Asbab Wurud

Pendahuluan

Dalam tradisi ilmu hadis, untuk menentukan kualitas sebuah hadis diperlukan serangkaian penelitian, baik menggunakan metode atau kaidah yang digunakan untuk menentukan kualitas sanad maupun metode untuk menentukan kualitas matan. Hal ini dilakukan karena kualitas keduanya tidak selalu sejalan,[1] ada kalanya sanad-nya s}ah}i>h} akan tetapi matannya mardu>d. Dari langkah-langkah tersebut minimal akan diketahui proses penentuan kualitas hadis secara keseluruhan baik dilihat dari sanad dan matan meskipun hal itu tergolong ijtiha>di> (relative). Tidak berhenti disitu, jika dilihat secara seksama akan terlihat bahwa ungkapan, perilaku dan ketetapan Nabi saw, selain bersifat lokal dan temporal juga bersifat universal. Pemahaman terhadap berbagai peristiwa disekeliling beliau tersebut jika dihubungkan dengan latar belakang terjadinya maka ada yang harus diterapkan secara tekstual dan ada yang harus ditetapkan secara kontekstual pada masa sekarang.[2]

Dalam pada itu, adalah sebuah keniscayaan bahwa memahami sebuah hadis tidak cukup hanya melihat teks hadis namun juga perlu memperhatikan konteksnya karena tidak jarang ada hadis yang secara tekstual nampak bertentangan (mukhtalif) atau sulit dipahami (ghari>b). Nah ketika hadis itu memiliki asba>b wuru>d, setidaknya dapat diraba kepada siapa hadis itu disampaikan dan dalam kondisi sosio-kultural yang bagaimana Nabi menyampaikannya. Hal itu perlu dikaji untuk menangkap pesan moral di dalamnya. Tanpa memperhatikan konteks historisitas tersebut, terkadang akan ditemui kesulitan dalam menangkap dan memahami makna suatu hadis, bahkan dapat membawa ke dalam pemahaman yang barangkali kurang sesuai.

Persoalannya tidak semua hadis memiliki asba>b wuru>d secara integral atau built in dalam sebuah riwayat. Tulisan ini sekilas berupaya melakukan eksplorasi berkenaan dengan upaya alternatif memahami hadis yang tidak memiliki asba>b wuru>d dalam konteks yang seolah-olah hampa kultural tersebut berikut aplikasi sederhana.

Asbab al-Wurud, Konteks Mikro dan Makro

Secara etimologis, asba>b wuru>d merupakan susunan id}a>fah dari kata asba>b dan wuru>d. Kata asba>b adalah bentuk jamak dari kata sabab, yang berarti tali atau penghubung, yaitu segala sesuatu yang dapat menghubungkan kepada sesuatu yang lain, atau penyebab terjadinya sesuatu. Sedangkan kata wuru>d merupakan bentuk isim mas}dar dari kata waradayariduwuru>dan yang berarti datang atau sampai kepada sesuatu.[3] Beberapa definisi dalam diskursus ilmu hadis sebagaimana berikut:

Metode untuk menentukan maksud sebuah hadis yang bersifat umum, khusus, mutlaq, muqayyad dan juga menentukan ada atau tidaknya naskh (pembatalan) dalam sebuah hadis.[4]

Ilmu yang menjelaskan mengenai sebab-sebab atau zaman Nabi menuturkan sabdanya.[5]

Sesuatu (baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan) yang terjadi pada waktu hadis itu disampaikan Nabi saw.[6]

Secara sederhana dapat di pahami bahwa asba>b wuru>d merupakan latar belakang (background), sebab-sebab terjadinya atau konteks historisitas sebuah peristiwa, baik berupa peristiwa-peristiwa, pertanyaan-pertanyaan atau lainnya yang terjadi pada saat hadis itu di sampaikan oleh Nabi saw. Dalam pada itu, persoalannya adalah tidak semua hadis mempunyai asba>b wuru>d. Ada hadis yang mempunyai asba>b wuru>d secara khusus, tegas dan jelas, namun sebagian yang lain tidak.

