Kisah Yunus dalam al-Qur’an dan Alkitab

Pendahuluan

Zaman selalu bergerak dan berubah termasuk semangat di dalamnya. Jika pada masa lampau semangat ekonomi adalah berbasis agraris, masa sekarang telah berubah menjadi industri. Jika semangat sosial pada masa lampau adalah feodalisme, maka sekarang telah berubah menjadi egalitarian. Politik masa lampau adalah teokrasi dan sekarang adalah semangat demokrasi. Begitu juga dengan agama, jika dulu semangat beragama adalah semangat otoritarian, maka masa sekarang adalah masa humanitarian. Begitu seterusnya termasuk persoalan hukum (tuhan: keadilan), negara (agama: bangsa) bahkan keluarga (patriarkhi: demokrasi).

Bertoleransi merupakan isu-isu modern dalam beragama, dimana harapannya adalah kehidupan damai saling berdampingan antar semua pemeluk agama. Salah satu ekspresi dalam upaya kehidupan bertoleransi tersebut adalah dengan melakukan dialog termasuk saling membuka diri memperkenalkan tradisi masing-masing. Melalui perbandingan kitab suci misalnya, sebagaimana diupayakan dalam tulisan singkat ini. Perbandingan antara keduanya (al-Qur’an dan Alkitab) tidak berusaha untuk mencari titik temu dengan motivasi mempersatukan agama, namun untuk mengakomodir bahwa harus diakui bahwa dalam kedua kitab suci tersebut terdapat cerita kuno berikut tokoh-tokoh didalamnya yang memiliki kemiripan. Dalam pada itu, keterbukaan kedua tradisi (Islam & Kristen) sangat dibutuhkan untuk saling bertukar informasi terkait dengan persoalan tersebut. Namun jauh dari harapan karena terbatasnya waktu juga kesulitan mengolah informasi yang diperoleh, tulisan ini harus puas pada perbandingan lahiriah, tidak sampai pada misalnya pembacaan hermeneutis hingga persoalan implikasi dari teks tersebut berdasarkan perbedaan konsep-konsep teologis dan sebagainya.

Yu>nus dalam al-Qur’an dan Alkitab

Nama Yu>nus diabadikan dan dijadikan sebagai salah satu surat dalam al-Qur’an. Dalam mushaf usmani, surat Yu>nus menempati urutan ke-10 dan terdiri 109 ayat. Meskipun dinamai surat Yu>nus, dalam surat ini kis’ah Nabi Yu>nus hanya disebutkan dalam satu ayat. Secara lebih detail kisah Nabi Yu>nus ditemukan dalam surat as-S}a>ffa>t. Dalam surat ini kisah Nabi Yu>nus disebutkan dalam 10 ayat secara berurutan yaitu pada ayat 139 sampai 148.

Kata Yu>nus sendiri dalam al-Qur’an sendiri disebutkan sebanyak 4 kali dan 1 kali dengan nama “z|a> an-nu>n”:

  1. QS. an-Nisa>’ (4): 163, dalam ayat ini nama Yu>nus berdampingan dengan Nabi Ibra>hi>m, Isma>’i>l, Ish}a>q, Ya’qu>b dan anak cucunya, kemudian ‘I<sa>, Ayyu>b, Ha>ru>n, Sulayma>n dan Da>wud.
  2. QS. al-An’a>m (6): 86, dalam ayat ini nama Yu>nus berdampingan dengan Nabi Isma>’i>l, Ilyasa’, dan Lu>t}. Sementara 2 ayat sebelumnya (84 dan 85) menyebutkan Nabi Ish}a>q, Ya’qu>b, Nu>h},  Da>wud, Sulayma>n, Ayyu>b, Yu>suf, Mu>sa>, Ha>ru>n, Zakariyya>, Yah}ya>, ‘I<sa> dan Ilya>s.
  3. QS. Yu>nus (10): 98, kisah Nabi Yu>nus hanya disebutkan dalam ayat tersebut, sementara dalam ayat sebelumnya kisah Nabi Nu>h (71-74), Mu>sa dan Ha>ru>n (75-93) diuraikan lebih detail.
  4. QS. as-S}affatt (37): 139, dan 9 ayat  berikutnya (140-148) lebih detail menguraikan kisah Nabi Yu>nus.[1] Beberapa ayat sebelumnya juga menyebutkan Nabi Nu>h (75-82), Ibra>hi>m (83-99), Isma>’i>l (100-111), Ish}a>q (112-113), Mu>sa>, Ha>ru>n (114-128), Ilya>s (129-132) dan Lu>t} (133-137).
  5. Dalam QS. al-Anbiya>’ (21): 87-88, nama “z|a> an-nu>n” oleh para mufassir dipahami sebagai Nabi Yu>nus.[2] Dalam surat ini kisah Yu>nus juga berdampingan dengan kisah Nabi Mu>sa dan Ha>ru>n (48), Ibra>hi>m (51-71), Lu>t (71 & 74), Ish}a>q dan Ya’qu>b (72-73), Nu>h (76-77), Da>wud dan Sulayma>n (78-82), Ayyu>b (83-84), Isma>’i>l, Idri>s dan Z|u al-Kifli (85-86), Zakariyya> dan Yah}ya> (89-90) dan Marya>m (91).

