Islamic Short Course 2008

Materi  Islamic Short Course “Kajian Islam Komprehensif

Ramadhan bil Jami’ah  Masjid UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta 2008

31 Agustus – 14 September 2008 /  1 – 14 Ramadhan 1429 H

Islam Rahmatan li al-‘Alamin : Prof. Dr. H. Amin Abdullah, M.A

Kajian al-Qur’an Multidisipliner 1 & 2 : Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A

Tafsir al-Qur’an Kontekstual 1 & 2 : Dr. Nur Ichwan & Dr. Waryono Abd. Ghafur, M.Ag

Studi Hadits Nabi : Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag

Al-Hadits an-Nabawy li al-Hayah : Dr. Hamim Ilyas, M.A

Fiqih Praktis : Dr. KH. A. Malik Madani, M.A

Tasawwuf Positif : Dr. Saifan Nur

Sirah Nabi : Prof. Drs. Yudian Wahyudi AW, Ph.D

Epistemologi Islam : Drs. H. Rizal Mustansyir

Islam & Politik : Dr. Munawwar Ahmad

Islam & Sains-Teknologi : M. Anshari, BISS., MIT

Islam & Kebebasan Beragama : Prof. Dr. Munir Mulkhan, M.A

Konflik Pemikiran Imam Abu Hanifah & Imam Syafi’i, Melahirkan

Radikalisme & Liberalisme : Dr. Miftahurrohman Syarkun

Oleh :

Muhammad Nashrul Haqqi, S.Th.I

Session I

Islam Rahmatan li al-‘Alamin : Prof. Dr. H. Amin Abdullah, M.A

Mengawali studi sekaligus sebagai keynote speaker, Prof. Dr. H. Amin Abdullah melontarkan beberapa permasalahan berkaitan dengan inklusifitas Islam menghadapi perkembangan zaman. Diantaranya adalah bahwa inti core permasalahan inklusifitas tidak terletak hanya pada adanya perbedaan antara muslim dengan non-muslim, melainkan perbedaan antara  umat Islam satu dengan yang lain diberbagai belahan bumi ini baik sebagai mayoritas maupun minoritas. Hal itu terjadi karena pemahaman yang berbeda terhadap Islam.

Selanjutnya, Amin Abdullah memberikan gambaran dalam perspektif sosio-historis bahwa studi terhadap Islam yang termaktub dan ter-realisasi dalam produk fiqih, tasawwuf dst. terus bergerak dan mengalami perkembangan menyesuaikan zaman. hal ini menunjukkan bahwa sunnatullah tidak hanya termaktub dalam teks melainkan juga dalam pembacaan terhadap realitas alam dan kemanusiaan. Kemudian menggunakan konsep integrasi-interkoneksi yang menggunakan lima lapisan layer yang melingkupi al-Qur’an dan Sunnah dalam upaya menguak dan menyelaraskannya dengan zaman sehingga terbangun hubungan dialogis antara hadharah an-Nash, ‘Ilm dan Falsafah.

Session II

Kajian al-Qur’an Multidisipliner 1:

Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A

Linier dengan yang materi yang disampaikan sebelumnya, pada sesi ke-dua, Syahiron Syamsuddin mengawali diskusi lebih terfokus pada permasalahan Teks dengan menyampaikan hakikat, kandungan dan wilayah-wilayah dalam Teks (al-Qur’an) yang dapat di analisa sehingga mampu untuk menjawab tantangan modernitas. Lebih jauh menurutnya, al-Qur’an dikaitkan perkembangan ilmu pengetahuan (sosial dan humaniora), ekonomi, politik, hukum dst. karena al-Qur’an merupakan petunjuk hudan untuk manusia. Ia tidak berbicara secara terperinci mengenai segala sesuatu akan tetapi berbicara menggunakan bahasa simbol dan universal sehingga dapat dipahami dalam multii interpretasi.