Konteks historisitas sebuah peristiwa, baik berupa peristiwa-peristiwa, pertanyaan-pertanyaan atau lainnya yang terjadi, kemudian direkam dalam catatan-catatan yang pada umumnya terintegrasi dalam teks-teks hadis merupakan konteks dapat dipahami sebagai konteks yang melingkupi secara mikro (baca: asba>b wuru>d mikro), sementara informasi-informasi atau hadis yang tidak memiliki catatan-catatan yang merangkum dalam konteks apa dan bagaimana sebuah peristiwa dimana hadis itu muncul dapat dilacak dan dipahami dengan mempertimbangkan konteks historisitas yang lebih luas yaitu setting sosial dan cara pandang masyarakat arab secara umum pada masa itu (baca: asba>b wuru>d makro).

Nah, dalam upaya memahami pesan-pesan behind hadis yang tidak memilki asba>b wuru>d secara khusus, sebagai alternatifnya dapat menggunakan beberapa pendekatan alternatif yang secara sederhana dikemukakan pada poin berikutnya. Dengan demikian, mengetahui asba>b wuru>d bukan merupakan sebuah tujuan melainkan sebagai pisau analisis atau media  untuk memperoleh ketepatan makna dalam memahami pesan moral suatu hadis.

Faktor Nabi Bersabda

Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan latar belakang atau bagaimana sehingga Nabi, saw bersabda dan bersikap dipetakan sebagaimana berikut:

  1. al-bu’du al-mukha>t}ibi (faktor yang muncul dari pribadi Nabi saw, sebagai pembicara)
  2. al-bu’du al-mukha>t}abi (faktor yang berkaitan dengan kondisi orang yang diajak berbicara)
  3. al-bu’du az-zama>ni (aspek yang berkaitan dengan waktu atau masa di mana Nabi menyampaikan sabdanya)
  4. al-bu’du al-maka>ni (aspek yang berkaitan dengan tempat atau kondisi geografis di mana Nabi menyampaikan hadis).[7]

Urgensi

Setidaknya asba>b wuru>d memiliki beberapa fungsi sebagaimana berikut:

  1. Menentukan adanya takhsi>s} hadis yang masih bersifat umum
  2. Membatasi pengertian hadis yang masih mutlak
  3. Memperinci tafs}i>l hadis yang masih bersifat global
  4. Menentukan ada atau tidaknya naskh dan mansu>kh dalam suatu hadis
  5. Menjelaskan ‘illat atau sebab-sebab ditetapkannya suatu hukum
  6. Menjelaskan maksud hadis yang masih musykil (sulit dipahami).[8]

Selain itu, asba>b wuru>d merupakan alat bantu untuk memperoleh ketepatan makna sebuah hadis, karena sebagaimana sekilas diuraikan sebelumnya bahwa sebagai seorang utusan (Rasu>l), beliau juga seorang kepala Negara, panglima perang. Bahkan ia juga seorang manusia biasa yang memiliki keluarga sehingga ungkapan-ungkapan Nabi saw, ada yang harus dipahami secara universal maupun kasuistik, lokal, kultural dan juga temporal.

Macam

  1. asba>b wuru>d yang berupa ayat al-Qur’an (ayat al-Qur’an menjadi penyebab Nabi saw, menyampaikan sabdanya).
  2. asba>b wuru>d yang berupa hadis (kesulitan para sahabat memahami suatu hadis, menjadi penyebab munculnya hadis lain).
  3. asba>b wuru>d yang berkaitan dengan peristiwa yang di alami sahabat.[9]

