Anarki Epistemologi

Pendahuluan

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan keduanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang belum dan yang telah diketahui. Berfilsafat berarti jujur mengakui kebenaran yang mampu untuk dijangkau. Berfilsafat juga berarti mengoreksi diri dan mengakui bahwa tidak semua dapat dijangkau untuk diketahui.[1]

Setidaknya kutipan yang diambil dari tulisan Jujun S. Suriasumantri diatas kiranya sesuai untuk menunjukkan ke-awaman penulis dalam dunia filsafat, terlebih dalam upaya mengungkapkan pemikiran Paul Karl Feyerabend secara baik dan memadai. Satu hal yang menarik sosok seorang Feyerabend adalah keinginannya untuk membela kebebasan masyarakat termasuk dalam berpengetahuan dari otoritarianisme, kungkungan kekakuan pemikiran berikut segala bentuk ideologi yang telah melembaga dan melingkupinya.[2]

Beberapa poin yang dapat disampaikan dalam tulisan singkat ini adalah biografi, pemikiran dan kritiknya terhadap ilmu pengetahuan, beberapa solusi yang ditawarkan dan mungkin relevansinya dengan kajian keislaman berdasarkan kesesuaian-kesesuaian sejauh penangkapan penulis terhadap gambaran pemikiran Feyerabend, tentunya melalui keterbatasan bacaan yang diperoleh.

Sketsa Kehidupan & Pemikiran Paul Karl Feyerabend

Paul Karl Feyerabend lahir pada tahun 1924 di Wina, Austria. Tahun 1945 belajar seni suara, teater, dan sejarah teater pada Institute for Production of Theater, The Methodological Reform The German Theater di Weimar. Memperoleh gelar Ph.D. dalam bidang fisika dari Wina University dan kemudian mengajar di California University. Tahun 1953 menjadi pengajar di Bristol dan tahun-tahun berikutnya mengajar estetika, sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat di Austria, Jerman, Inggris, Selandia  Baru dan Amerika Serikat. Tahun 1958 menjadi guru besar di Universitas California di Berkeley hingga wafat pada tahun 1994.

Awalnya ia banyak dikenal sebagai seorang rasionalis. Ia percaya terhadap keunggulan ilmu pengetahuan yang memiliki hukum-hukum universal, berlaku dalam segala tindakan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Keyakinan rasionalitas tersebut tampak dari kiprahnya pada masa itu dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoritis (A Club for Salvation of Theoritical Physics). Keanggotaannya dalam kelompok tersebut melibatkannya dengan eksperimen-eksperimen ilmu alam dan sejarah perkembangan ilmu fisika. [3]

Dari sana ia melihat hubungan yang sesungguhnya antara eksperimen dan teori, dimana relasi itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan dan dijelaskan. Ia kemudian menyatakan diri sebagai seorang “anarkis” yang menentang penyelidikan terhadap aturan-aturan penggantian teori dan pembangunan kembali pemikiran rasional dari kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan. Gagasan tentang “apa saja boleh” dan sasaran dari kreativitas dalam ilmu pengetahuan adalah sebuah bentuk pengembangbiakan teori-teori. Terjadinya perubahan pemikiran Paul Karl Feyerabend setidaknya dipengaruhi oleh dua faktor penting. Yaitu karena adanya perkembangan baru dalam ilmu fisika, terutama fisika kuantum yang telah menolak beberapa patokan dasar fisika dengan prinsip-prinsip positivisme yang ketika itu dianggap modern (Newtonian). Selain itu juga sambutan dari para fisikawan/ filsuf terhadap teori mekanika kuantum yang dianggap sebagai dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Gagasan Popper, Thomas S. Kuhn, dan terutama Imre Lakatos sangat mempengaruhi pemikiran filsafatnya.[4]