Dalam mendekati al-Qur’an sekurang-kurangnya ada 4 [empat] proses, yaitu Pertama, kajian yang menempatkan teks al-Qur’an sebagai objek kajian dimana teks al-Qur’an diteliti dan di analisis dengan metode dan pendekatan tertentu, sehingga dapat ditemukan konsep-konsep tertentu dan gambaran-gambaran tentang teks itu sendiri. [dirasat ma fi nash fi nafsih]. Kedua, kajian yang menempatkan hal-hal diluar teks al-Qur’an, namun berkaitan erat dengan kemunculannya, sebagai objek kajian [dirasat ma hawla nash] seperti kajian asbab an-Nuzul, sejarah penulisan dan pengkodifikasian dst. Ketiga, kajian yang Menjadikan pemahaman terhadap teks al-Qur’an sebagai objek penelitian seperti penelitian terhadap penafsiran atau pemahaman seseorang terhadap al-Qur’an. Keempat, kajian yang memberikan perhatian terhadap Respons masyarakat terhadap teks al-Qur’an dan hasil penafsiran seseorang.

Session III

Kajian al-Qur’an Multidisipliner 2:

Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A

Al-Qur’an adalah wahyu Allah, petunjuk dalam bahasa simbol dan berisikan pesan-pesan yang bersifat universal shalih li-kulli zaman wa-makan, absolut dan mutlak kebenarannya. Al-Qur’an diturunkan sebagai bentuk dialektika dan respons terhadap kondisi dan situasi sosial, politik dan religius bangsa Arab pada masa itu, hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an tidak turun dalam ruang dan waktu kosong tanpa konteks. Nabi Muhammad saw. bukan hanya sebagai penerima pertama al-Qur’an, tetapi  juga sebagai penafsir pertama dimana kondisi dan situasi realitasnya telah jauh berbeda dengan realitas sekarang. Berdasarkan pemahaman tersebut maka adalah sebuah keniscayaan bahwa al-Qur’an selalu dapat dinterpretasikan sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam perjalanan sejarah, proses pemahaman terhadap al-Qur’an [tafsir], selain sebagai produk juga sebagai proses dimana antara teks, penafsir dan realitas selalu berhubungan. Hal ini dapat dilihat dari metode, corak, karakteristik dan kecenderungan produk tafsir yang selalu berkembang.

Dalam perjalanan pemahaman terhadap Teks al-Qur’an ini, Syahiron Syamsuddin memetakan tipologi Pembacaan al-Qur’an pada era kontemporar dalam 3 [tiga] kelompok besar. Pertama, Pandangan Quasi-objektifis tradisionalis. Secara garis besar kelompok ini hanya berusaha mencari makna asal dengan menggunakan “perangkat metodis ilmu tafsir klasik”. Dalam hal ini menurut mereka bahwa ajaran-ajaran al-Qur’an harus dipahami, ditafsirkan dan diaplikasikan pada masa kini, sebagaimana ia dipahami, ditafsirkan dan diaplikasikan pada situasi, dimana al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad dan disampaikn kepada generasi muslim awal. Kedua, Pandangan Subjektivis. Secara garis besar menurut kelompok ini, al-Qur’an boleh ditafsirkan seolah-oleh al-Qur’an baru saja turun sehingga pemahaman juga hanya pada konteks sekarang. Selain itu menurut mereka, al-Qur’an merupakan teks yang statis yang sampai kapanpun tidak bisa berubah. Namun pemahaman terhadap al-Qur’an selalu dinamis mengikuti zaman. Ketiga, pandangan Quasi-objektifis modernis. Secara garis kelompok ini hampir sama dengan kategorisasi yang pertama namun kemudian dalam upaya memahami al-Qur’an mereka tidak terpaku dan mengutamakan prinsip utama yang ingin disampaikan seperti yang dilakukan oleh kelompok pertama.

Session V

Tafsir al-Qur’an Kontekstual  2 : Dr. Waryono Abd. Ghafur, M.Ag

Banyak intelektual yang berusaha mendefinisikan apa sesungguhnya tafsir namun dari kesekian pengertian dapat ditarik benang merah bahwa tafsir adalah upaya menjelaskan maksud ayat al-Qur’an. Hal ini ditujukan untuk Memperjelas apa yang sulit dipahami dari ayat sehingga apa yang dikehendaki Allah dalam firman-Nya dapat dipahami dengan mudah, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan. Sasarannya adalah agar al-Qur’an sebagai hidayah Allah untuk manusia benar-benar berfungsi sebagaimana ia diturunkan, yaitu untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dalam perjalanannya, tafsir dilakukan karena beberapa alasan yaitu : Pertama, Dalam rangka menunjukkan keagungan pengarang, yakni Allah. Kedua, Adanya pengabaian terhadap hal-hal yang menjadi penyempurna dan syarat dalam memahami al-Qur’an. Al-Qur’an mempunyai konteks awal diturunkan dan dinamikanya yang intensif. Dan Ketiga, Setiap lafal dalam al-Qur’an mempunyai pelbagai macam makna. Namun menurut Waryono Abdul Ghafur, menafsirkan al-Qur’an bukan untuk mencapai kepastian, tetapi pencarian dan penggalian makna itu sesuai dengan kadar kemampuan manusia dengan berbagai keterbatasannya.