Cara Mengetahui

  1. Riwayat hadis Nabi (s}ari>h & i>ma>’): Diperoleh melalui riwayat-riwayat yang secara integral merekam peristiwa, pertanyaan atau segala sesuatu yang melatarbelakangi ucapan atau sikap Nabi saw, baik secara tegas maupun tersirat.
  2. Informasi (aqwa>l) S}aha>bah: Riwayat-riwayat yang disandarkan pada s}aha>bah, mengingat mereka hidup, berinteraksi dan melihat sebagian besar peristiwa-peristiwa yang terjadi bersama Nabi saw.
  3. Ijtiha>d: Proses ijtiha>d pada umumnya dilakukan dengan melakukan takhri>j hadis, untuk mencari segala informasi terkait dengan tema yang dikaji.[10] Adakalanya asba>b wuru>d ditemukan dalam hadis yang berbeda periwayatnya. Dalam hal ini menurut hemat penulis proses tersebut masih dalam tahapan mikro. Sementara untuk mencapai konteks makro terlebih ketika sebuah riwayat memang sama sekali tidak memiliki catatan kultural dalam kondisi apa ia disampaikan, maka diperlukan penelitian lebih mendalam dan lebih luas terkait dengan kondisi sosial, kultural, ekonomi, politik masyarakat Arab pada waktu itu. Sehingga ucapan atau sikap Nabi saw, yang telah wafat 15 abad yang lalu akan mudah dipahami dan dikontekstualisasikan pada masa sekarang sesuai dengan semangat zaman namun tanpa mengurangi nilai-nilai profetik di dalamnya.

Dalam pada itu, beberapa pendekatan alternatif yang dapat digunakan sebagai alat bantu sebagaimana berikut:

  1. Melakukan pemahaman hadis dengan pendekatan historis, yaitu upaya memahami hadis dengan mempertimbangkan kondisi historis-empiris pada saat hadis di sampaikan Nabi saw.
  2. Pendekatan sosiologis, yaitu upaya memahami hadis dengan menyoroti dari sudut posisi manusia yang membawanya kepada perilaku itu.
  3. Pendekatan antropologis, yaitu upaya memahami hadis dengan memperhatikan pola-pola yang terbentuk pada tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan masyarakat.[11]

Menurut hemat penulis, penggunaan beberapa pendekatan tersebut kiranya juga dapat dikembangkan lebih lanjut menggunakan pendekatan psikologis untuk mengungkapkan aspek-aspek dari dalam diri manusia berkaitan dengan pengalaman dan lingkungannya, atau dengan pendekatan feminis untuk memotret hadis berdasarkan sudut pandang yang membela perempuan atau juga fenomenologis dan sebagainya.[12]

Tradisi ‘Aqi>qah, Aplikasi Sederhana

Sebagai upaya pemahaman aplikatif terhadap hadis menggunakan bantuan asba>b wuru>d, tulisan ini mengambil contoh tradisi ‘aqi>qah, yaitu penyembelihan hewan yang dilakukan ketika lahir seorang bayi. Tradisi ini telah ada pada masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, kemudian ada anggapan bahwa hal itu mendapat landasan teologis  dari Nabi saw, (baca: disunnahkan) sehingga secara berangsur-angsur setelah beliau wafat hingga sekarang tradisi tersebut tetap dilakukan oleh sebagian besar umat Islam di berbagai belahan dunia. Persoalanya adalah ketika teks keagamaan (baca: hadis) dalam hal ini  dipahami secara kaku bahwa setiap lahir seorang bayi harus dilakukan ‘aqi>qah, bahkan tidak hanya itu, mengenai jenis atau jumlah hewan yang digunakan terkadang dimaknai sebagaimana tertulis dalam teks. Dalam hal ini tentunya akan terjadi kerumitan tersendiri dimana kondisi ekonomi masyarakat atau kondisi geografis misanya, tidak selalu memungkinkan untuk melakukan hal itu. Tulisan ini berupaya mendemonstrasikan penggunaan jasa asba>b wuru>d sebagai salah satu instrumen dalam memahami hadis.

Terdapat dua versi hadits tentang jumlah kambing yang digunakan untuk ‘aqi>qah. Versi pertama menyatakan bahwa jumlah kambing ‘aqi>qah untuk anak laki-laki dan perempuan tidak sama, yaitu dua ekor untuk laki-laki dan satu ekor untuk perempuan. Versi kedua menyatakan bahwa jumlah kambing ‘aqi>qah untuk laki-laki dan perempuan bisa di samakan dengan satu kambing. Sekilas penelusuran dalam Mausu>’ah al-H}adi>s| as-Syari>f,[13] ditemukan 21 riwayat untuk versi pertama dan 2 riwayat untuk versi kedua. Dalam riwayat lain dari Ibn Abbas disebutkan bahwa Nabi melakukan ‘aqi>qah untuk kedua cucu beliau, masing-masing satu atau dua ekor ekor kambing gibas.