Dalam Alkitab, yaitu dalam Kitab Perjanjian Lama, nama Yunus juga dijadikan sebagai salah satu nama surat. Surat ini secara khusus menceritakan kisah Yunus dalam 4 pasal dan 47 ayat (Pasal 1: 17 ayat, Pasal 2: 10 ayat, Pasal 3: 10 ayat dan Pasal 4: 10 ayat). Dalam surat lain, nama Yunus ditemukan dalam Kitab Raja-raja Pasal 14 ayat 25. Sementara dalam Perjanjian Baru, nama Yunus ditemukan dalam Matius Pasal 12 ayat 39-41, Pasal 16 ayat 17, Lukas Pasal 11 ayat 29, 30, 32.

Yu>nus bin Matta (Amitai dalam Alkitab) lahir di Gats Aifar (Gat Hefer dalam Alkitab), Palestina.[3] Diceritakan bahwa beliau pernah melakukan perjalanan menuju Yafa/Yafo, sebuah pelabuhan di Palestina waktu itu dengan tujuan tempat yang dinamai Tarsyisy, sebuah kota di sebelah barat Palestina.[4] Karena sebuah masalah, kemudian beliau diturunkan atau dilemparkan ketengah laut dan ditelan oleh ikan besar. Diperkirakan beliau diutus sekitar awal abad VIII SM, dan dikuburkan di Jaljun, sebuah desa yang terletak di antara al-Quds di Palestina dan al-Khali>l yang terletak di tepi barat laut mati. Sementara kaum Yu>nus hidup di kota Nainawa/Niniwe/Niniveh, salah satu kerajaan ‘A>syur yang terletak di tepi sebelah kiri dari sungai Tigris di Irak dan dibangun pada tahun 2229 SM.[5]

Perbandingan Teks Kisah Yu>nus dalam al-Qur’an dan Alkitab

Allah mengutus Yu>nus (al-Qur’an)

Sesungguhnya Yu>nus benar-benar salah seorang rasul QS. as-S}a>ffa>t (37): 139.

Yu>nus dikirim ke Niniwe (Alkitab)
P. Lama: Yunus: 1
1:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:
1:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”[6]

Yu>nus melarikan diri (al-Qur’an)

(Ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. QS. as-S}a>ffa>t (37): 140-141.

Yu>nus melarikan diri (Alkitab)
1:3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.
1:4 Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.
1:5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada Allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.
1:7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: “Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.” Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.
1:11 Bertanyalah mereka: “Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora.”
1:12 Sahutnya kepada mereka: “Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.”
1:15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.[7]

Yu>nus ditelan ikan (al-Qur’an)

Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. QS. as-S}a>ffa>t (37): 142.

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. QS. as-S}a>ffa>t (37): 143-144.

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman. QS. al-Anbiya>’ (21): 87-88.

Yu>nus dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam (Alkitab)
1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.
P. Lama: Yunus: 2
2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,
2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.
2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku
2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.”[8]

Yu>nus dilemparkan (al-Qur’an)

Kemudian kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. QS. as-S}a>ffa>t (37): 145.

Yu>nus dimuntahkan (Alkitab)
P. Lama: Yunus: 2
2:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Yu>nus diberi sejenis Labu (al-Qur’an)

Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. QS. as-S}a>ffa>t (37): 146.

Tumbuh pohon/tumbuh-tumbuhan yang merambat; Anggur; Jarak, kemudian layu (Alkitab)
P. Lama: Yunus: 4
4:1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.
4:6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.
4:7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.
4:8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.”
4:9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”
4:10 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.
4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”[9]

Yu>nus menyelamatkan sebuah kaum (al-Qur’an)

Dan kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu. QS. as-S}a>ffa>t (37): 147-148.

Yu>nus memperingatkan Niniwe (Alkitab)
P. Lama: Yunus: 3
3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:
3:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.”
3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.
3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”[10]
Niniwe diselamatkan (Alkitab)
3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.
3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.”
3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.
3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.[11]

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. QS. Yu>nus (10): 98.

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. QS. Yu>nus (10): 99-100.