Dalam bunga rampainya, salah satu tulisan yang berjudul “How to Defend Society Against Science” Feyerabend menegaskan motivasi utamanya untuk membebaskan atau setidaknya meminimalisir ideologi dalam berpengetahuan. Menurutnya ideologi harus dalam perspektif karena terkadang ia memiliki muatan dan kepentingan tertentu sehingga adakalanya ideologi harus diposisikan dan dibaca seperti cerita-cerita dongeng atau kebohongan (fairytales). Ilmu pengetahuan merupakan pilar utama yang berupaya mengembangkan kebebasan intelektual sesesorang dari pemikiran yang terlampau kaku dan kuno. Namun menjadi konyol ketika salah satu diantara produk ilmu pengetahuan tersebut menjadi kebenaran mutlak dan tunggal yang mengeliminasi produk-produk pemikiran lain yang tidak berkuasa atau diyakini pada umumnya (mainstream). Pada akhirnya Feyerabend berkesimpulan bahwa setiap ideologi yang berkuasa dan kemudian mempengaruhi “kebenaran” pada satu masyarakat atau komunitas tertentu tanpa check dan balances adalah sebuah tiran yang harus digulingkan.[5]

Puncak pemikiran Paul Karl Feyerabend tertuang dalam Against Method yang terbit pada tahun 1970, sebuah karya panjang yang pada tahun 1975 diolah lagi menjadi sebuah buku dengan judul yang sama. Terbitnya buku tersebut meraih antusiasme publik dengan adanya berbagai kontroversi, diskusi dan kritik dari para tokoh filsafat dan para ilmuan secara luas. Di dalamnya banyak dijelaskan bahwa antara sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan mempunyai keterkaitan timbal balik. Dijelaskan juga bahwa para ilmuan tidak bisa melepaskan diri dari latar belakang historis bagi hukum-hukum, hasil-hasil eksperimen, teknik-teknik matematis, parasangka-prasangka epistemologis dan sikap-sikap mereka terhadap akibat-akibat aneh dari teori-teori diterimanya. Selain itu, dalam Against Method diungkapkan juga upaya membuka berbagai model alternatif demi pembaharuan suatu ilmu.

Anarki Epistemologis

Secara etimologis, anarkisme berasal dari kata yunani (an archos) yang berarti tanpa pemerintahan. Anarkisme merupakan sebuah aliran dalam filsafat sosial yang menghendaki dihapuskannya negara atau pemerintahan termasuk kontrol politik dalam masyarakat. Aliran ini di dasarkan pada ajaran bahwa masyarakat yang ideal itu dapat mengatur urusannya sendiri tanpa mempergunakan kekuasaan yang berlawanan dengan paham sosialisme dan komunisme. Di antara tokoh-tokohnya adalah Gerard Winstanley (1609-1660), William Goldwin (1756-1836), Mikhail Bakunin (1814-1876) dan Peter Kropotkin (1842-1921).[6]

Dalam pengertian populer, kata “anarki” sering di gunakan untuk menunjukkan adanya kekacauan sosial dalam suatu negara. Konotasi posistif anarkisme, adalah ideologi sosial yang menolak pemerintahan yang otoriter. Aliran ini berpandangan bahwa individu-individu harus mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang disenangi, demi pemenuhan kebutuhan dan ideal-ideal mereka. Sementara konotasi negatif anarkisme adalah kepercayaan yang menyangkal untuk menghormati hukum atau peraturan apapun dan secara aktif melibatkan diri dalam promosi kekacauan melalui perusakan masyarakat. Aliran ini mengajarkan penggunaan terorisme individual sebagai sebuah alat untuk meningkatkan terjadinya disorganisasi sosial dan politik.[7]

Dengan demikian secara sederhana dapat dipahami bahwa anarkisme adalah ajaran yang menganjurkan dihapuskannya penguasaan politik dalam masyarakat. Negara dalam pendapat ini adalah musuh terbesar manusia, sehingga jika di singkirkan akan dapat menghilangkan kejahatan-kejahatan yang ada dalam kehidupan manusia. Jelasnya, anarkisme memimpikan kehidupan yang bersahaja dengan menekuni kegiatan sederhana dan mengisinya dengan kesenangan yang wajar.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, anarkisme diartikan sebagai “anarchy epistemological” (kesewenang-wenangan epistemologis) yang digunakan dan dipopulerkan oleh Paul Karl Feyerabend. Menurutnya, tidak ada ukuran-ukuran yang tetap untuk memisahkan atau membedakan antara sampah dengan teori yang dapat diamati. Term anarkisme dalam hal ini adalah anarkisme epistemologis yang dipertentangkan dengan anarkisme politis atau religius. Jika anarkisme politis anti terhadap kemapaan (kekuasaan, negara, institusi-institusi dan ideologi-ideologi yang menopangnya), maka anarkisme epistemologis justru tidak selalu memiliki loyalitas ataupun perlawanan yang jelas terhadap semua sistem dan struktur elit tersebut.[8]

