Mimpi

وأما الرؤيا فحقيقتها مطالعة النفس الناطقة في ذاتها الروحانية لمحة من صور الواقعات، فإنها عندما تكون روحانية تكون صورة الواقعات فيها موجودة بالفعل كما هو شأن الذوات الروحانية كلها، وتصير روحانية بأن تتجرد عن المواد الجسمانية والمدارك البدنية. وقد يقع لها ذلك لمحة بسبب النوم كما نذكر فتقتبس بها علم ما تتشوف إليه الأمور المستقبلة، وتعود به إلى مداركها. فإن كان ذلك الاقتباس ضعيفاً وغير جلي بالمحاكاة والمثال في الخيال لتخلصه فيحتاج من أجل هذه المحاكاة إلى التعبير. وقد يكون الاقتباس قوياً يستغنى فيه عن المحاكاة فلا يحتاج إلى تعبير لخلوصه من المثال والخيال. والسبب في وقوع هذه اللمحة للنفس أنها ذات روحانية بالقوة مستكملة بالبدن ومداركه حتى تصير ذاتها تعقلاً محضاً ويكمل وجودها بالفعل فتكون حينئذ ذاتاً روحانية مدركة بغير شيء من الآلات البدنية إلا أن نوعها في الروحانيات دون نوع الملائكة أهل الأفق الأعلى الذين لم يستكملوا ذواتهم بشيء من مدارك البدن ولا غيره. فهذا الاستعداد حاصل لها ما دامت في البدن. ومنه خاص كالذي للأولياء ومنه عام للبشر على العموم.

Hakikat mimpi adalah kesadaran jiwa rasional dalam esensi spiritualnya terhadap lintasan peristiwa. Apabila jiwa tersebut bersifat rohani maka gambaran peristiwa memiliki eksistensi aktual di dalamnya, seperti halnya esensi-esensi spiritual lainnya. Jiwa menjadi spiritual setelah membebaskan diri dari materi-materi jasmani dan unsur-unsur badani. Hal itu bisa dialami sekilas oleh jiwa melalui tidur. Melalui tidur, jiwa memperoleh pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa mendatang yang ia inginkan dan mendapatkan kembali persepsi-persepsi yang termasuk dengannya. Apabila proses ini lemah dan tidak jelas maka jiwa menggunakan gambar-gambar imajinasi dan alegoris terhadap hal itu untuk mendapatkan pengetahuan yang diinginkan. Alegori semacam itu memerlukan interpretasi. Sementara itu, apabila proses tersebut kuat, hal itu cukup dengan alegori sehingga tidak diperlukan interpretasi sebab proses tersebut bebas dari gambar-gambar imajinasi. Penyebab masuknya peristiwa dalam sekejap ke dalam jiwa ini karena jiwa merupakan esensi rohani secara potensial, yang dilengkapi dengan badan dan semua persepsinya. Sehingga, esensinya menjadi rasio murni dan esensinya secara faktual sempurna. Dengan demikian, jiwa merupakan esensi spiritual yang memiliki persepsi tanpa sedikitpun membutuhkan bantuan dari organ-organ tubuh. Hanya saja, di antara jenis-jenis esensi di dalam alam rohaniah, ia berada di bawah jenis esensi malaikat, yang menduduki kedudukan tinggi, dan tidak pernah membantu esensinya dengan persepsi jasmani atau yang lainnya. Potensi (untuk spiritualitas) ini dapat terjadi pada jiwa sepanjang ia berada di dalam badan. Ada jenis khusus potensi seperti yang dimiliki para wali, dan ada yang umum seperti pada manusia secara umum.

Dikutip dari: ‘Abdurrahman ibn Khaldun, “al-Muqaddimah as-Sadisah  –berbagai variasi tipe manusia yang memiliki persepsi supranatural, baik melalui pembawaan alami maupun melalui latihan, didahului oleh pembicaraan tentang wahyu dan mimpi–” dalam Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Tarikh al-‘Arab wa al-Barbar wa man ‘Asirahum min zawi as-Sya’n al-Akbar  tahq. Khalil Syuhadah (Beirut: Dar al-Fikr, 2001), jilid. 1, hlm. 128-129.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s