Nah, sebagai kelanjutan upaya-upaya diatas, seorang mufassir membutuhkan kemampuan ijtihad, meski tetap dalam bingkai biqadri thaqatil basyariyah. Dijelaskan bahwa seorang mufassir adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menguraikan atau mengomentari atau memberikan interpretasi terhadap al-Qur’an. Karena itu, untuk menjadi mufassir sungguhan/ideal harus memenuhi beberapa syarat, seperi penguasaan terhadap bahasa Arab dengan segala ilmunya, penguasaan ilmu-ilmu seperti ushul fiqh, tauhid, dll.

Session VI

Studi Hadits Nabi : Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag

Beralih pada wilayah Studi hadits, dalam hal ini bahwa memahami teks keagamaan diperlukan kehati-hatian serta ketelitian. Berbeda dengan kaidah-kaidah penafsiran dan pemahaman terhadap al-Qur’an, dalam memahami Hadits Nabi sebagai sumber ajaran islam yang kedua, di butuhkan metode dan pendekatan yang cukup rumit. Selain serentetan metodologi yang digunakan dalam penelitian sanad, juga diperlukan metodologi untuk meneliti kandungan matn tentunya setelah kualitas matan tersebut diketahui. Hadits Nabi lebih banyak disampaikan oleh periwayat satu kepada periwayat lain secara oral [lisan] oleh karena itu hadits Nabi lebih banyak yang diriwayatkan secara makna. Selain itu tidak semua hadits nabi menunjuk kepada sebuah pengertian yang jelas dan masih banyak hal lain sehingga sebuah hadits nabi tidak dapat dipahami secara sembrono. Dengan demikian dapat dipahami bahwa diperlukan metode yang secara khusus diproyeksikan untuk memahami matan hadits diantaranya adalah kajian Ma’ani al-Hadits

Mengawali diskusi, Abdul Mustaqim menjelaskan bahwa tidak semua hadits merupakan proposisi umum. Selain itu hadits muncul sebagai respons dan selalu didasari konteks sosio-historis. Kemudian sebagai upaya menjelaskan hadits nabi hingga mampu diaplikasikan dalam kehidupan sebagai bentuk dialektika dengan perkembangan zaman diperlukan adanya pendekatan historis, sosiologis dan antropologis. Ringkasnya, pendekatan historis diperlukan untuk mengungkap alasan baik keadaan historis, kultural dan politik pada saat itu sehingga Nabi bersabda atau melakukan hal demikian yang kemudian ter-rekam dalam teks-teks yang sampai kepada kita. Pendekatan sosiologis diperlukan untuk mengungkap atau mempelajari bagaimana dan mengapa, tingkah laku social yang berhubungan dengan ketentuan hadits sebagaimana kita lihat, apakah maksud dari itu semua sebagaimana yang tertulis dalam teks ataukah ada maksud lain dibalik rekaman teks tersebut. Sedangkan pendekatan antropologis memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku itu pada tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan masyarakat manusia. Sehingga pendekatan antropologis tersebut diharapkan dapat memotret apa yang terjadi dalam konteks masyarakat dimana Nabi hidup.

Session VII

Al-Hadits an-Nabawy li al-Hayah : Dr. Hamim Ilyas, M.A

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya bahwa hadits muncul sebagai respons dan selalu didasari konteks sosio-historis, Hamim Ilyas mengungkap lebih jauh bahwa terjadi akulturasi budaya arab pada masa itu dengan ruh Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa ajaran Islam Nabi banyak melakukan pendekatan budaya kepada masyarakatnya sebagaimana kita pahami dari konsep dakwah yang dilakukan oleh Walisongo di tanah Jawa. Maka tidak mengherankan jika banyak ditemukan hal-hal yang sebenarnya bukan merupakan tuntutan agama tetapi dipahami sebagai suatu keharusan yang wajib dilakukan atas nama mengikuti sunnah Nabi.