Dalam wilayah epistemologi, anarkisme berusaha mempertahankan sekaligus menentang kemapanan. Hal itu dilakukan untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternatif. Anarkisme tersebut terkadang diartikan sebagai kesewenang-wenangan epistemologi, karena tidak adanya ukuran atau aturan yang pasti untuk menentukan  antara yang ilmiah dan non ilmiah. Dalam posisi seperti itu, anarkisme juga tidak bisa disebut skeptisisme. Jika skeptisisme berpendapat bahwa suatu pandangan bisa benar dan bisa salah atau bahkan bisa juga tidak ada penilaian berarti baginya, maka tidak demikian dengan halnya dengan anarkisme epistemologis.

Dalam perspektif ini, ilmu pengetahuan secara hakiki merupakan usaha yang anarkistik mutlak. Sejarah ilmu pengetahuan tidak hanya berisi fakta-fakta dan kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari fakta-fakta tersebut, akan tetapi juga berisi ide-ide, interpretasi terhadap fakta-fakta, masalah-masalah yang timbul dari kesalahan interpretasi, interpretasi yang bertentangan dan sebagainya. Sementara pada umumnya para ilmuan hanya meninjau fakta ilmu pengetahuah hanya dari dimensi ide, sehingga wajar jika sejarah dan ide-ide ilmu pengetahuan yang berkembang menjadi pelik, rancu dan penuh dengan kesalahan seperti pemikiran dari para penemunya.[9]

and my thesis is that anarchism helps to achieve progress in any one of the senses one cares to choose”.[10]

Hal tersebut yang kemudian digambarkan sebagai sakit epistemologis. Sehingga untuk mengembalikan eksistensinya pada koridor semula diperlukan prinsip anarkisme yang dapat membantu mencapai sebuah kemajuan dengan memilih salah satu pemikiran yang diminati secara lebih rasional, jelas dan bebas.

Kritik atas Ilmu Pengetahuan

Pada dasarnya pemikiran anarkisme epistemologi adalah suatu kritik terhadap perjalanan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah didominasi oleh sains positivistik. Paul Karl Feyerabend kemudian mengkritik ilmu dari dua sisi yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Anti metode (against method)

Kritik pertama disebut sebagai anti-metode (against method). Kritik ini berusaha (mendekonstruksi) format metode ilmu pengetahuan yang telah dibuat dan dipahami oleh para kaum positivistik dengan melakukan penyingkapan dan pembongkaran terhadap asumsi-asumsi beserta kesalahan dari teori-teori baku yang selama ini telah dikembangkannya.

Ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal, memiliki resistensi terhadap kritik yang tahan sepanjang masa serta dapat pula membawahi fakta dan penelitian, menurut Feyerabend tidak realistis. Hal ini karena kenyataannya ilmu pengetahuan hanya diambil dari pandangan sederhana atas dasar kemampuan seseorang dari lingkungan tertentu dan berusaha memaksakan hukum-hukum yang menghalangi berkembangnya kausalitas-kausalitas profesional dengan mempertaruhkan sifat kemanusiaan.

Menurutnya gagasan itu merusak dan menghambat laju perkembangan ilmu pengetahuan, karena mengabaikan adanya kompleksitas situasi fisik dan historis yang memungkinkan perubahan ilmu pengetahuan. Dengan menunjukkan bahwa sejarah ilmu pengetahuan itu selalu dipenuhi dengan pertentangan teori, Feyerabend juga menyangkal pandangan saintisme yang menganggap ilmu berada di atas segala aspek budaya lain sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan modern menghalangi kebebasan berpikir para ilmuan itu sendiri. [11]

Anti Ilmu Pengetahuan (against science)

Kritik yang kedua dinamakan dengan anti-ilmu pengetahuan (against science). Kritik ini secara lebih mendalam mencoba mengoreksi tentang praktek ilmiah, fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yang dianggap memiliki standar universal, melampaui batas-batas partikularitas dan relativitasnya.

