), al-H}asan bin ‘Ali> bin Abi> T}a>lib (3-50 H), al-H}usain bin Ali> (4-61 H), ‘Ali> bin H}usain (Zainal ‘A>bidi>n) (38-94 H), Muh}ammad bin ‘Ali> bin H}usain (al-Ba>qir) (57-117 H), Ja’far bin Muh}ammad (as-S}a>diq) (80-148 H), Mu>sa> bin Ja’far bin Muh}ammad (al-Ka>z}i>m) (128-183 H), ‘Ali> bin Mu>sa> ar-Rid}a> (148-203 H), Muh}ammad bin ‘Ali> al-Jawwa>d (195-220 H), ‘Ali> bin Mu>sa> al-Ha>di> (214-254 H), al-H}asan bin Mu>sa> al-‘Askari> (232-260 H) dan Muh}ammad bin al-H}asan al-Mahdi>. Hasyim al-Musawi, Mazhab Syiah…, hlm. 213-214.

[6] ‘Ali> Ah}mad as-Sa>lu>s, Ma’a al-Is|na ‘Asyariyyah…, hlm. 703.

[7] Wahyuni Shifatur Rahmah, “Epistemologi Hadis dalam Pandangan Sunni dan Syi’ah” dalam Jurnal Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an & Hadis, Vol. 7, No. 2, Juli 2006.

[8] ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H}adi>s}…, 301.

[9] ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H}adi>s}…, hlm. 302.

[10] ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H}adi>s}…, hlm. 302.

[11] Nu>r ad-Di>n ‘Itr, Manhaj an-Naqd fi> ‘Ulu>m al-Hadi>s| (Damsyiq: Da>r al-Fikr, 1981), hlm. 242.

[12] Nu>r ad-Di>n ‘Itr, Manhaj an-Naqd…, hlm. 264.

[13] Nu>r ad-Di>n ‘Itr, Manhaj an-Naqd…, hlm. 286.

[14] Ibn S}alah}. ‘Ulu>m al-Hadi>s} ditah}qi>q oleh Nu>r ad-Di>n ‘Itr (Beirut: Da>r al-Fikr, 1986), hlm. 45-47.

[15] Ja’far as-Subh}a>ni>, Us}u>l al-H}adi>s| wa Ah}ka>muhu fi> ‘Ilm ad-Dira>yah (Qum: Maktabah at-Tauh}i>d, 1993), hlm. 48.

[16] Ja’far as-Subh}a>ni>, Us}u>l al-H}adi>s|…, hlm. 48.

[17] Ja’far as-Subh}a>ni>, Us}u>l al-H}adi>s|…, hlm. 48.

[18] Dalam hal ini Syi’ah menolak pendapat pada umumnya dimana pengertian “S}ah}abat” adalah orang yang bertemu, mengimani Nabi saw, dan meninggal sebagai muslim. Lebih dari itu golongan Syi’ah berpendapat bahwa “s}ah}abat” adalah orang-orang yang percaya, dekat, mendengarkan dan ikut dalam misi dan aktivitas Nabi saw. Hasyim al-Musawi, Mazhab Syiah…, hlm. 227.

[19] Ja’far as-Subh}a>ni>, Us}u>l al-H}adi>s|…, hlm. 48.

[20] Dikutip dari Ibn H}ajar al-‘Asqala>ni>, Fath} al-Ba>ri> bi Syarh}i S}ah}i>h} al-Bukhari> ditah}qi>q ‘Abdul Qa>dir Syaibah (Madinah:Maktabah al-Mulk, 2001), Jilid 9, hlm. 71.

[21] al-‘Asqala>ni>, Fath} al-Ba>ri>…, hlm. 72.

[22] Abu> Ja’far Muh}ammad bin Ya’qu>b al-Kulaini>, al-Furu>’ min al-Ka>fi> ditah}qi>q ‘Ali> Akbar al-Ghiffa>ri> (Iran: Mu’assasah Ans}a>riyya>n, 2005), hlm. 1387.

[23] al-Kulaini>, al-Furu>’ min al-Ka>fi…, hlm. 1388.

3 thoughts on “Klasifikasi Hadis Perspektif Sunni & Syi’ah

  1. Kalau kita meyakini bahwa islam adalah agama fitrah bagi kehidupan manusia secara indifidu dan bermasyarakat. Sudah semakin banyak bukti bahwa alqur’an adalah wahyu, bukan ciptaan manusia. Menurut alqur’an wahyu sudah berakhir pada rasulnya Muhammad s.a.w, dan agama islam sudah sempurna. Artinya semua yang mengaku pernah menerima wahyu adalah bohong. Karena islam sudah sempurna maka kalau ada yang mengaku menjadi mujjadid agama islam adalah bohong. Maka orang yang menambah hukum diluar hukum yg dibakukan dalam kitab alqur’an utsmani adalah bohong. Hadits yang tidak bersumber kepada rasullullah adalah bohong. Maka seharusnya orang menambah alqur’an dan hadits rasullullah seharus tidak boleh menompang kepada nama “ISLAM” dan bagi pengikutnya lebih baik mangakui bahwa ia bukan penganut ISLAM. Kalau kita analogikan pada paten buku, maka orang tersebut boleh disebut “plagiat”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s