Disisi lain ajaran Nabi pada masa itu juga telah mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dimana Nabi mengapresiasi kaum-kaum yang tertindas dan termarjinalkan sehingga hal itu terekam dalam sejarah seperti penggunaan kerudung atau jilbab yang pada masa itu menunjukkan kewibawaan wanita berkelas. Nabi melakukan modifikasi budaya sehingga kerudung pada akhirnya dijadikan tanda bagi wanita muslim dan hal ini mengangkat martabat mereka. Bahkan kemudian sejarah tersebut dibakukan dalam konstruk fiqih atau hokum Islam bahwa adalah sebuah kewajiban bagi wanita muslim mengenakan jilbab.

Selain itu ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad juga menjunjung tinggi perkembangan kebudayaan, seni, ilmu dan teknologi. Namun menurut Hamim Ilyas ajaran-ajaran Nabi itu dalam perjalanan sejarah kemudian ter-reduksi hanya kepada aturan-aturan bagi umat Islam dalam berkehidupan [fiqih oriented] di satu sisi aturan-aturan tersebut membawa kemashlahatan magi umat Islam karena segala sesuatunya telah diatur. Namun di sisi lain terdapat kebuntuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan dst. yang sebenarnya diajarkan oleh Nabi.

Session VIII

Fiqih Praktis : Dr. KH. A. Malik Madani, M.A

Setelah beberapa perdebatan dalam upaya memahami al-Qur’an dan  Hadits Nabi sebagai sember ajaran Islam, secara singkat, Malik Madani mengungkapkan beberapa pemahaman terhadap fiqih yang dalam pemetaan Amin Abdulah tergolong sebagai aplikasi langsung dari al-Qur’an setelah melalui pendekatan atau metodologi pemahaman. Fiqih merupakan al-fahm pemahaman terhadap agama. Secara terminologis merupakan ilmu yang menelurkan hukum dan Syari’at.  Secara garis besar operasional fiqih adalah pada wilayah ibadah dan mu’amalah. Wilayah ibadah tentunya mengetur segala bentuk perbuatan yang nampak baik dalam kelompok masyarakat maupun perorangan.

Terkait dengan pemahaman al-Qur’an dan Hadits yang beragam maka karakteristik yang peling menonjol dalam fiqih adalah adanya keberagaman atau dalam bahasa fiqih disebut sebagai Ikhtilaf perbedaan pendapat mengenai penentuan suatu hukum atau aturan. Lebih lanjut, perbedaan tersebut dipetakan dalam dua bentuk yaitu, ikhtilaf yang bersifat kontradiktif tadhat perbedaan ini memang saling bertentangan sehingga tidak bisa dimediasi. Dan ikhtilaf yang bersifat tanawwu’ atau perbedaan yang tidak bertentangan namun lebih merupakan varian.

Beberapa yang perlu diingat adalah bahwa Nabi terkadang memang mengajarkan sesuatu dalam berbagai versi sehingga dalam perjalanannya ditemui pemahaman dalam beribadah yang sama-sama dari nabi namun berbeda bentuk atau pelaksanaan. Hal ini justru merupakan bukti kelenturan dan fleksibilitas Islam sehingga nabi mengajarkan sesuatu yang berbeda mengikuti situasi dan kondisi umatnya. Selain itu ikhtilaf atau perbedaan tidak harus serta merta dipahami sebagai sesuatu yang salah. Meskipun di satu sisi fiqih atau aturan yang bersifat yuridis memang dibutuhkan demi kemaslahatan bersama dan sebagai upaya menghindari chaos.

