Sadar Pengaruh Sejarah

Wirkungsgeschichtliches Bewußtsein ist zunächst Bewußtsein der hermeneutischen Situation. Die Gewinnung des Bewußtseins einer Situation ist aber in jedem Falle eine Aufgabe von einer Schwierigkeit. (…) Die Situation stellt einen Standort dar, der die Sichtmöglichkeit beschränkt, in Form eines horizontes. (…) Eine Überlieferung verstehen, verlangt also gewiss historischen Horizont. Aber es kann sich nicht darum handeln, dass man diesen Horizont gewinnt, indem man sich in eine historische Situation versetzt. Mann muss vielmehr immer schon Horizont haben, um sich dergestalt in eine Situation versetzen zu könen.

Consciousness of being affected by history is primarily consciousness of the hermeneutical situation. To acquire an awareness of a situation is, however, always a task of peculiar difficulty. (…) We define the concept of “situation” by saying  that it represent a standpoint that limits the possibility of vision. Hence essential to the concept of situation is the concept of “horizon”. (…) Understanding tradition undoubtedly requires a historical horizon, then. But it is not the case that we acquire this horizon by transposing ourselves into a historical situation. Rather, we must always already have a horizon in order to be able to transpose ourselves into a situation.

Kesadaran keterpengaruhan oleh sejarah utamanya adalah kesadaran terhadap situasi hermeneutik. Namun, untuk mendapatkan suatu kesadaran terhadap suatu situasi, bagaimanapun, merupakan suatu tugas khusus yang sulit. (…) Kita merumuskan konsep tentang “situasi” dengan mengatakan bahwa ia merepresentsikan sebuah sudut pandang yang membatasi kemungkinan sebuah visi. Karena itu bagian esensial dari konsep situasi adalah konsep tentang horizon. (…) Kemudian memahami sebuah teks masa lalu tidak diragukan membutuhkan suatu horizon historis. Tetapi bukan berarti bahwa kita menemukan horizon ini dengan menempatkan diri dalam suatu situasi historis. Lebih dari itu, kita harus memiliki horizon agar mampu untuk menempatkan diri kita dalam suatu situasi.

Dikutip dari: Hans-Georg Gadamer, Wahrheit und Methode; Grundzüge einer philosophischen Hermeneutik (Tubingen: J.C.B. Mohr, 1990), hlm. 307-310, Truth and Method; Elements of a Philosophical Hermeneutics trans. Joel Weinsheimer & Donald G. Marshall (London: Continuum, 2004), hlm. 301-304 & Kebenaran dan Metode; Pengantar Filsafat Hermeneutika terj. Ahmad Sahidah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 363-367.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s