Anti ilmu pengetahuan dalam hal ini tidak berarti anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang seringkali mengaburkan maksud dan tujuan utamanya. Ilmu pengetahuan menjadi pemikiran tunggal-mutlak karena adanya propaganda dari para ilmuan dan institusi terkait yang diberi wewenang untuk selalu mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat tentang hakikat ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan yang dianggap paling benar itu telah menguasai sistem kebenaran dunia ilmiah dan akan menjadi semacam ideologi yang menindas kebudayaan alternatif. [12]

Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan salah satu gagasan terbuka dan plural dari sekian banyak ideologi yang ada dalam masyarakat. Maka tidak wajar mendewa-dewakan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya pengetahuan yang paling unggul dan bahkan paling menentukan kehidupan masyarakat. Karena masalahnya terletak pada muatan ideologis dari komunitas para ilmuan dan pihak-pihak yang selalu berusaha menciderai kemurnian citra ilmu pengetahuan dengan kepentingan-kepentingan subyektif individual yang menyebabkan proses idealisasi ilmu pengetahuan yang sebenarnya mengalami stagnasi.

Beberapa Prosedur & Prinsip (bukan metode)

Sebagai ganti atas anti-metode (against method), terdapat beberapa prosedur yang ditawarkan oleh Paul Karl Feyerabend, diantaranya:

Counterinduction (Kontra-Induksi)

Prosedur kontra-induksi (counterinduction) dimaksudkan sebagai standar kritik dari luar yang sangat diperlukan demi kemajuan ilmu pengetahuan, karena sulitnya otokritik yang berasal dari dalam tubuh ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini bukan berarti mengganti seperangkat aturan-aturan dengan peraturan yang lain, tetapi tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa semua metode yang sudah jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. Sementara cara terbaik untuk menjelaskan ini adalah dengan menunjukkan batas-batas, irasionalitas dari beberapa aturan yang mungkin dianggap sebagai hal yang paling mendasar. Hal itu diungkapkan sebagai berikut:

My intention is not to replace one set of general ruler by another such set: my intention is, rather, to convince the reader that all methodologies, even the most obvious ones, have their limits and even the irrationality of some rules which she, or he, is likely to regard as basic.[13]

Hal ini berbeda dengan paradigma positivisme yang menganggap induksi sebagai metode yang paling valid, ataupun juga dengan induktivisme yang berpendapat bahwa batang tubuh ilmu pengetahuan ilmiah dibangun diatas prinsip induksi yang dasarnya cukup kuat. Ketika ditemukan fakta observasi dan eksperimen yang sesuai dengan teori, maka teori atau hukum diperkuat atau dikorborasi. Prinsip induksi berupaya mencari fakta yang mendukung dan menghindari fakta yang tidak sesuai dengan teori.

Kontra-induksi yang ditawarkan oleh Feyerabend itu adalah juga untuk mengatasi masalah kekurangan prinsip verivikasi atau falsifikasi yang sama-sama tidak menghendaki adanya fakta yang konsisten dengan teori.

Counterrule

Melalui kontra-induksi, dimunculkan juga istilah “counterrule,” yaitu memberikan hipotesis yang tidak konsisten dengan teori yang mapan atau dengan fakta yang tidak sesuai dan terukur. Hal ini berperan penting untuk menjembatani permasalahan teori dan fakta.

Meskipun demikian, hal ini tidak memerlukan pembelaan khusus karena tidak ada satupun teori yang selalu sesuai dengan semua fakta dan selalu dapat diketahui secara pasti dan meyakinkan. Oleh karena itu pertanyaan pokoknya bukan apakah teori-teori yang kontra-induktif ini harus diakui dalam ilmu pengetahuan atau tidak, tetapi apakah kesenjangan yang ada antara teori dan fakta harus diperbesar atau diperkecil.

Hal itu yang menurut Paul Karl Feyerabend, menjadikan kontra-induksi selalu masuk akal dan selalu mempunyai kemungkinan untuk berhasil (counterinduction is, therefore, always reasonable and it has always a chance of success).[14]

Sedangkan sebagai ganti atas anti-ilmu pengetahuan (against science), terdapat beberapa prinsip yang ditawarkan oleh Paul Karl Feyerabend, diantaranya:

Prinsip Pengembangbiakan (proliferation)

Secara harfiah berarti membiarkan semua berkembang sendiri. Maksudnya tidak bekerja dengan sistem pemikiran, bentuk-bentuk kehidupan dan kerangka institusional yang tunggal. Ini berarti bahwa prinsip pengembangbiakan juga menafikan adanya sistem otoritaranisme terhadap produk pemikiran manusia yang paling asurd sekalipun.