Dalam hal ini penulis tidak melakukan penelitian secara mendalam mengenai kualitas matan maupun transmisi sanad masing-masing riwayat (baca: validitas) tentang ‘aqi>qah sebagaimana lazim digunakan sebelum melakukan penilaian ataupun pemahaman terhadap isi atau informasi dalam sebuaha hadis. Namun setidaknya secara kuantitas memang harus diakui bahwa riwayat yang menunjukkan jumlah 2 kambing untuk bayi laki-laki dan 1 kambing untuk bayi perempuan lebih banyak dari riwayat-riwayat yang menunjukkan kesetaraan jumlah didalamnya. Dalam hal ini penulis hanya akan melakukan pembacaan terhadap beberapa kemungkinan alasan, latar belakang dan setting sosial masyarakat arab melalui berbagai riwayat tentang ‘aqi>qah tersebut.

2 (Laki-laki) : 1 (Perempuan)

No

Kitab Jumlah

Nomor

1 Sunan Abu> Da>wud 4 2451, 2452, 2453, 2459
2 Sunan at-Tirmi>z|i> 2 1433, 1435
3 Sunan an-Nasa>’i> 5 4141, 4144, 4145, 4146, 4147
4 Sunan Ibn Ma>jah 2 3153, 3154
5 Musnad Ah}mad 7 6426, 6530, 25892, 26103, 26106, 26107, 26300
6 Sunan ad-Da>rimi> 1 1884
Jumlah 21

Qa’nabiyy telah menceritakan kepada kami, Da>wud ibn Qays telah menceritakan kepada kami, dari ‘Umar ibn Syu’aib bahwa Rasu>lullah saw,.. dalam jalur lain, Muh}ammad ibn Sulaiman al-Anbariyy telah menceritakan kepada kami, Ya’ni> ibn ‘Amr dari Da>wud telah menceritakan kepada kami dari ‘Amr ibn Syu’aib dari Bapaknya, aku melihatnya dari Kakeknya, berkata: Nabi saw ditanyai tentang ‘aqi>qah, kemudian beliau menjawab:” “Allah tidak menyukai (perbuatan durhaka) ‘uqu>q, seakan-akan beliau tidak menyukai nama itu,” kemudian bersabda: “siapa yang dikaruniai anak dan menghendaki berbuat baik (nusuk) untuk anak tersebut, maka silahkan melakukan hal itu untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing yang sama, dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.”[14]

Telah menceritakan kepada kami Abu> Bakr ibn Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Affa>n, telah menceritakan kepada kami H}umma>d ibn Salamah, telah memberikan kabar kepada kami ‘Abdullah ibn ‘Us|ma>n ibn Khus|aim, dari Yu>suf ibn Ma>hak, dari H}afs}ah} bnt ‘Abdurrah}ma>n, dari ‘A>’isyah berkata: Rasulullah saw, memerintahkan kepada kami untuk menyembelih aqi>qah untuk anak laki-laki dengan dua kambing dan untuk anak perempuan satu kambing.[15]

Telah Menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Sufya>n, dari ‘Amr ibn Di>na>r, dari ‘At}a>’, dari H}abi>bah bnt Maysarah, dari Ummi Kurz al-Ka’biyyah berkata: “aku mendengar Rasu>lullah saw, bersabda:” “terhadap anak laki-laki dua kambing yang sama atau berdekatan dan terhadap anak perempuan satu kambing.”[16]

Melalui asba>b wuru>d yang terintegrasi dalam teks pertama diatas, dapat dipahami bahwa Nabi saw, ditanyai tentang persoalan ‘aqi>qah, terlihat dalam pembicaraan tersebut bahwa ungkapan Nabi saw, lebih merupakan sebuah himbauan atau anjuran dimana tradisi tersebut telah ada sebelumnya dan beliau tidak melarangnya. Berbeda ketika hanya melihat teks kedua yang diriwayatkan oleh‘A>’isyah atau teks ketiga tanpa melihat latar belakang bagaimana beliau memerintahkan untuk melakukan ‘aqi>qah tanpa alasan dan rasionalitas yang jelas.

