Meaningful Sense

The task of interpretation always poses itself when the meaning content of the printed work is disputable and it is the matter of attaining the correct understanding ‘of information’. However, this ‘information’ is not what the speaker or writer originally said, but he wanted to say to me if I have been his original interlocutor. It is something of a command for interpretation that the text must be followed, according to its meaningful sense (Sinnsgemäß) (and not literally). Accordingly we must say the text is not a given object, but a phase in the execution of the communicative event.

Tugas penafsiran itu selalu mengemuka ketika kandungan makna karya tulis itu diperdebatkan dan hal itu terkait dengan pencapaian pemahaman yang benar terhadap ‘informasi’. Namun, ‘informasi’ ini bukan apa yang secara orisinal diucapkan [dimaksud] oleh pembicara atau penulis, tetapi lebih dari itu, apa yang betul-betul ingin dikatakannya, yakni apa yang ingin dikatakannya kepadaku andaikata aku ini interlokutor orisinalnya. Informasi/makna yang dimaksud ini adalah suatu perintah penafsiran, sehingga teks harus diikuti menurut makna terdalam (meaningful sense/ Sinnesgemäß) [bukan apa yang dimaksud secara literal]. Atas dasar ini, kita harus mengatakan bahwa teks itu bukan obyek yang sebenarnya, tetapi merupakan fase dalam mengeksekusi peristiwa komunikatif.

Hans-Georg Gadamer, “Text and Interpretation,” in Brice R. Wachterhauser (ed.), Hermeneutics and Modern Philosophy (Albany: New York University Press, 1986), hlm. 393-396.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s