Prinsip pengembangbiakan ini merupakan realisasi kritik dari alternatif pemikiran Feyerabend yang bertujuan untuk mencapai tiga hal utama, yaitu: Pertama, memberikan model abstrak tentang kritik terhadap ilmu pengetahuan; Kedua, mengembangkan konsekuensi-konsekuensinya dan; Ketiga, membandingkan konsekuensi-konsekuensi itu dengan ilmu pengetahuan.

Berdasarkan yang ketiga, diharapkan bahwa perbandingan antara fenomena-fenomena sejarah dan pandangan epistemologis mampu memberikan kriteria penilaian yang holistik terhadap struktur aktual ilmu pengetahuan, sehingga akan terbentuk suatu basis bagi kritisisme dan reformasi ilmu pengetahuan.[15] Hal ini untuk memperlemah kesetiaan terhadap kemantapan suasana dengan menciptakan hal yang bertentangan dengan keadaan yang melarang kita untuk mengembangkan berbagai teori, terutama teori yang bertentangan dengan satu teori yang telah diterima secara umum.

Prinsip pengembangbiakan berusaha menemukan dan mengembangkan teori-teori yang tidak cocok dengan pandangan yang sudah lazim diterima. Dengan demikian, prinsip ini tidak hanya memungkinkan adanya penemuan-penemuan alternatif baru, tetapi juga membuka peluang bagi tampilnya kembali teori lama yang sudah tidak diakui lagi keberadaannya.

Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa prinsip pengembangbiakan ini bukan aturan metodologis, karena juga menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan itu tidak dapat diperoleh hanya dengan mengikuti teori tunggal, aturan atau metode apapun, melainkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam dan berbeda satu sama lain berkembang secara bebas.

Prinsip Apa Saja Boleh (anything goes)

Secara harfiah berarti membiarkan segala sesuatu berlangsung dan berjalan tanpa dijejali aturan-aturan dan hukum-hukum. Prinsip ini mengimplikasikan suatu perlawanan terhadap segala macam aturan atau hukum yang telah baku. Prinsip ini tidak dimaksudkan sebagai metode baru, melainkan sekedar upaya agar para ilmuan yang terbiasa menggunakan standar-standar universal untuk menerima tradisi-tradisi dan praktek-praktek riset.[16] Hal ini merupakan sebuah upaya menunjukkan bahwa semua metode yang paling jelas sekalipun memiliki keterbatasan. Dan satu-satunya hukum yang akan hidup terus dan dapat bertahan di tengah semua situasi dan dalam tahap perkembangan manusia adalah prinsip ini.

Gagasan mengenai adanya keteraturan metode atau rasionalitas teori ternyata banyak sekali menyisakan pandangan yang naif tentang manusia dan keadaan sosialnya. Untuk itu siapa yang melihat kekayaan bahan yang disediakan oleh sejarah, tetapi tidak sungguh-sungguh dalam menggarapnya pada giliranya akan mengurangi kepekaan nalurinya, dan mereka sangat membutuhkan jaminan kejelasan dari cendikiawan, ketelitian, objektivitas, kebenaran saja, sehingga menjadi jelas bahwa tidak ada satu pun prinsip yang dapat dipertahankan dalam semua keadaan seperti itu ataupun dalam semua tingkat perkembangan manusia.