Session XII

Islam & Politik : Dr. Munawwar Ahmad

Dalam hal ini Munawwar Ahmad, secara singkat dan spesifik menyoroti sejarah keterkaitan Islam dan politik sejak masa awal datangnya Islam hingga dikerucutkan dalam kancah perpolitikan  di Indonesia. Berdasarkan sejarahnya, hubungan politik dan agama Islam dibuktikan telah terjadi sejak Nabi Muhammad hingga sekarang hal ini melihat aktivitas maupun intelektualisme Nabi dalam upaya penyebaran Islam. Nabi merupakan seorang panglima perang, kepala Negara dst. sehingga adalah kemustahilan jika Islam mampu eksis hingga sekarang, lengkap dengan peradaban yang dibangunnya tanpa kepiawaian Nabi dalam politik. Sejarah kekuasaan Islam tersebut terus berlanjut karena bukti kontinyuitas sejarah, dimana tampuk kepemimpinan sepeninggal Nabi terus bergulir. Bahkan meskipun konflik dan kepentingan politik terus berlarut-larut namun pergeseran dari model pemerintahan Khulafa’ Rasyidin hingga model ke-Khalifahan tetap berjalan. Hingga akhirnya berakhir pada ke-Khalifahan Abdul Majid II di Turki yang digulingkan oleh Kemal Pasha Attatruk pada tahun 1924.

Meskipun model kekhalifahan dalam Islam telah berakhir lama, namun pola-pola yang menunjukkan geliat dengan mainstream mendirikan selalu bergeliat. Sebagaimana iketahui bersama bahwa gerakan Ahmadiah, Hizbut Tahrir adalah salah satunya disamping banyak gerakan lain yang yang bertujuan kearah pembentukan khilafah meskipun tidak ditunjukkan secara terang-terangan dengan alasan politis.

Di Indonesia, bebarengan dengan penjajahan selama ratusan tahun, menempatkan ulama sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh dimasyarakat disamping itu ulama juga mampu berdiri sebagai motor penggerak masyarakat. Maka adalah logis jika terjadi keterpengaruhan ulama-ulama tersebut dengan gerakan-gerakan Islam di timur tengah dan  konsekuensinya adalah banyak tokoh-tokoh sentral yang membangun atau memprakarsai merdekanya Indonesia mengharapkan Islam sebagai dasar Negara ketika Indonesia Merdeka. Dapat dilihat bahwa dominasi partai-partai Islam selalu mendominasi perpolitikan Indonesia semenjak pemilu 1955 belum lagi ormas-ormas Islam yang selalu mendominasi pemerintahan. Maka singkatnya, hubungan politik dan agama merupakan causalitas msosial yang tidak bisa dihindari oleh keduanya, bahkan cenderung saling mempengaruhi. Di sisi lain gerakan Islam memiliki kecenderungan memakai politik sebagai instrument, strategi sekaligus ideology untuk kompetisi dalam kekuasaan.

Session XIV

Islam & Kebebasan Beragama : Prof. Dr. Munir Mulkhan, M.A

Mengenai kebebasan beragama terdapat beberapa pemahaman yaitu : kebebasan beragama dan tidak beragama, kebebasan memahami ajaran agama yg dipengaruhi status sosial, kerangka pikir dan rujukannya, kebebasan pindah atau keluar dari agama semula, kebebasan masuk ke dalam keyakinan agama dari agama lain.

Munir Mulkhan menunjukkan, ketika humanisme memaknai kebebasan beragama standar kebebasannya tidak merujuk kepada agama sebagai institusi dan ketika agama memaknai kebebasan ia menggunakan acuan internal agama masing-masing dan selalu tidak diterima oleh prinsip humanisme. Humanisme dianggap anti agama dan sebaliknya agama dapat dituduh anti kemanusiaan.

Kebebasan beragama dalam Islam mengandung tiga arti: Pertama, Islam memberikan kebebasan kepada umat beragama memeluk agamanya masing-masing tanpa ada ancaman dan tekanan. Tidak ada paksaan non-Muslim untuk memeluk agama Islam. Kedua, bila telah menjadi Muslim ia tidak sebebasnya mengganti agama, baik agamanya itu dipeluk sejak lahir maupun karena konversi. Ketiga, Islam memberi kebebasan pemeluknya menjalankan ajaran agamanya sepanjang tidak keluar dari garis-garis syariah dan aqidah.