1 (Laki-laki) : 1 (Perempuan)

No

Kitab Jumlah

Nomor

1 al-Muwat}t}a’ 2 948, 950
Jumlah 2

Telah menceritakan kepadaku dari Ma>lik, dari Hisya>m ibn ‘Urwah bahwa bapaknya, yaitu ‘Urwah ibn Zubair  menyembelih ‘aqi>qah untuk anak laki-lakinya satu kambing dan untuk anak perempuannya satu kambing.[17]

Melihat informasi atau riwayat diatas barangkali memang tidak berkaitan dengan perintah Nabi saw, berkaitan dengan tradisi ‘aqi>qah, karena disandarkan pada perilaku sahabat (mauqu>f). Namun melalui teks tersebut setidaknya dapat diraba bahwa pada masa itu tradisi ‘aqi>qah tidak dipahami secara kaku dengan jumlah perbandingan 2 kambing untuk bayi laki-laki dan 1 kambing untuk bayi perempuan sebagaimana pemetaan sebelumnya, akan tetapi dengan jumlah yang sama untuk laki-laki dan permpuan dengan 1 kambing.

1/2 (Laki-laki) : 1/2 (Perempuan)

No

Kitab

Jumlah

Nomor

1 Sunan Abu> Da>wud 1 2458
2 Sunan an-Nasa>’i> 1 4148
Jumlah 2

Telah menceritakan kepada kami, Abu> Ma’mar ‘Abdullah ibn ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Abul Waris|, telah menceritakan kepada kami Ayyu>b, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abba>s bahwa Rasulullah saw, menyembelih ‘aqi>qah untuk H}asan dan H}usain masing-masing satu kambing.[18]

Telah memberikan kabar kepada kami Ah}mad ibn H}afs} ibn ‘Abdullah, berkata: telah menceritakan kepadaku Bapakku, berkata: telah menceritakan kepadaku Ibra>hi>m, dia Ibn T}ahma>n, dari H}ajja>j ibn al-H}ajja>j, dari Qata>dah, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abba>s, berkata: Rasu>lullah saw, menyembelih hewan ‘aqi>qah untuk H}asan dan H}usain ra. masing-masing dengan dua ekor kambing.[19]

Begitu juga dengan dua teks hadis fi’li> diatas, terlepas dari kualitas transmisi sanad periwayatannya, terlihat Nabi saw, juga melakukan aqi>qah dengan menyembelih kambing untuk cucunya H}asan dan H}usain masing-masing satu kambing atau dalam teks kedua masing-masing dua kambing.

Melalui analisa sebagaimana sekilas diuraikan, dapat ditarik sebuah pemahaman sederhana bahwa tradisi menyembelih hewan untuk menyambut kelahiran bayi telah ada ada zaman jahiliah, sehingga disunnahkannya aqi>qah termasuk dalam masalah mu’a>malah yang dipengaruhi oleh budaya setempat. Disisi lain, masyarakat Arab waktu itu masih sangat patriarkhal, dimana hegemoni laki-laki sangat kuat. Sistem nilai yang berlaku waktu itu (sebelum Islam turun) juga masih sangat minor memandang perempuan. Perbandingan 2:1 merupakan konstruk sosial yang “hanya” layak pada waktu itu. Meskipun hal ini secara tekstual mendapatkan legitimasi teologis dari Nabi saw.[20]

Oleh karena itu, jumlah atau jenis hewan yang dijadikan aqi>qah kiranya bukan persoalan yang harus dipahami secara kaku. Tidak salah jika pada saat lahir anak perempuan, ada kelebihan harta dan kemudian beraqi>qah dengan dua ekor atau lebih. Atau ketika lahir anak laki-laki sementara kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk melaksanakan aqi>qah, diperbolehkan beraqi>qah dengan satu ekor kambing bahkan tidak beraqi>qah sama sekali. Poin penting atau semangat yang ditekankan dalam hadis-hadis tersebut barangkali adalah ideal moral yang terkandung di dalamnya, yaitu ungkapan rasa syukur  atas keselamatan bayi yang di anugerahkan oleh Allah swt.