Keterkaitan dalam Peta Keislaman

Dalam sejarah pemikiran Islam, dikenal adanya relasi kuasa (power relation) dalam perkembangan ilmu pengetahuan, baik yang merupakan tradisi adopsi dari dunia luar semisal Yunani dengan filsafatnya, ataupun tradisi Islam termasuk tradisi fiqih, kalam dan tafsir. Dukungan resmi pemerintahan terhadap satu disiplin ilmu atau madzhab tertentu memiliki implikasi negatif terhadap disiplin ilmu atau madzhab yang lain. Salah satu contoh adalah pada masa pemerintahan al-Makmun (Abbasiyah) yang menjadikan Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara, dalam hal ini karya-karya tafsir semisal “al-Kassya>f ‘an H}aqa>’iq al-Qur’a>n” karya Abu> al-Qa>sim Mah}mu>d Ibn ‘Umar az-Zamakhsyari> dianggap terjebak dalam arus menunjukkan “kepentingan” Mu’tazilah. Sementara berbagai corak ideologi penafsiran yang lain seperti Sunni dengan “Mafa>tih} al-Ghaib” karya Fakhr ad-Di>n ar-Ra>zi>, Syi’ah dengan “at-Tibya>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n” karya Muh}ammad Ibn al-H}asan at-T}usi> menjadi tersingkir bahkan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dianggap baku. Begitu juga dengan madzhab-madzhab fiqih, aliran-aliran tasawuf dan sebagainya.[17]

Dalam konteks Indonesia, keberadaan Majelis Ulama Indonesia MUI, sebuah lembaga yang berafiliasi dengan pemerintah dan beranggotakan tokoh-tokoh organisasi atau institusi yang dianggap mewakili mainstream umat Islam di Indonesia adalah sebuah sebuah gambaran yang juga menarik diketengahkan. Barangkali kehadirannya diharapkan mampu menjadi pemersatu, penengah, mengakomodir dan memberikan solosi bagi permasalahan-permasalahan kontemporer dan mendesak yang terjadi dalam masyarakat berdasarkan perspektif agama. Namun yang perlu diingat dan menjadi satu persoalan adalah ketika produk fatwa atau keputusan yang dihasilkan oleh lembaga ini dianggap sebagai kebenaran tunggal, mutlak dan harus dilaksanakan begitu adanya, sementara para perumus fatwa atau keputusan tersebut tidak lepas dari cara pandang, ideologi atau kepentingan tertentu yang secara sadar ataupun tidak telah mempengaruhi pemikiran mereka. Bahkan dalam beberapa kasus terlihat kesewenang-wenangan lembaga ini dengan menyatakan sekte-sekte dalam Islam yang memiliki kepercayaan dan ritual yang bukan mainstream semisal Ahmadiah sebagai sekte yang sesat. Putusan MUI ini tidak mampu mengakomodir permasalahan social-keagamaan dalam masyarakat  secara arif dan bijak sebagaimana diharapkan namun justru memancing resepsi massa yang cenderung bersikap anarkis dengan melakukan penganiayaan maupun pengrusakan terhadap anggota dan fasilitas peribadatan milik kelompok ini.

Barangkali situasi tersebut yang digambarkan Paul Karl Feyerabend untuk dikritik dengan anti ilmu pengetahuan (against science), dalam arti anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang menjadi pemikiran tunggal-mutlak karena adanya propaganda dari para ilmuan dan institusi terkait yang diberi wewenang untuk selalu mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat tentang hakikat ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan yang dianggap paling benar itu telah menguasai sistem kebenaran dunia ilmiah dan ideologi yang menindas kebudayaan alternatif.[18]

Selain itu, salah satu corak atau kecenderungan dalam tradisi penafsiran al-Qur’an adalah corak tafsir ilmi. Corak penafsiran yang berusaha menempatkan berbagai terminologi ilmiah berdasarkan ungkapan-ungkapan dalam ayat-ayat al-Qur’an, atau berusaha mendeduksi berbagai ilmu serta pandangan-pandangan filosofisnya dari ayat-ayat al-Qur’an,[19] ada juga yang mendefinisikan bahwa wilayahnya terbatas pada isyarat-isyarat kauniyah dalam ayat-ayat al-Qur’an.[20] T}ant}a>wi> Jauhari> dengan karyanya “al-Jawa>hir fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-Kari>m” merupakan salah satu karya fenomenal dimana banyak menuai kritik karena dinilai menyimpang dari prinsip-prinsip penafsiran dengan mengaitkan ayat-ayat al-Qur’an dengan “sains” Barat modern.