Sedangkan Problem kebebasan beragamameliputi : Kebebasan beragama lebih berkaitan dengan problem sosial daripada teologi. Selain itu, dalam praktik, banyak kesulitan pemeluk suatu agama menerima kehadiran pemeluk agama lain, oleh berbagai sebab dan faktor. Diantaranya :

Faktor pertama, Ajaran agama yang formal yang pada umumnya disusun elite keagamaan ribuan tahun lalu lebih bersifat legalistis dengan standar baku yang terbatas. Kehidupan dunia seolah hanya dapat dibagi ke dalam dua ekstrim yaitu: benar-salah, halal-haram, setan-malaikat, musuh-sahabat, surga-neraka.

Faktor kedua, Tingkat religiusitas seorang pemeluk suatu agama leboh banyak diukur dari pemihakan yang standar, baku, dan terbatas tersebut. Semakin ia bersih dari singgungan atas yang salah atau batal, yang haram, setan, atau musuh maka semakin tinggi tingkat religiusnya atau kesalehannya.

Faktor ketiga, Pemeluk agama yang saleh, cenderung lebih memandang keterselesaian atau kesempurnaan suatu agama yang diyakininya ditandai oleh tidak diperlukannya pemikiran baru atau kritik atas ajaran agama yang disusun elite agama di masa lalu. Ajaran suatu agama dipandang sudah sempurna dan selesai, karena itu setipa pemikiran baru apalagi kritik atas ajaran yang sudah dibakukan bisa diartikan sebagai pelecehan atas kesucian ajaran agama yang diyakininya tersebut.

Faktor keempat, Pemeluk agama yang saleh, cenderung lebih memandang keterselesaian atau kesempurnaan suatu agama yang diyakininya ditandai oleh tidak diperlukannya pemikiran baru atau kritik atas ajaran agama yang disusun elite agama di masa lalu. Ajaran suatu agama dipandang sudah sempurna dan selesai, karena itu setipa pemikiran baru apalagi kritik atas ajaran yang sudah dibakukan bisa diartikan sebagai pelecehan atas kesucian ajaran agama yang diyakininya tersebut.

Session XV

Konflik Pemikiran Imam Abu Hanifah & Imam Syafi’i

Melahirkan Radikalisme & Liberalisme:

Dr. Miftahurrohman Syarkun

Miftahurrohman Syarkun, menjelaskan proses pergeseran ushul fiqih sejak masa Rasulullah hingga sekarang. Pada awalnya, sepeninggal Rasul muncul 2 [dua] gerakan yaitu : Pertama, kelompok Ibn Abbas yang melahirkan ibn al-Musayyab dst. hingga melahirkan Imam Malik. Secara geografis kelompok ini berada di Madinah. Kedua, kelompok Ibn Mas’ud yang melahirkan Imam Nakha’i dst. Hingga melahirkan Imam Abu Hanifah. Secara geografis kelompok ini berada di Madinah. Kedua kelompok tersebut sama-sama liberal namun kelompok Imam Malik cenderung lebih banyak proporsi menggunakan hadits sedangkan kelompok Abu Hanifah cenderung lebih banyak proporsi menggunakan rasio. Disanalah terjadi perdebatan panjang dalam manhaj al-Fikr dalam memproduksi hukum. Bahkan perdebatan tersebut berlangsung semenjak dinasti Umayyah hingga Abbasiyah. Perdebatan terus terjadi hingga akhirnya muncul Imam Syafi’i yang mencoba melakukan langkah kompromistik, namun akhirnya Syafi’i terjebak secara frontal dan justru melahirkan banyak pemerhati yang ikut menyanggah pendapat-pendapat syafi’i seperti al-Jasshash yang kemudian melahirkan Imam al-Ghazali dst.

Hal itu semua terjadi karena berbagai latar belakang yang sangat kompleks, diantaranya: latar belakang sejarah, kehidupan intelektual, etnik, politik dan perbedaan membangun metode atau Manhaj Istinbath. Kemudian perdebatan-perdebatan tersebut pada era 150 s/d 300 H. terafiliasi dalam madzhab-madzhab fiqih yaitu: Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hanbali dan Dawud al-Zahiri. Dilanjutkan pada era 300 s/d 650 H. dengan munculnya periode taqlid dengan gerakan pembukuan, abad kebangkitan dengan gerakan puritanisme yang melahirkan faham Wahabi dst. dan masa kontemporer yang memunculkan golongan kiri “Islam Liberal”, Islam Moderat dan golongan kanan “fundamentalis”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s