Kesamaan dan Perbedaan Kisah Yu>nus dalam al-Qur’an dan Alkitab

Berdasarkan perbandingan kisah Yunus dalam al-Qur’an dan Alkitab diatas, dapat diambil beberapa poin kesamaan dan perbedaan di antara keduanya sebagaimana berikut:

  1. Kisah Yunus disebutkan dalam al-Qur’an dan Alkitab, keduanya juga menunjukkan kedudukan Yu>nus sebagai seorang utusan. Perbedaan diantara keduanya adalah bahwa al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa Yu>nus adalah seorang utusan, sementara Alkitab menunjukkan bahwa firman Tuhan pertama kali disampaikan kepada Yu>nus adalah perintah untuk berdakwah “menyeru” kepada sebuah kaum yang berada di kota Niniwe.
  2. Al-Qur’an dan Alkitab menggambarkan keengganan Yu>nus menerima perintah Tuhan, dimana Yu>nus berniat lari atau melarikan diri menggunakan kapal. Dalam hal ini Alkitab lebih detail menunjukkan perjalanan Yu>nus ke Yafa dan menaiki kapal untuk pergi menuju daerah yang bernama Tarsyisy.
  3. Al-Qur’an dan Alkitab menunjukan adanya “undian” di dalam kapal tersebut. Perbedaan diantara keduanya adalah al-Qur’an hanya menggambarkan kapal yang dinaiki Yu>nus penuh muatan, sementara Alkitab menggambarkan bahwa terjadi badai. Kemudian dilakukan undian untuk mengorbankan salah satu diantara penumpang dalam kapal.
  4. Al-Qur’an dan Alkitab mengisahkan bahwa Yu>nus pernah ditelan sebuah Ikan. Perbedaan di antara keduanya adalah dalam menjelaskan durasi waktu Yu>nus berada dalam ikan. Alkitab menyebutkannya secara lebih rinci selama tiga hari tiga malam, sementara al-Qur’an tidak.
  5. Ketika di dalam perut ikan tersebut al-Qur’an dan Alkitab menyebutkan bahwa Yu>nus menyesali sikapnya dan berdo’a kepada Tuhan. Hanya saja meteri do’a dalam kedua kitab tersebut berbeda.
  6. Al-Qur’an dan Alkitab menyebutkan bahwa Yu>nus keluar dari ikan tersebut. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Yu>nus dilemparkan pada sebuah daerah yang tandus dan dalam keadaan sakit. Sementara Alkitab hanya menjelaskan bahwa Yu>nus dimuntahkan pada sebuah daratan.
  7. Al-Qur’an dan Alkitab menyebutkan ditumbuhkannya sebuah pohon atau tumbuhan. Dalam al-Qur’an tumbuhan tersebut adalah sejenis Labu, sementara dalam Alkitab tumbuhan tersebut adalah pohon jarak yang kemudian layu karena dimakan ulat.
  8. Al-Qur’an dan Alkitab mengisahkan diutusnya Yu>nus kepada sebuah Kaum. Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah keluar dari perut ikan, Yu>nus kemudian diutus kepada sebuah kaum yang berjumlah seratus ribu lebih. Sementara Alkitab menjelaskan bahwa setelah dimuntahkan dari perut ikan Yu>nus mendapatkan firman yang kedua dari Tuhan dan diutus kepada sebuah kaum dikota Niniwe.
  9. Al-Qur’an dan Alkitab menunjukkan keimanan kaum. Al-Qur’an menggambarkan keimanan tersebut hingga waktu tertentu. Sementara Alkitab menguraikan keadaan setelah kaum Niniwe beriman, yaitu mengumumkan berpuasa (“Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.”), Raja atau penguasa turun singgasana, dan berbuat baik.

Komentar

Terlepas dari persoalan kebenaran cerita, tokoh dan waktu kisah-kisah tersebut, dari beberapa poin diatas nampak adanya beberapa kesamaan dan kesesuaian antara al-Qur’an dan Alkitab. Al-Qur’an menunjukkan karakteristiknya dimana tidak membicarakan kisah Yu>nus secara detail, meskipun ada beberapa beberapa yang disebutkan secara spesifik (Yu>nus diutus kepada seratus ribu orang, pohon dari jenis labu).

Dalam perspektif al-Qur’an sebagaimana disebutkan diatas, kisah-kisah tersebut pada umumnya tidak diceritakan secara detail. Namun oleh para mufassir (penafsir) khususnya generasi awal cerita-cerita tersebut diusahakan dijelaskan berdasarkan informasi-informasi yang dicurigai berasal dari kitab suci Yahudi atau Kristiani (baca: Isra>’iliyya>t). Dalam perkembangannya riwayat-riwayat Isra>’iliyya>t tersebut dapat dijadikan salah satu sumber dan instrument yang membantu penafsiran tentunya dengan melihat validitas riwayat-riwayat tersebut.