T}ant}a>wi> Jauhari> menyerang karya-karya tafsir pada umumnya dengan menunjukkan bahwa dalam al-Qur’an terdapat 750 ayat yang berbicara tentang berbagai ilmu pengetahuan, sementara hanya 150 ayat yang berbicara tentang fiqih secara jelas. Ia juga menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakannya terhadap teks al-Qur’an tidak lebih dibuat-buat daripada tafsir-tafsir yang menghasilkan produk-produk hukum (fiqih). Metode tafsir ilmi-nya tidak berbeda dari tafsir-tafsir hukum yang dilandasi sistem-sistem hukum dari peringatan-peringatan moral al-Qur’an yang bersifat samar-samar. Jika tafsir ilmi menyangkut hukum-hukum alam, maka tafsir hukum menyangkut persoalan hukum-hukum manusia. [21]

T}ant}a>wi> Jauhari> dengan karyanya tersebut meskipun tidak sama persis, barangkali senada dengan kritik pertama Paul Karl Feyerabend yang disebut sebagai anti-metode (against method). Meskipun penafsiran T}ant}a>wi> Jauhari> dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip universal dan baku penafsiran al-Qur’an, namun setidaknya T}ant}a>wi> menunjukkan prinsip pengembangbiakan (proliferation) dan prinsip apa saja boleh (anything goes) dalam kaca mata Paul Karl Feyerabend sebagaimana sekilas disebutkan di atas.

Penutup

Berdasarkan pembacaan sederhana diatas dapat ditarik sebuah pemahaman yang lebih sederhana bahwa motivasi utama Feyerabend adalah etika dan kebebasan setiap individu dalam berpengetahuan. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend disusun atas dasar protes terhadap proses pemapanan ilmu pengetahuan pada masa itu yang menempatkan dan merumuskan ilmu pengetahuan hanya berdasarkan satu atau beberapa metode tertentu. Dengan anarkisme epistemologi, Feyerabend mengembangkan sistem ilmu pengetahuan revolusioner yang menjadi suatu analisis alternatif untuk menginterpretasi melalui kritik anti-metode (Against Method) dan anti ilmu pengetahuan (Against Science) yang ditujukan untuk menemukan hakikat ilmu pengetahuan yang terkadang dianggap lebih unggul daripada pengetahuan lain.


[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002), hlm. 19.

[2] Paul Karl Feyerabend, “How to Defend Society Against Science” dalam Knowledge, Science and Relativism (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), hlm. 181.

[3] Prasetya T.W., “Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend,” dalam Tim Redaksi Drikarya, Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 48.

[4] Akhyar Yusuf Lubis, Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju, 200), hlm. 101-102.

[5] Paul Karl Feyerabend, “How to Defend Society…, hlm. 183.

[6] Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), hlm. 9-10.

[7] Pius A. Hartanto & M. Dahlan al Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 30.

[8] Ali Mudhofir, Kamus Istilah Filsafat (Yogyakarta: Liberty: 1992), hlm. 9.

[9] Prasetya T.W. “Anarkisme Pengtahuan, hlm. 54.

[10] Paul Karl Feyerabend, Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books, 1975), hlm. 18.

[11] Prasetya T.W. “Anarkisme Pengtahuan…, hlm 55.

[12] Prasetya T.W. “Anarkisme Pengetahuan…, hlm 58.

[13] Paul Karl Feyerabend, Against Method…, hlm. 23.

[14] Paul Karl Feyerabend, Against Method…, hlm. 23.

[15] Prasetya T.W. “Anarkisme Pengtahuan…, hlm 56.

[16] Prasetya T.W. “Anarkisme Pengtahuan…, hlm 57.

[17] Lihat Abdul Mstaqim, Pergeseran Epistemologi Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 61 & Madzahibut Tafsir; Peta Metodologi Penafsiran al-Qur’an Klasik hingga Kontemporer (Yogyakarta: Nun Pustaka, 2003), hlm. 81.

[18] Prasetya T.W. “Anarkisme Pengetahuan…, hlm 58.

[19] Muh}ammad H}usain az|-Z|ahabi, at-Tafsi>r  wa al-Mufassiru>n (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1976), Jilid II, hlm. 349.

[20] Kha>lid ‘Abdurrah}ma>n al-‘Akk, Us}u>l at-Tafsi>r wa Qawa>’iduh (Beirut: Da>r an-Nafa>’is, 1986), hlm. 217.

[21] Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>his| fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 360.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s