Dengan demikian, aqi>qah bukan sebuah kewajiban mengikat karena bentuknya lebih kepada himbauan. Meskipun demikian, hal ini tetap di anjurkan bagi yang mampu dengan tujuan beribadah dan bersedekah.

Penutup

Menggunakan asba>b wuru>d sebagai salah satu instrumen, dalam konteks mikro maupun makro sangat diperlukan disamping instrumen dan metode lain dalam upaya menghindari kesalahpahaman dalam menangkap maksud dan pesan suatu hadis.


[1] Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 2007), hlm. 115.

[2] Syuhudi Ismail, Hadits Nabi yang Kontekstual dan Kontekstual (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 69.

[3] Abu> al-H}usain Ah}mad ibn Fari>s, Mu’jam Maqa>yis al-Lughah (Beirut: Da>r Ih}ya>’ at-Tura>s| al-‘Arabi>, 2001), 455 dan 1051.

[4] Jala>l ad-Di>n as-Suyu>t}i>, Asba>b Wuru>d al-H}adi>s| aw al-Luma’ fi> Asba>b al-H}adi>s, ditahqiq Yah}ya Isma>’i>l Ah}mad (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1984), hlm. 11.

[5] Hasbi ash Siddieqy, Pokok-pokok Ilmu Diroyah Hadits (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), Jilid II, hlm. 296.

[6] Jala>l ad-Di>n as-Suyu>t}i>, Asba>b Wuru>d al-H}adi>s|, hlm. 11.

[7] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadis Paradigma Interkoneksi; Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadis Nabi (Yogyakarta: Idea Press,2008), hlm. 31-32.

[8] Jala>l ad-Di>n as-Suyu>t}i>, Asba>b Wuru>d al-H}adi>s|, hlm. 11.

[9] Said Agil Husin Munawwar & Abdul Mustaqim, Asbabul Wurud; Studi Kritis Hadis Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 9.

[10] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadis, hlm. 38-41.

[11] Said Agil Husin Munawwar & Abdul Mustaqim, Asbabul Wurud, hlm. 26-28.

[12] Lebih lanjut lihat misalnya Peter Connolly (ed.), Aneka Pendekatan Studi Agama terj. Imam Khoiri (Yogyakarta: LkiS, 2009), hlm. 191, 63 & 105.

[13] Untuk memudahkan pencarian hadis, penulis menggunakan Program Mausu>’ah al-H}adi>s| as-Syari>f sebagaimana dituliskan dalam tabel , sedangkan teks hadis dikutip langsung dari sumber-sumber aslinya.

[14] Abu> Da>wu>d, Sunan Abu> Da>wu>d ditahqiq Sidqi> Muh}ammad Jami>l (Beirut: Da>r al-Fikr, 1994), Juz III. No. Hadis. 2842, hlm. 23.

[15] Ibn Ma>jah, Sunan al-Mus}tafa, diberi H}asyiyah oleh Muh}ammad ibn Abdul Ha>di (Beirut: Da>r al-Fikr, tt), No. Hadis. 3218,  hlm. 280

[16] Abu> Da>wu>d, Sunan Abu> Da>wu>d, No. Hadis. 2834,  hlm. 21.

[17] Ma>lik ibn Anas, al-Muwat}t}a’ dengan penomeran Muh}ammad Fu’a>d Abdul Ba>qi> (Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), Juz II, No. Hadis. 7, hlm. 501.

[18] Abu> Da>wu>d, Sunan Abu> Da>wu>d, No. Hadis. 2841,  hlm. 23.

[19] Mausu>’ah al-H}adi>s| as-Syari>f, Sunan an-Nasa>’i>, No. Hadis: 4148

[20] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadis, hlm. 124.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s