Pada umumnya kisah-kisah dalam al-Qur’an menceritakan tentang kisah umat-umat terdahulu, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, juga Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw.[12] Hal ini dimaksudkan untuk memotret dakwah mereka kepada umatnya, mu’jizat yang dimiliki, sikap orang-orang yang menentangnya, tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat yang diterima orang-orang yang menerima dan mendustakan. Sehingga melalui pengisahan kisah-kisah tersebut dapat ditarik pelajaran atau hikmah yang terkandung di dalamnya.[13]

Sebagaimana disebutkan, bahwa kisah Yu>nus selalu berdampingan dengan kisah-kisah Nabi yang lain. Senada dengan hal itu, QS. Yu>nus (10): 98-100 diatas merupakan rangkaian kisah terakhir yang dikisahkan dalam surat Yu>nus. Dalam beberapa ayat sebelumnya digambarkan umat Nu>h yang mendustakan peringatan Nu>h sehingga ditenggelamkan Allah melalui banjir (QS. Yu>nus (10): 71-73), kemudian kisah Fir’aun yang ditenggelamkan karena mendustakan ajaran Mu>sa> dan Ha>ru>n (QS. Yu>nus (10): 75-92). Kaum Nabi Yu>nus adalah kaum yang diselamatkan Allah dari azab yang akan datang karena kaum tersebut mengimani seruan Nabi Yu>nus, berbeda dengan kaum-kaum yang disebutkan sebelumnya.

Dengan melihat rangkaian ayat sebelumnya (QS. Yu>nus (10): 94-97):

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu. Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi. Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.[14]

Ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, sebagai ungkapan yang dapat meringankan beban atau tekanan yang dialami Nabi, karena terkadang beban ujian terasa sangat berat akibat perkataan atau perbuatan kaum musyrik yang tidak mempercayai Nabi dan al-Qur’an.

Selain sebagai “penghibur” atas beban yang dialami Nabi, penyebutan kisah-kisah dalam al-Qur’an juga bertujuan untuk memberikan harapan dan sugesti untuk membersihkan lingkungan “kaum yang dirujuk seperti kaum Nabi Nu>h, Mu>sa>, Yu>nus dan yang lain” dari perbuatan atau sesuatu yang melenceng dari garis-garis yang ditetapkan Allah; kemudian juga untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad saw, dan wahyu Allah yang diturunkan kepadanya adalah benar. Hal ini menurut Khalafullah juga ditunjukkan melalui adanya sisi kesamaan ajaran yang diterima Nabi Muhammad dan Rasul-rasul sebelumnya.[15]

Penutup

Sebagaimana diuraikan, perlu diakui bahwa kisah atau cerita Yu>nus terdapat dalam al-Qur’an dan Alkitab, termasuk alur cerita yang mirip diantara keduanya. Perbedaan mencolok dari keduanya adalah karakteristik dalam bercerita dimana Alkitab lebih detail menguraikan segala sesuatu yang berkaitan dengan cerita. Tentunya cerita Yu>nus juga kisah-kisah lain dalam al-Qur’an dan Alkitab memiliki konsekuensi teologis yang berbeda. Sayangnya penulis tidak mampu menguak implikasi cerita Yu>nus berdasarkan perspektif Kristen hingga penulis hanya sekilas mengungkap implikasi kisah tersebut dalam perspektif Islam.


[1] Muh}ammad Fu’a>d ‘Abdul Ba>qi>, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>z} al-Qur’a>n al-‘Az}i>m (Beirut: Da>r al-Fikr, 1981), hlm. 775.

[2] Lihat misalnya Fakhruddi>n ar-Ra>zi>, at-Tafsi>r al-Kabi>r aw Mafa>tih} al-Ghaib (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), Jilid 21-22, hlm. 184.

[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishba>h; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Jilid. 6, hlm. 163.

[4] Syauqi> Abu> Khali>l, At}las al-Qur’a>n; Ama>kin Aqwa>m A’la>m (Beirut: Da>r al-Fikr al-Mu’a>s}ir, 2003), hlm. 102.

[5] Syauqi> Abu> Khali>l, At}las al-Qur’a>n, hlm. 102.

[6] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1995), hlm. 1023.

[7] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab, hlm. 1023.

[8] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab, hlm. 1023-1024.

[9] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab, hlm. 1024-1025.

[10] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab, hlm. 1024.

[11] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab, hlm. 1024.

[12] Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>his| fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 300.

[13] Muhammad A. Khalafullah, al-Qur;an bukan Kitab Sejarah; Seni, Sastra dan Moralitas dalam Kisah-kisah al-Qur’an terj. Zuhairi Misrawi (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 330.

[14] QS. Yu>nus (10): 94-97.

[15] Muhammad A. Khalafullah, al-Qur;an bukan Kitab Sejarah, hlm. 334.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s